26. Confession III

1K 232 29
                                        

Vatar datang malam itu seperti biasanya, tetap ramah, tetap tersenyum, dan yang paling Dizza suka dia tidak pernah lupa membawakan es kopi favoritnya. Dizza menikmatinya, menikmati es kopi dan menikmati kebersamaan dengan Vatar, karena hanya dengan dialah Dizza bisa sedikit melupakan dukanya.

"Helloooo? Za? Jangan bengong aja, nanti kesambet loh." Vatar tersenyum menyapanya, membawakan dua bungkus es kopi kesukaannya beserta roti selai kacang.

"Mikirin aku yah?" tambahnya lagi mulai kepedean, menaruh bungkusan itu di meja sebelah nakas. Aroma khas parfum Vatar menyeruak bahkan saat dia mulai memasuki ruangan wangi itu sudah mendahuluinya. Harum yang sedap sekali, sampai-sampai Dizza ingin mengisi penuh paru-parunya dengan wangi itu. Ia membuka jaketnya dan menaruh jaketnya di sandaran kursi. Senyumnya masih lebar seperti tadi.

"Iya Tar, aku mikirin kamu."

Vatar terhenyak, tidak biasanya Dizza berbicara mengenai dirinya terang-terangan.

Ha? Serius nih? Dizza mikirin gue? Anjayyy! Tanda-tanda dia udah mulai sukak ni sama gue.....

"Masa sih? Mikirin aku pas lagi pake baju atau topless? Hahahaha."

Vatar tertawa renyah, mencomot roti selainya dan duduk di sebelah Dizza. Mulut kurang ajar Vatar memang semakin hari semakin menjadi.

"Vatar!"

"Becanda Za, btw mikirin aku kenapa sih? Aku masih padamu kok." Vatar membuka plastik roti selainya dan melahapnya sekaligus. Pipinya menggembung karena mulutnya di isi roti sebesar itu. Jadi mirip ikan buntal.

"Vatar kamu kok becanda mulu si? Aku serius nih." Dizza tidak bisa lagi mentolerir gombalan Vatar, bukannya dia tidak suka digombali Vatar, tapi pipinya bisa-bisa memerah seperti kepiting rebus bila cowok ini terus-terusan menggombalinya.

"Iya, iya iya aku ikutan serius deh, jadi kenapa? Kenapa Za?"

"A-anu itu-" Dizza menggantung kata-katanya, menjalin jemari-jemarinya, ragu untuk mengatakan pertanyaan selanjutnya. Ia takut omongan Ferdy tadi hanya bualan semata.

"Hah? Anu nya siapa?" Vatar bertanya pura-pura bodoh, padahal jelas sekali bibirnya menahan tawa setelah dia mengucapkan pertanyaan barusan. Vatar memang sialan.

Dizza mendelik kesal. "Vatar!"

"Ya abis kamu ngomong separo-separo, aku kan gak bisa dibikin kepo!"

"Iya, iya sabar dong! Aku kan bingung mau ngomongnya gimana."

Wah ngomong apaan si? Kok dia jadi kayak orang salting. Duilehh bentar lagi cinta gue bakal bersambut nih. Alhamdulillah ya Allah engkau telah mengabulkan doa hambamu yang ganteng ini.

Vatar menegakkan punggungnya, bersiap untuk mendengarkan hal serius yang akan disampaikan Dizza. "Ngomong aja Za, aku siap kok dengerin kamu."

Dizza menggigit bibirnya. "Bener kamu yang mukulin Mas Riza?"

DHUERRR BLENGGG!!

Bagai bunyi atom yang menghancurkan kota Nagasaki dan Hiroshima, Vatar kaget luar biasa. Dia tidak menduga pertanyaan itu yang akan ditanyakan cewek dihadapannya. Kebenaran yang selama ini yang ia sembunyikan dan akan diungkapkan dalam waktu dekat ini malah sudah diketahui Dizza, entah siapa yang telah membocorkan info ini.

"K-kamu tau dari mana?" tanyanya setengah tidak percaya dengan pendengarannya yang menangkap informasi terlarang itu. Vatar menelan ludahnya panik.

"Jawab aja Tar, iya apa enggak?"

"Aku perlu tau siapa informan itu." Vatar bangkit dari duduknya, berdiri disamping meja. Tangannya ia jadikan penopang tubuhnya, kepalanya tertunduk ke bawah.

Rahasia Dizza [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang