Author's note:
Well, beloved readers! Finally update! :D Happy Reading.... Oh, ya, setelah aku mau tahu siapa sih yang kalian suka, Ian Bloodwood atau Alfonso Berto??? Yuk, di comment ya :))
-Hx
***
"Tuan Vilmer. Sebaiknya Anda pikirkan hal ini matang-matang. Walaupun sebagian besar dari kami sudah menandatangani petisi ini, sebagian dari kami juga tak ingin terlibat dalam urusan yang akan merugikan ini, yang dampaknya akan membuat perusahaan kami hancur." ungkap seorang wanita berkacamata serius. Namun, Lucas hanya tertawa geli menanggapinya.
"Sudahlah, Nyonya Carly. Dia bisa apa jika kita semua setuju menandatangani petisi ini untuk membuat perusahaannya mundur secara paksa." kekeh Lucas. Ia lalu menghela napasnya.
Tiba-tiba, seorang pria yang tampak seusianya berdiri dan mengambil tasnya. "Aku tidak ingin ikut dalam hal ini, Vilmer. Cukup sudah, aku tak ingin kehilangan perusahaanku. Kau sudah gila, Vilmer. Kalau kau ingin perusahaanmu seperti perusahaannya, lebih baik kau tempuh jalan persaingan yang sehat, bukannya malah mempertaruhkan perusahaanmu dan yang lainnya. Aku permisi dulu." Pria itu lalu keluar dari ruangan pertemuan. Yang lain hanya bisa diam dan melihat pria itu keluar. Lucas hanya melirik pria tersebut pergi dan hilang dari hadapannya.
"Ada lagi yang ingin keluar?" tanya Lucas serius, namun malah keheningan yang menjawabnya. Tiba-tiba, sekretarisnya masuk dan menghampirinya, membisikkan sesuatu. Seketika wajah Lucas menjadi pucat, jantungnya berdebar kuat.
"Aku dengar ada pertemuan di perusahaanmu, Lucas Vilmer." Ian lalu masuk dengan gagah, tak lupa memancarkan aura yang membuat seisi ruangan bergidik ngeri terhadapnya. Ia adalah mimpi buruk bagi para CEO dan investor lainnya.
Lucas sontak berdiri. Dasar! Pria sialan itu datang! Maki batinnya. Ia lalu tersenyum kecut dan menghampiri Ian. Ia merasakan langkahnya goyah dan sekujur tubuhnya bergetar. "Selamat datang, Tuan Bloodwood." Saat ia hendak mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Ian hanya membalasnya dengan senyum sinis.
Ian lalu berjalan menuju kursi tempat Lucas duduk tadi, disusul oleh asistennya. Ian pun menatap tajam orang-orang yang melihatnya dengan ketakutan dan pucat. Ia seketika menyeringai, "langsung ke inti, aku kasih kalian dua pilihan. Batalkan petisi itu dan kalian selamat dariku, atau siap-siap sehelai benang pun takkan ada menyelimuti tubuh kalian juga keluarga kalian. Aku sedang tidak mengancam."
Semua mata membelalak dan ketakutan setengah mati. Mereka tampak kocar-kacir dan berdiskusi satu sama lainnya, namun tidak dengan Lucas yang berdiri mematung. Sial! Aku tidak akan pernah menang darinya! Pekik batinnya. "Kau tak mungkin bisa melakukan ini, Ian!" pekik Lucas, dan semua orang berhenti menatapnya, namun tidak dengan Ian.
Ian tertawa kecil mendengarnya. Ia lalu memutar kursinya, dan menatap jijik Lucas yang terlihat pucat, juga matanya memancarkan ketakutan. "Aku bisa, Lucas. Aku sering melakukannya sebelumnya."
"Dasar kau, Ian! Kau bajingan tengik! Atau aku..."
"Atau kau apa?" dengan cepat Ian memotong ucapan Lucas.
"Atau Arya akan kurebut darimu! Secara teknis, kau yang merebutnya dariku. Asal kau tahu, aku pernah mengencani dia sebelum kau." akhirnya, Lucas bisa tersenyum senang.
Seketika, air muka Ian berubah. Ia lalu menatap Lucas dengan tatapan pembunuhnya, juga aura pembunuhnya keluar. Ian bangkit dan melangkah dengan cepat, dan mencengkeram kerah kemeja Lucas. Spontan, semua orang bangkit dan tak percaya dengan apa yang barusan Lucas ucap. Tak ada yang berani menyentuh Ian saat ia sedang marah. Mereka semua malah ketakutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Yours
Mystery / Thriller[COMPLETED] Arya Ports, seorang wartawan muda yang memiliki segudang prestasi disertai oleh sifat alamiahnya yang nekat dengan berusaha membongkar identitas seorang pembunuh psikopat di mana masyarakat Inggris dibuat resah oleh aksi pembunuhannya ya...
