Author's note:
Bagaimana perasaan Ian dan Arya pasca pembunuhan terjadi? Wajib baca chapternya biar ga penasaran! Hihi ... Comment dan Votenya jangan lupa ya! Thanks :) -Hx
***
"Sialan!!!" Ian memekik histeris di kamarnya. Ia melemparkan tasnya frustasi ke sembarang arah. Ia lalu mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Kenapa? Kenapa Arya ada di sana!!!" pekiknya lagi. Wajahnya memerah karena emosi.
Ia begitu marah, marah dengan dirinya yang mengancam Arya. Ia marah karena membuat Arya ketakutan. Ia bahkan tak bisa melupakan sorot mata hijau Arya yang begitu ketakutan melihatnya. Ia juga melihat Arya bergetar dan bergidik ngeri. Ia marah akan dirinya.
"Ian, ada apa? Kau membuat para pelayan dan penjaga ketakutan melihatmu tiba." Frederick langsung masuk ke kamar Ian ketika mendengar amukan Ian yang penuh amarah. Ia sebenarnya juga merasa ketakutan melihat Ian seperti itu.
Ian menatap Frederick tajam. Aura pembunuhnya semakin menjadi-jadi. Sontak tubuh Frederick bergetar dan ngeri melihatnya. Ia lalu terbayang seperti melihat Albert marah, namun Ian lebih parah daripadanya.
Ian pun duduk di tepi ranjang. Ia sadar kalau dirinya mengamuk membuat orang-orang di sekitarnya begitu ketakutan. Tatapannya lalu berubah lemah. "Maafkan aku, Frederick."
Frederick mulai tenang saat melihat Ian perlahan tenang. Ia lalu mendekatkan dirinya pada Ian, dan duduk di sampingnya. Ia hanya diam, menunggu Ian menceritakan padanya alasan membuatnya mengamuk.
"Arya ada di sana. Ia menatapku takut. Tubuhnya begitu bergetar. Matanya, hal yang paling aku sukai, alih-alih berubah bukan seperti mata yang kukenal. Aku mengancamnya. Aku tak bisa memaafkan diriku."
Frederick seketika merasa kasihan pada Ian. Ia tahu kalau itu adalah hal terberat bagi Ian. Ia melihat Ian yang sedang memijit-mijit keningnya. Ia tahu persis kalau Ian akan sangat menyalahkan dirinya. Dia akan merasakan frustasi lagi, dia akan merasa terpuruk lagi, desah pikirannya.
"Ian, anakku, jangan menyalahkan dirimu. Tenanglah," desah Frederick.
"Bagaimana aku bisa tenang? Bagaimana aku bisa merasakan semuanya baik-baik saja? Sebentar lagi, aku akan kehilangan dirinya. Aku tak ingin dia pergi dariku. Tapi, melihat diriku yang seperti ini, dia sangat ketakutan. Bahkan, dia membenciku. Bagaimana aku bisa tenang?!" suara Ian mulai meninggi.
Frederick menghela napasnya perlahan. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ia benar-benar tak ingin Ian merasa terpuruk. Ia bahkan tahu kalau Ian tak pernah merasa siap akan hal itu. Memberitahu kebenaran tentang dirinya pada Arya. Ia sungguh takut kehilangan Arya, juga Arya akan membenci dirinya. Ia sangat mencintai Arya, dan cintanya begitu tulus.
Albert, Katherine, jika kalian melihat ini, tolong bantu aku! Tolong bantu Ian! Jangan biarkan dia jadi terpuruk! Oh, Tuhan, apa yang harus kuperbuat? Desah batin Frederick.
"Aku akan membiarkanmu tenang," ia pun melangkah keluar meninggalkan Ian untuk membiarkan dirinya tenang.
Frederick segera mengambil ponselnya. Ia lalu duduk di tepi ranjangnya.
"Hei, Dad. Ada apa?" suara Maverick terdengar begitu ceria.
"Mavey, kapan kau pulang?"
"Hm, lusa. Kenapa? Ada masalah?"
"Ian sudah mengirimkan mawar hitam pada Arya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Yours
Mystery / Thriller[COMPLETED] Arya Ports, seorang wartawan muda yang memiliki segudang prestasi disertai oleh sifat alamiahnya yang nekat dengan berusaha membongkar identitas seorang pembunuh psikopat di mana masyarakat Inggris dibuat resah oleh aksi pembunuhannya ya...
