57

110 23 36
                                        

Author's note:

Seseorang hampir membunuh Ray!! Arya diculik lagi!!! Wajib baca bagi yang penasaran :) Tinggalkan Comment dan Vote kalian yaa... :D Thanks! -Hx

***

Arya mengembuskan napasnya perlahan. Ia lalu meregangkan tubuhnya, melepaskan segala kepenatan setelah mengetik beritanya.

Seketika, mata Arya tertuju pada fotonya dengan Ray yang terletak di sudut meja kerjanya. Ia lalu mengambilnya, dan menatapnya begitu dalam juga lama. Ia sangat merindukan sahabatnya.

Ia lalu memutuskan untuk menelpon Ray. Semoga saja Ray menjawab teleponku. Namun, Ray tak menjawab teleponnya. Berkali-kali ia coba, tetap Ray tidak menjawabnya juga.

"Mungkin dia marah denganku," desahnya. Ia lalu memutuskan untuk pergi ke rumah Ray.

Arya memberhentikan sebuah taksi. Ia lalu memberitahukan alamat yang di tujunya pada supir. Di dalam taksi,ia mencoba menghubungi Ray, namun tetap tak diangkatnya. Ia mencoba untuk mengirimkan pesan pada Ray, namun beberapa saat kemudian Ray pun tidak membalas pesannya.

"Kemana, sih, dia? Apa dia sedang bekerja?" dengus Arya kesal. Tetapi, ia tetap memutuskan untuk menemui Ray di rumahnya.

***

Ray baru saja keluar dari kamar mandi. Ia baru saja selesai mandi dan memakai pakaiannya. Ia lalu memeriksa ponselnya, banyak miscall dari Arya. Lalu, sebuah pesan masuk. Ia pun segera membukanya. Ray menyengir melihat pesan dari Arya yang akan datang ke rumahnya.

Blaammm!!!

Ray berjengit mendengar suara pintu terbanting. Belum sempat membalas pesan dari Arya, Ray segera keluar dari kamarnya untuk memeriksa darimana suara tersebut berasal.

"Halo? Apakah ada orang?" Ray tidak menemukan siapapun. Ia mengecek sekali lagi tiap ruangan. Memastikan tidak ada orang di rumahnya selain dirinya sendiri.

"Arya? Apa itu kau? Jangan menakut-nakutiku, duck," dengusnya kesal. Namun, tidak ada jawaban. Saat merasa yakin kalau hanya dirinya sendiri, ia pun kembali ke kamarnya.

Saat menaiki tangga, Ray terkejut melihat seorang pria asing yang berdiri di hadapannya. "Siapa kau!" pekiknya. Dengan cepat, pria asing itu menolak Ray begitu kuat hingga Ray jatuh berguling-guling hingga tersungkur.

Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Ray melihat pria asing itu melangkah mendekati dirinya. Ray bergegas bangkit, dan segera bersembunyi dari pria asing yang gila itu.

Ray memasuki sebuah kamar, dan menutup dan mengunci pintunya perlahan. Ia berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

"Sialan! Dia datang!" umpatnya. Ia bergegas mencari senjata tajam di kamar tersebut. Lalu, ia menemukan sebuah gunting yang cukup untuk dirinya.

Tiba-tiba, ia mendengar langkah yang mendekati kamar tempat ia sembunyi. Jantung Ray seketika berdegup kencang. Bagaimanapun, ia harus bisa membunuh pembunuh psikopat itu.

Langkah tersebut menghilang. Sontak, Ray bernapas lega. Namun, tiba-tiba pintunya didobrak. Ray lalu mundur beberapa langkah. Ia tak bisa bersembunyi lagi. Jika ia bersembunyi, pembunuh psikopat itu pasti tahu di mana dirinya berada.

Pintu pun terbuka. Seorang pria bermasker dan memakai topi masuk. Matanya yang tajam menatap Ray.

"Siapa kau!" pekik Ray. Ia mengayunkan gunting yang ia pegang. Tangannya tampak bergetar.

Pria itu langsung menyerang Ray. Untungnya, Ray berhasil menghindar. Ia bergegas berlari dan harus segera keluar dari rumahnya.

Namun, nasib baik tak memihak kepadanya. Pria itu berhasil menangkap Ray sebelum ia berhasil menyentuh pintu utama. Pria itu dengan kasar menolak Ray ke belakang hingga ia tersungkur.

YoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang