Ferdy dan Dizza yang baru jadian, sedang makan siang berdua di kantin. Ini pertama kalinya Dizza tidak makan bersama ganknya, walaupun masih merasa janggal dengan statusnya yang sekarang menjadi pacar Ferdy, mungkin lama kelamaan ia akan terbiasa. Sebenarnya ia risih dengan tatapan anak-anak yang sedang memperhatikan mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka punya mata untuk melihat bukan?
Anak-anak itu tidak menyangka bahwa Dizza jadian dengan Ferdy, karena yang mereka tahu Dizza sudah dekat lama dengan Vatar. Lagipula Dizza terkenal tidak mau pacaran, mereka beranggapan Dizza menerima Ferdy karena kasihan sudah sering ditolak. Dizza bukan tipe cewek yang gila popularitas hingga rela jadian dengan Ferdy yang sering gonta-ganti cewek. Dizza yang mereka kenal tidak seperti itu.
"Kamu kenapa? Kok duduknya nggak tenang gitu?" tanya Ferdy heran melihat gelagat Dizza yang aneh. Daritadi pacarnya itu hanya mengaduk-aduk kuah baksonya saja. Ia tampak tidak fokus pada objek di depannya, gelisah seperti orang yang sedang di kejar-kejar penagih hutang.
"Aku malu, anak-anak pada ngeliatin.." bisiknya pelan sambil melirik ke kanan dan ke kiri meja di sebelahnya. Anak-anak itu masih memperhatikan mereka.
Ferdi mengikuti arah lirikan Dizza, seketika orang yang memperhatikan mereka langsung tertunduk melihat tatapan tajam Ferdy. "Cuekin ajalah, nggak usah dipikirin. Dimakan dong bakso nya nanti keburu bel."
"Fer?" panggil Dizza. Matanya masih tertuju pada anak-anak yang kini sedang menggunjingnya. Entah apa yang mereka bicarakan, hingga salah satu dari mereka menatap benci pada Dizza. Apa ia punya masalah dengan anak itu? Masa sih? Kenal saja tidak..
"Iya? Kenapa sayang?" tanya Ferdy manja dengan memanggilnya sayang, Dizza tidak kaget lagi pada hal itu... Saat pendekatan pun Ferdy sudah memanggilnya sayang. Mungkin besok-besok ia akan memanggilnya mami papi. Dizza meringis membayangkannya.
"Kan kita udah pacaran nih.." Dizza menggantung kata-katanya, ia sebenarnya tidak enak mengatakannya. Tapi, kalau ia tidak membicarakannya sekarang ia khawatir nantinya Ferdy berbuat tidak senonoh terhadapnya. Ia hanya ingin berjaga-jaga sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Ferdy tersenyum sambil mengelus pelan punggung tangan Dizza. "Iya, terus kenapa sayang?"
"Hmm, aku mau kamu jangan salah sangka setelah kita pacaran kamu bisa memperlakukan aku seenaknya." Dizza sedikit memiringkan wajahnya untuk melihat ekspresi Ferdy, ia khawatir cowok itu akan tersinggung dengan ucapannya barusan.
"Maksud kamu?" tanya Ferdy bingung.
"Jangan sentuh aku ya, selain tangan. Cuma tangan." ujar Dizza sambil menunjukkan pergelangan tangan kirinya.
Ferdy terhenyak, heran dengan permintaan pacar barunya itu. "Yang bener aja, Diz? Apa enaknya pacaran begitu?"
"Kalo kamu nggak bisa menuhin itu, lebih baik kita putus sekarang." ucap Dizza sudah akan berdiri, namun Ferdy mencegahnya.
"Loh-loh bukan gitu maksudnya, maksud aku masa iya aku nggak boleh pegang yang lain? Kalo aku pengen belai kepala kamu gimana? Aku kan sayang sama kamu, Diz..." ujar Ferdy panik, baru beberapa jam yang lalu mereka jadian Dizza sudah minta putus. Sangat tidak lucu.
"Iya hanya dua area itu.. Selebihnya enggak bisa." jawab Dizza tegas, ia tidak mau terjadi tawar menawar antar mereka. Baginya, pacaran dan saling menyentuh dengan lawan jenis itu sudah berdosa. Maka, ia tidak mau mendorong dirinya lebih jauh lagi untuk berbuat maksiat.
Ferdy menghela napasnya. "Oke, kalo itu mau kamu.. Aku ikutin."
"Di agamaku pacaran itu nggak ada. Aku nggak kayak mantan-mantan kamu yang bisa ngelakuin apa aja. Tapi, tetep aku ngasih perhatian khusus cuma buat kamu..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Teen Fiction[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)