Sudah tiga hari Ian mengurung dirinya di kamar. Ia benar-benar putus asa sejak dirinya bertemu dengan Arya yang menyuruh Ian untuk menjauhi dirinya. Selama tiga hari Ian hanya minum-minuman beralkohol dan menatap foto-foto Arya yang ia ambil diam-diam. Ia bahkan tak memakan makanannya. Yang dia lakukan hanya untuk menyiksa dirinya dan membuat dirinya berantakan. Wajahnya terlihat cekung dan matanya sayu.
Frederick yang melihat kondisi Ian yang sedang terpuruk merasa bingung dan takut kalau kondisi Ian bertambah parah. Ia lalu memanggil Maverick ke ruang kerjanya.
"Apa yang harus kita lakukan pada Ian, dad? Aku tak ingin melihatnya semakin buruk. Sudah sering kali aku menasihatinya agar keluar dan makan, menjauhi minuman beralkohol itu. Namun, dia malah mengusirku. Tiap hari aku mendengar dia meracau tidak jelas dan memanggil nama Arya." ungkap Maverick. Wajahnya terlihat sangat khawatir.
"Aku tidak tahu mengapa Ian menjadi begitu kekanak-kanakan. Padahal, Ian lebih dewasa dari dirimu, Mavey. Sejak Arya menyuruhnya untuk menjauh, sejak Arya menolaknya untuk makan malam bersama padahal Ian ingin sekali meminta maaf pada dirinya." Frederick lalu mengurut-urut keningnya.
Maverick mendesah, "Ian terlalu obsesi pada Arya."
Frederick lalu mendongak pada Maverick. Ia terlihat mempunyai ide agar Ian menjadi lebih baik. Ia lalu menjentikkan jarinya, "panggil Arya. Hanya Arya yang bisa membuat Ian membaik. Pergi ke Future Mass dan cari dirinya. Katakan padanya kondisi Ian. Arya pasti mengerti."
"Tapi, dad. Hari ini orang-orang libur kerja, 'kan? Week end."
"Cari dirinya sampai dapat, Maverick. Apa kau tak ingin melihat Ian menjadi lebih buruk? Dengar, kita semua sayang pada Ian dan kita tak ingin dia menjadi lebih buruk dari sekarang, walaupun sekarang kondisinya sangat buruk."
Maverick lalu menghela napasnya, "baiklah. Aku akan mencarinya. Sekalian aku ingin mengantar Ella ke bandara."
Frederick lalu mengangguk. Maverick lalu segera beranjak dan bergegas mencari Arya.
***
"Harusnya kau libur, Arya. Namun, mengapa kau masuk kerja?" Chloe tampak sibuk mengetik ulang dokumen-dokumen yang begitu tebal.
Arya mendesah, "Aku hanya sendiri di apartemen dan aku juga bosan. Lagian, Ray sedang bekerja di sebuah supermarket. Ia bekerja sebagai kasir."
"Menurutku, itu awal yang bagus. Setidaknya, ia punya pengalaman kerja."
"Entahlah. Aku yakin dia pasti akan merasa bosan. Aku juga ingin mencarikan pekerjaan yang cocok di bidangnya."
"Benar juga." Chloe lalu meregangkan tubuhnya. Ia lalu memutar kursinya mengarah Arya, "bagaimana perkembangan beritamu?"
Arya mendesah, "aku berhutang banyak pada Ray. Ia mencarikanku banyak artikel tentang tragedi keluarga Bloodwood. Sayangnya, tidak ada petunjuk yang mengarah ke pembunuh psikopat sialan tersebut."
Chloe lalu tersenyum jail, "Ngomong-ngomong tentang keluarga Bloodwood, bagaimana kabarnya?"
Arya lalu berhenti mengetik. Ia lalu melirik Chloe tajam. Chloe lalu terkekeh melihatnya. "Aku juga tidak tahu. Tiga hari yang lalu ia menelponku dan mengirimiku pesan, namun aku tidak menjawab telepon dan membalas pesannya."
"Kau sangat jahat, Arya." nada Chloe terdengar sarkastik.
Arya lalu mengedikkan bahunya, "Aku harap Ian baik-baik saja."
Chloe lalu menghela napasnya. "Well, sepertinya ada yang merasa khawatir, nih."
Arya memicingkan matanya pada Chloe. Chloe lalu tertawa geli. Mereka pun akhirnya kembali bekerja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Yours
Mistério / Suspense[COMPLETED] Arya Ports, seorang wartawan muda yang memiliki segudang prestasi disertai oleh sifat alamiahnya yang nekat dengan berusaha membongkar identitas seorang pembunuh psikopat di mana masyarakat Inggris dibuat resah oleh aksi pembunuhannya ya...
