17. Dizza Cemburu?

1.5K 321 43
                                        

Di rumah Dizza, cewek itu sedang santai tidur-tiduran di kamarnya, hari minggu yang membosankan tanpa ada kakaknya yang kadang mengajaknya mengobrol di rumah. Mamanya hanya menggelengkan kepalanya melihat anak perawannya malas malasan dikasur.

"Diz, tolong bantuin Mama dong! Kamu lagi santai kan?"

"Bantuin apa Ma?"

"Nanti kan ada arisan, Mama kebagian suruh masak. Yuk ke dapur."

Dizza mengekori mamanya ke dapur, harum masakan memnyeruak di ruangan 5x4 meter itu, di meja sudah tersiap bahan-bahan untuk menghias kue.

"Mama lagi manggang kue?"

"Iya. Mama juga lagi masak rendang tolong di bolak balik ya takut gosong. Mama mau mandi dulu."

Dizza mengangguk, Mamanya pun pergi, Dizza mengambil spatula kayu untuk mengaduk rendang yang sudah mulai tak berair. Sebentar lagi bisa diangkat.

Sebenarnya Dizza tidak terlalu suka berada di dapur, bila empat tungku kompor di nyalakan bersamaan ruangan ini mendadak panas, persis seperti pemandian spa. Dizza mengelap peluhnya khawatir tetesannya jatuh ke dalam makanan.

"Diz, kuenya kayaknya udah mateng, tolong keluarin dari oven." Teriak Mamanya dari kamar mandi.

Dizza cepat-cepat mematikan kompor dan menaruh kuenya di meja makan agar cepat dingin, Dizza tidak sabar ingin menghiasnya, Mamanya sih tidak menyuruhnya, itu inisiatif dia sendiri. Dizza mencari white butter dan pewarna makanan warna warni di lemari kitchen set nya. Mengumpulkan dan menderetkannya rapi agar tak ada yang terlupa.

Dizza mencampur white butter dan macam-macam warna dalam wadah yang berbeda. Memotong pinggiran kue agar rata dan terlihat rapi. Memoleskan warna dasar butter ke seluruh permukaan kue, menaburkan keju mozarella, menghiasnya dengan campuran warna tadi berbentuk bunga dan hati, terakhir menyelipkan buah cherry diantaranya. Done!

"Ya ampuunnn Diz, kue Mama kamu apain? Kok jadi cantik gini, kayak kue ulang tahun." Teriak Mamanya histeris melihat perubahan mencolok makanannya. Dizza hanya senyum-senyum saja mendengarnya.

"Nanti kamu mau ikut arisan gak? Di rumah Vatar kok. Kalo kamu bosen ngobrol sama ibu-ibu, kamu ngobrol aja sama dia."

"Enggak deh Ma, aku mau di rumah aja."

"Kamu anak perawan di rumah aja, nanti gak laku lho."

"Mama ah!"Dizza berbalik sebal.

Dizza berniat tidak mau bangun kesiangan lagi besok, gengsi sama Vatar yang suka mencuri pemandangan langka versi dia. Rugi sekali bila terus-terusan hal itu terjadi. Mulai besok pagi Dizza akan menyalakan alarm bunyi blangwir dengan volume tertingginya. Tidak peduli nanti orang rumahnya terganggu dengan bunyi itu.

"Loh tumben Diz kamu udah bangun?"sapa Papanya yang sedang mengenakan kaos kakinya. Menatap takjub pada anak gadisnya.

"Malu Pah sama Vatar ke gap mulu gak pake jilbab."

"Oohh kamu masih punya malu? hehehe..."

"Papa ngaco deh ah..."

"Haha tapi itu bagus Diz, Vatar berhasil bikin kamu berubah."

"Gak ngaruh sama dia Pa, kemauan Dizza sendiri."

"Oh ya? Kenapa nggak berubah dari dulu? Kenapa juga harus malu sama Vatar?" Papanya meledeknya, pipi Dizza memanas.

"Papa apaan si.."

"Kamu suka ya sama Vatar?"

"Papa...!"

Rahasia Dizza [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang