24. Confession

1.2K 270 30
                                        

Sudah seminggu sejak kejadian itu terjadi, Vatar pun sudah mengurangi kegiatannya untuk mengagumi Dizza dari jauh. Bahkan Vatar tak pernah melihat cewek itu di kelasnya atau makan siang di kantin bareng ganknya. Vatar kecewa dengan Dizza. Kevin pun heran dengan sikap Vatar yang mempunyai keberanian menghajar orang secara brutal. Vatar tidak pernah ikut tawuran atau perkelahian sebelumnya.

"Liat Dizza nggak?" tanya Vatar kepada gank cewek itu saat mereka sedang sarapan di kantin. Dia menyerah menahan rasa ingin tahunya setelah satu minggu bersikap masa bodoh. Ia rindu akan kehadiran Dizza.

"Loh, kan dia izin seminggu nggak masuk sekolah..." jawab Vania, karena bangkunya yang paling dekat dengan Vatar, ia berinisiatif untuk menjawab pertanyaan cowok itu.

"Dia nungguin kakaknya yang koma di rumah sakit.." tambah Arum yang sedang menambahkan sambal kacang ke dalam nasi uduknya. Mendengar jawaban itu, Vania menyikut lengan Arum. Vania melotot kepadanya. Arum kelepasan bicara. Ia menutup mulutnya yang tiba-tiba menganga bak kuda nil. Mungkin kalau itu bukan mulut miliknya ia akan menamparinya hingga berdarah.

"Kakak? Bukannya dia anak tunggal, ya?" tanya Vatar kebingungan, yang ia tahu selama ini ia hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya. Dizza pun tidak pernah bercerita kalau dia mempunyai kakak.

Kuartet itu saling berpandangan, melempar tatap agar salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Vatar. Melihat tak ada reaksi yang berarti dari teman-temannya, Lidya bangkit dari duduknya dan menarik kasar lengan baju Vatar.

"Ikut gue....."

Lidya mengajak Vatar ke taman sekolah yang sepi untuk membicarakan hal ini. Vatar terheran-heran dengan sikap tiba-tiba cewek berkaca mata ini.

"Apaan si Ya elo narik-narik gini..." protesnya risih, jengkel dengan tarikan tangan Lidya yang membuat baju seragamnya berantakan. Ditambah pula tatapan fansnya yang memperhatikan mereka berdua. Ia merasa seperti hewan qurban yang akan disembelih, ditarik secara paksa.

"Gue mau ngomong tapi gue harap elo jangan salah sangka, oke?" Lidya duduk di bangku taman yang sepi, suasana yang cocok untuk membicarakan rahasia yang Dizza sembunyikan selama ini dari Vatar.

"Iya... Apaan sih?" tanyanya tak sabaran, ia pun ikut-ikutan duduk di sebelah Lidya. Ia melihat Lidya sedang menghela napas dan menelan ludahnya tegang. Ia takut ada suatu hal mengerikan yang akan ia sampaikan.

"Sebenernya Riza yang lo kenal sebagai pacarnya itu kakak kandung Dizza, Tar..."

"Hahaha. Kakak ketemu gede?" Vatar tertawa sinis. Pertanyaan yang dia lemparkan seperti ledekan. Itu lelucon terpayah yang pernah ia dengar. Bibirnya melipir. Mengejek.

"Serius, Tar...."

"Alahh udah deh nggak usah bohong segala!" Vatar mengibaskan tangannya tak peduli, ia benci dibohongi. Ia tahu Lidya berkata begitu hanya untuk melindungi Riza. Ia heran banyak sekali orang yang pro pada cowok brengsek itu.

"Suerr Tar, gue nggak boong! Mereka sodaraan...." Lidya menaikkan dua jari tangannya sebagai sumpah. Matanya menatap Vatar lekat-lekat.

"S-seriusan lo? D-dia koma?" tanyanya sedikit berteriak tak percaya, ia sangsi pukulannya bisa menyebabkan orang koma. Vatar bangkit dari duduknya, namun sedetik kemudian ia duduk lagi untuk mendengarkan penjelasan Lidya lebih lanjut.

Lidya mengangguk. "Iya, di pukulin orang, kasian Tar..."

"Orangnya udah ketemu?" ujarnya menunduk, mulai merasa tak enak dan bersalah. Memejamkan matanya frustasi, sedikit pusing dengan fakta yang baru saja didengarnya.

Lidya menggeleng lemah. "Belum..."

"Gak perlu dicari lagi orangnya. Gue Ya! Gue yang mukulin Riza..." Vatar menunjuk dada dengan telunjuknya, menunjuk dirinya sendiri. Ia harus mengakuinya.

Rahasia Dizza [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang