03

354 61 22
                                        

(Milky Chance - Doing Good)

Author's note:

Hollaa!!! Wajib baca chapter ini... hihi :D Jangan lupa Comment dan Vote nya ya.. plus, nikmatin playlist-nya.. :) Thanks! -Hx

***

"Kau baru pulang?" seorang pria paruh baya duduk di sebuah kursi kayu yang mengarah ke perapian. Ruangannya tampak gelap, hanya api-api yang di perapian yang menerangi ruangan itu. Di dekatnya, terdapat sebuah meja kaca bundar dan kecil. Di atasnya terdapat sebotol wine dan sebuah gelas kaca.

"Ya, Tuan Frederick," ucap pria di belakangnya. Frederick berdiri menggunakan tongkat yang berada di samping kursinya. Ia berjalan pelan menuju pria di belakangnya.

"Ikuti aku ke meja kerjaku." Ia pun menepuk bahu pria tersebut. Pria itu pun mengikutinya dari belakang.

Para penjaga bertubuh besar berdiri tegap di depan pintu kerja Frederick. Saat Frederick datang, mereka pun membukakan pintu. Wajah mereka terlihat sangar. Terdapat beberapa bekas goresan luka di wajah mereka.

Frederick duduk di kursinya. Ia menyandarkan tongkatnya di dekat mejanya. Pria itu pun duduk di hadapan Frederick. Frederick lalu membuka sebuah dokumen yang terletak di atas mejanya. "Kau tahu siapa target selanjutnya?"

"Seorang pengusaha properti yang berada di Manchester. Jika aku membunuhnya, maka dunia akan gempar mendengarnya telah dibunuh," jawab pria itu santai.

"Tentu. Ia salah satu orang yang berpengaruh di dunia. Kali ini, bunuh ia di depan istrinya," ucap Frederick. Ia pun menyandar di kursinya.

"Bagaimana dengan anak-anaknya?" tanya pria itu.

"Biarkan mereka. Bawa dokumen ini. Kau akan membutuhkannya." Pria itu lalu mengambil dokumen yang diserahkan oleh Frederick. Ia pun membaca sekilas isi dokumen itu. Lalu, ia menutupnya dan segera pergi meninggalkan Frederick.

Saat hendak membuka pintu, Frederick memanggilnya. "Anakku, apa kau masih mengawasinya?"

Ia pun berbalik dan memandang Frederick. Tatapannya terlihat serius dan tegas. "Ya. Ia mulai mencariku."

"Bagaimana jika ia menemukanmu?"

"Aku akan melakukan apa yang harus ku lakukan."

Frederick mengangguk paham. Ia pun membiarkan pria yang telah dianggapnya 'anak' itu pergi. Frederick mengembuskan napasnya dengan kuat. Ia membuat rencana dan ia tahu apa yang ia harus lakukan.

***

"Baiklah, kita sudah sampai. Itu tempatnya." Arya menunjukkan salah satu rumah di sisi kirinya. John pun memakirkan mobil. Mereka pun segera keluar dari mobil. Arya menekan bel rumah terserbut. Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh jangkung keluar.

"Oh, hai Arya," sapanya. Arya pun memeluk pria itu. Mereka pun saling berpelukan.

"Hai, Ray." Mereka pun saling melepaskan pelukan. John dan Chloe saling bertatapan. Mereka terlihat bingung satu sama lain.

"Ini teman-temanku, John dan Chloe. John, Chloe, ini Ray. Hacker terhebat yang pernah ku jumpai." Ray pun menghampiri John dan Chloe. Mereka pun saling berjabat tangan dan berkenalan. lalu, Ray pun menyuruh mereka masuk.

Chloe begitu terkejut melihat isi rumah Ray yang sangat rapi dan bersih. Ia pikir seorang hacker sangat berantakan dan kotor. Namun, Ray berbeda. Ray mempersilahkan mereka duduk di sofa.

"Baiklah. Ada apa, Arya?"tanya Ray. Ia pun duduk di sebelah Arya. Arya pun mengeluarkan kertas hasil dari kertas bernoda darah itu. Ia memberikannya pada Ray.

YoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang