55. MEMORIES! DO NOT OPEN!

853 221 56
                                        

Dizza pulang ke rumahnya dengan sejuta pertanyaan. Apakah Vatar marah dengannya hingga harus ke luar negeri? Sebenci itukah Vatar pada dirinya hingga pergi sejauh itu untuk menghindarinya? Dan apakah kotak ini pemberian darinya? Kira-kira apa isinya? Dan kenapa Vatar tidak memberikannya langsung?

Dizza mengamati kotak berwarna cokelat itu di kamar, ia belum berani membukanya. Ia menempelkan telinganya ke kotak tersebut. Ada bunyi sesuatu yang berdetik, ia khawatir isi kotak itu adalah bom. Karena panik, ia memanggil kakaknya yang sedang libur kerja. Untung saja kakaknya ada di rumah. Kalau tidak, ia harus meminta tolong siapa lagi untuk membuka kotak ini?

"Kamu jangan sembarangan nerima bingkisan. Kamu dapet ini dari mana?" tanya Riza setengah kesal seraya membawa kotak itu keluar rumah. Ia menaruhnya di tanah dan mengamatinya. Dizza baru sadar kalau ada tulisan MEMORIES! DO NOT OPEN! di tengah kotak tersebut. Apa maksudnya? Haruskah ia membukanya atau sebaiknya dibuang saja?

"Dari Vatar, Mas."

Riza tersenyum meledek. "Vatar ngasih sendiri ke kamu?"

"Enggak, tadi aku ke rumahnya dia udah pindah ke luar negeri. Ini yang ngasih satpam, katanya buat aku."

"Ke luar negeri? Negara mana? Ngapain?" tanya Riza heran.

"Amerika."

"Terus? Nggak balik lagi ke Indonesia?" tanya Riza lagi kepo. Dizza jadi kesal sendiri mendengar pertanyaan kakaknya yang seakan mengintrogasinya, padahal ia tidak tahu banyak penyebab perginya Vatar ke luar negeri.

"Nggak tau. Udah cepet urusin kotaknya, Mas. Aku takut itu bom."

"Nggak mungkinlah Vatar tega ngasih kamu bom."

Dizza meringis. "Ya bisa aja, Mas. Dia kan kadang kalap."

"Ngawur!"

Riza berjongkok dan mulai membuka kotak itu dengan menggunakan cutter. Pelan-pelan Riza mengintip isinya melalui celah bagian atas yang sedikit terbuka. Ternyata asal suara berdetik itu datang dari jam weker baru yang masih dibungkus plastik. Riza memberanikan diri memasukkan tangannya ke dalam kotak.

"Jam weker ini yang kamu kira bom. Nih!" Riza melempar jam itu ke tangan Dizza, refleks Dizza menangkapnya. Kakaknya itu memang sembrono, bagaimana kalau jam itu jatuh? Huh!

"Kok gambar patung marlion? Dia abis dari Singapura?" tanya Riza lagi tanpa menatap Dizza, ia sibuk menilik-nilik benda-benda lain yang ada di dalam kotak.

"Iya." jawab Dizza singkat, ia masih penasaran dengan isi kotak besar itu, tidak mungkin hanya berisi jam weker. Karena saat mengangkatnya tadi lumayan berat.

"Wah ada minyak wanginya. Terus ini apa ya? Kayak album foto." ujar Riza santai sambil membolak-balikkan album foto itu yang isinya adalah wajah Dizza semua! Ia malu dan salah tingkah.

"Udah, Mas. Karena ini bukan bom aku taro di kamar lagi ya?" potong Dizza sebelum kakaknya mengomentari isi kotak itu lebih lanjut. Sepertinya kotak ini berisi tentang kehidupannya. Dizza langsung merebut kotak itu dari kakaknya. Riza yang melihat kelakuan adiknya itu hanya keheranan.

Tadi minta tolong bukain. Giliran udah ditolongin, mau buka sendiri. Adik yang aneh.

Dizza buru-buru masuk kamar dan membuka kotaknya seorang diri. Ia tidak ingin kakaknya tahu tentang hal ini. Ia mulai membuka album foto yang lebih tepat disebut scrapbook. Halaman pertama ia melihat dirinya saat masih SMP, foto itu diambil dari jarak yang cukup jauh dan ia tidak menyadarinya. Vatar memberikan keterangan di pinggir foto itu dengan tulisan. Aku masih inget kamu, tapi kamu enggak inget aku.

Rahasia Dizza [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang