Vatar berteriak frustasi dan meninggalkan mereka yang masih mematung di tempat itu, sepertinya Vatar benar-benar kecewa dengan situasi sekarang. Entah apa yang akan ia lakukan bila ia mengetahui orang yang telah membocorkan rahasianya, bisa saja orang itu dihajar habis-habisan seperti yang dialami Riza. Cowok itu menakutkan bila ada sesuatu atau seseorang yang mengganggu kelangsungan hidupnya.
Kevin dan Dody tak kalah pusing menanggapi sikap Vatar yang uring-uringan sepanjang hari. Apalagi Kevin duduk sebangku dengan Vatar, cowok itu kenyang dengan curhatan yang membahas masalah itu lagi, itu lagi. Bukannya Kevin tidak suka dijadikan tempat curhat, hanya saja dia pusing bila terus-terusan membicarakan masalah yang sama. Dia butuh waktu untuk memikirkan bagaimana caranya untuk menyelesaikan masalah itu. Bukan hanya uring-uringan tidak jelas.
Sepulang sekolah komplotan itu beramai-ramai ke rumah sakit untuk menanyakan darimana Dizza tau berita itu, tanpa Vatar. Dia tidak mau diusir untuk kedua kalinya oleh cewek itu. Setibanya di sana mereka terkejut dengan kehadiran Ferdy yang sedang mengobrol dengan Dizza. Entah sejak kapan Dizza jadi akrab dengan Ferdy.
"Hai, Diz?" sapa Metha dari balik pintu. Membuka pintu agak lebar untuk memberikan jalan teman-temannya yang akan masuk.
"Eh ada Ferdy, ke sini sama siapa Fer?" tanya Metha sedikit cuek, sebenarnya dia hanya berbasa-basi dengan Ferdy. Kalau bisa, Metha pun berharap Ferdy enyah dari situ.
"Sendiri aja," jawab Ferdy sambil mengulaskan senyum terbaiknya pada Metha. Walaupun jomblo, Metha sepertinya tidak terpesona dengan senyum cowok itu. Ganteng si ganteng tapi playboy-nya naudzubillah.
Metha hanya mengangkat sebelah alisnya menanggapi jawaban Ferdy. Matanya kembali tertuju pada Dizza. "Gimana Diz kakak lo? Udah ada perkembangan?"
Dizza menggeleng lemah. "Belom, masih sama kayak kemarin-kemarin."
"Hemm, eh hari ini ada ulangan Biologi. Besok lo masuk sekolahkan? Sekolah dong! Tega lo bikin gue menjanda!" Arum memberi informasi, selain takut setan dia juga paling anti duduk sendiri. Pokoknya dalam hidupnya I hate alone lah.
"Hahahaha, lebayy Arum.." ledek Dody jahil. Semua pun ikut menertawakan Arum.
"Insya allah, besok mertua mas Riza gantiin aku disini. Jadi aku bisa sekolah."
Metha menganggukkan kepalanya lalu matanya beralih pada Ferdy lagi.
"Lo hari ini gak masuk sekolah Fer? Kok cepet banget udah nyampe sini? Udah pake baju bebas lagi." tanya Metha memperhatikan penampilan Ferdy dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aneh sekali, bahkan ia tidak memakai sepatu sekolah.
"Iya hari ini gue gak sekolah khusus nemenin Dizza."
"Oww baik banget looo.." ucap Metha sinis, Ferdy hanya manggut-manggut seraya beranjak dari duduknya.
"Hemmm, aku keluar sebentar ya Diz? Nanti aku balik lagi." ujar Ferdy, ia merasa teman-teman Dizza tidak menyukai keberadaannya di sana. Jadi lebih baik ia menyingkir sebelum diusir.
Dizza mengangguk, semua orang yang berada di ruangan itu tersenyum bahagia mendengar pamitnya Ferdy. Dengan begitu mereka bisa melancarkan misi mereka datang ke sini.
"Lo lagi kenapa sama Vatar Diz? Gue liat daritadi dia uring-uringan mulu di kelas?" tanya Kevin pura-pura tidak tahu. Seketika raut wajah Dizza berubah marah mendengar Kevin menyebut nama Vatar.
"Ternyata dia yang bikin kakakku jadi begini! Dia yang mukulin Mas Riza!"
Semua pura-pura mengatupkan mulutnya tak percaya, mereka sengaja melakukan itu agar Dizza mau memberi tahu siapa yang sudah membocorkan rahasia Vatar. Kalau Dizza tahu mereka menyebunyikan rahasia ini juga dari dia, bisa-bisa mereka ikutan dibenci. Makin sulit untuk mereka mengorek informasi dari Dizza.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Dizza [COMPLETED]
Novela Juvenil[1-69 PRIVATE STORY, FOLLOW FIRST TO READ FULL CHAPTER] Dizza Mazaya Azalea si cewek yang berprinsip tidak ingin pacaran, mengelabui cowok-cowok yang mengejarnya dengan berakting menjadikan kakak laki-lakinya sebagai pacarnya. Dizza membenci Vatar...
![Rahasia Dizza [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/94197555-64-k380572.jpg)