12

246 35 13
                                        

(Shawn Mendes - Stiches)

Author's note:

Haiii!! Wajib baca bagi yang penasaran dan kepo ... hihi :D Love ya, and happy reading! Thanks! -Hx

***

"Apa kau sudah menyiapkan pakaian dan laptopmu?" tanya Arya. Ia tengah berbaring sembari menunggu Ray memberes-bereskan barang-barangnya yang akan ia bawa ke apartemen Arya.

Ray lalu mendesah. "Setidaknya, kau bantu aku mengemas barang-barangku daripada kau tidur-tiduran di ranjangku, Arya." jawab Ray setengah kesal sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.

Arya sontak tertawa. Ia lalu meregangkan tubuhnya. "Kau kan yang punya barang. Aku bantu berdoa saja agar kau cepat siap, ya," kekeh Arya. 

Ray pun mendengus kesal. Ia tiba-tiba melemparkan tasnya pada Arya. Seketika Arya meringis kesakitan. Namun, Ray pun tertawa keras. Arya kemudian mencampakkan tas Ray ke sembarang arah,  lalu ia mengejar Ray. Ia lalu naik ke punggung Ray dan berusaha menjitak kepala Ray. 

"Sudah ... sudah Arya! Hentikan!" Perutnya kesakitan akibat tertawa begitu keras karena kelakuan Arya.

Tiba-tiba, mereka pun terjatuh ke lantai. Sejenak mereka terdiam. Namun, mereka kembali tertawa keras karena kelakuan mereka tadi. 

Arya lalu menendang-nendang Ray. Ray dengan cepat memeluk Arya sehingga membuat Arya berhenti.

Suara ponsel Arya berbunyi. Ia segera bangkit dan mengambil ponselnya di dalam tas. "Ini James," desah Arya. Lalu, ia mengangkat telepon tersebut.

"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja,"  ucap James terus terang pada Arya.

"Aku baik-baik saja," dengus Arya sambil berdiri dan merapikan baju serta rambutnya.

"Aku menemukan jasad Milla Hope. Sekelompok remaja yang sedang melakukan napak tilas menemukan jasadnya di sebuah rumah besar yang tidak dihuni lagi. Aku ingin kau ikut denganku. Akan aku kirimkan alamatnya."

Sontak, Arya membelalak terkejut. Ia tak percaya akhirnya mayat Milla Hope ditemukan. Seketika semangatnya mulai meningkat.

"Baiklah. Aku akan segera kesana," ucapnya penuh semangat, lalu ia menyimpan ponselnya. 

"Ada apa?" tanya Ray bingung. Ia lalu menarik Ray saat mengambil tasnya.

"Kita akan pergi ke suatu tempat," kata Arya senang. Air muka Ray berubah. Ia tampak bingung dan penasaran pada Arya. Ada apa sebenarnya?  Pikirannya bertanya.

Ray membawa mobilnya dengan cepat. Ia menuruti perkataan Arya dan menuntunnya ke sebuah daerah yang Arya beritahu. Ia lalu mendesah. "Sebenarnya ada apa, Arya?" ia tampak sangat penasaran.

"James menemukan jasad Milla Hope," kata Arya cepat sambil melihat ponselnya. Bagaikan disambar petir, Ray terkejut dan hampir saja ia menancapkan gas mobil dengan kuat.

"Apa kau serius?!" Ray seolah-olah tidak percaya. Arya lalu mengangguk. "What?!"

"Nanti saja terkejutnya. Sekarang kita harus segera sampai di sana." Arya terlihat bersemangat sekali. Ray lalu menyunggingkan senyumnya. Ia sama sekali lupa dengan ancaman yang baru tadi pagi ia dapatkan.

Mereka tiba di sebuah rumah besar yang tak dihuni lagi, juga cukup jauh dari kota. Rumah besar yang dikelilingi oleh kumpulan pepohonan besar seperti hutan. Seluruh bangunan telah ditumbuhi oleh tumbuhan rambat. Arya lalu memandang sekitar. Para petugas polisi dan forensik bolak-balik memasuki rumah.  Ia pun menemukan James sedang berbincang-bincang dengan beberapa petugas lainnya.

YoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang