Vatar berjalan menuruni tangga rumahnya, ia baru bisa tidur jam lima pagi. Ia tidak bisa memejamkan matanya, karena teringat kejadian semalam. Ia benci pada dirinya sendiri kenapa masih memikirkan perempuan yang sama sekali tidak memperdulikannya? Apakah ia di guna-guna? Atau mungkin ia perlu datang ke kiyai minta di rukyah?
Semalam tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Ferdy, Ferdy harus bersyukur akan hal itu... Dia bisa pulang dengan selamat berkat Kevin. Kalau Kevin tidak mengancamnya, mungkin Ferdy sudah berakhir di rumah sakit. Mereka bertiga pulang lebih dulu dari Dizza dan Ferdy. Dua orang itu masih mengobrol saat mereka meninggalkan restoran. Tidak ada yang aneh dari obrolan mereka, Vatar menutup rasa ingin tahunya malam itu.
Vatar menoleh ke kanan dan ke kiri, ia masih berdiri di pertengahan anak tangga. Sepi. Minggu pagi begini mamanya sedang senam, lalu siang hari pergi arisan. Ia sudah terbiasa kesepian, itu resiko anak tunggal. Vatar pun duduk di ujung anak tangga, ia menghela napasnya lalu menyandarkan kepalanya ke tembok. Siapapun akan menduga dalam kondisi seperti ini Vatar memiliki masalah. Iya, masalah... Masalah bagaimana melupakan orang yang dicintai.
Ah, ia teringat akan rencananya semalam. Hari ini ia akan memandikan Michael. Hampir saja ia lupa. Namun, ia juga tersadar bahwa dirinya juga belum mandi! Mana mungkin ia akan memandikan Michael sementara dirinya sendiri belum mandi. Konyol! Ia tidak mau didahului ayam sialan itu.
Setelah keluar dari kamar mandi Vatar dikejutkan oleh kehadiran dua sobatnya yang sudah tidur-tiduran di kasurnya. Kevin dan Dody memang sudah terbiasa masuk seenaknya tanpa izin. Tapi, tidak perlu di timing yang tidak tepat seperti sekarang kan? Lagipula, ia baru bertemu semalam dan pagi ini mereka sudah menemuinya lagi. Padahal setiap hari mereka bertemu di sekolah. Apakah mereka tidak bosan bertemu dengan orang yang itu-itu saja?
"Dod... Sebentar lagi kita bakal liat tontonan gratis nih."
"Maksud lo?" tanya Dody heran tanpa menatap Kevin, ia tidak tahu kalau Vatar sudah keluar kamar mandi. Dody melirik Kevin sekilas tanpa menghentikan kegiatannya membuka medsos. Dody sudah PW dengan tiga bantal yang menopang kepalanya.
Kevin menunjuk Vatar yang hanya mengenakan handuk di bagian bawah dan bertelanjang dada. Dody langsung mengerti ke arah mana pembicaraan Kevin.
"Ah, lo Vin.. Kan waktu kecil kita sering mandi bareng. Masih kepo aja lo sama 'punya' Vatar."
Kevin tertawa. "Itu kan dulu, Dod. Gue penasaran udah nyampe mana perkembangan punya Vatar."
"Istigfar, Vin.. Gue khawatir lo ada kelainan nih."
"Gue normal, tapi kalo menyangkut Vatar gue ngerasa kepo aja. Kalo punya lo si palingan juga nggak jauh beda sama gue."
"Dih, sotoy! Kayak pernah liat aja lo." ujar Dody sambil melempar bantal ke wajah Kevin. Kevin malah tertawa.
"Dikira-kira juga ketauan, Dod..." ledek Kevin lagi, lalu matanya beralih ke Vatar yang masih mematung di posisi semula. "Cepetan Tar buka!"
"Apaan si lo, Vin? Napsu amat."
Kevin mengangkat sebelah alisnya. "Mau gue bukain?"
"Dod? Temen lo lagi kenapa sih nih? Najisin banget..." Vatar berdecih seraya membuka lemari untuk mengambil pakaian. Ia masih memantau keadaan dengan waspada, perkataan Kevin tadi membuatnya was-was.
"Tau... PEA nya lagi kambuh, efek kurang belaian tuh."
Vatar tertawa. "Panggilin Lidya, Dod."
"Setan!" umpat Kevin marah, ia benci mendengar Vatar menyebut nama mantannya, Kevin melompat dari tempat tidur untuk menangkap Vatar. Vatar dengan lincah berlari menjauhi Kevin. Kevin bersumpah akan melepas handuk Vatar, Vatar harus membayar ucapannya karena menyebut nama Lidya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Ficção Adolescente[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)