08

275 44 20
                                        

Author's note:

Hollaaa!! Langsung aja baca chapter ini! Jangan lupa tinggalkan Comment dan Vote yaa... :D Thanks! -Hx

***

Ray berusaha keras memecahkan kode lebih dalam lagi. Sedangkan Arya duduk santai di tepi ranjang Ray. Ia juga melihat daftar-daftar korban pembunuhan yang telah dicetak oleh Ray untuk dirinya. Ia terlihat sedang mempelajari daftar-daftar tersebut.

"Astaga! Semuanya adalah orang-orang yang berpengaruh, juga public figure! Tentu kecuali aku. Ada beberapa artis, satu di antaranya artis Hollywood, Janine McCannes. Pembunuh itu benar-benar gila!" ungkap Arya tidak percaya sembari menyusun daftar-daftar tersebut sesuai urutan.

"Ia tahu mana yang 'berkualitas', dan juga yang terkenal," kekeh Ray. Lalu, ia pun berbalik melihat Arya menyusun daftar-daftar tersebut. "Ada satu pertanyaan di benakku. Apakah dia 'meniduri' dahulu korban-korbannya yang wanita kemudian baru ia membunuhnya?"

Arya sontak menaikkan sebelah alisnya. "Entahlah. Jika itu terjadi, aku harus membeli sebuah 'pengaman' untuk dirinya."

Sontak, Ray tertawa mendengar guyonan Arya. Arya pun ikut tertawa. Ia lalu bangkit dan berdiri. "Aku ingin membeli beberapa cemilan. Apa kau mau titip sesuatu?"

"Hmm, terserah dirimu saja. Kau tahu aku adalah monster pemakan."

"Ya, ya, dan ya. Aku pergi dulu." Arya pun melangkah keluar dari kamar Ray.

Ray tersenyum melihat Arya yang telah menghilang dari pandangannya. Ia pun berbalik dan berusaha memecahkan kode tersebut lebih dalam lagi.

***

"Bangun!" Molly tersentak mendengar teriakan seseorang yang membangunkannya. Matanya berusaha fokus pada pandangan di sekitarnya. Sadar akan sesuatu, Ia menemukan dirinya yang sedang terikat di sebuah kursi kayu yang sangat berat. Ia seketika meronta-ronta dan membebaskan dirinya dari ikatan tersebut, namun sayangnya tali yang mengikatnya sangat kuat hingga membuat tubuhnya sakit dan kesulitan bergerak.

"Kau pikir kau bisa bebas, wanita jalang?" seseorang berbisik di belakang tubuhnya. Sontak, Ia bergidik ngeri dan rasa takut mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Orang ini ... suaranya ... batinnya mulai terbata-bata.

"Si ... siapa ... kau?" tanya Molly terbata-bata. Ketakutan juga tergambar jelas dari suaranya.

"Kau pikir aku siapa?" Ian berjalan dan berhenti di depan Molly. Betapa terkejutnya Molly melihat sosok yang ia kenal. Ian Bloodwood.

"Ti ... tidak mungkin! Kau ... Ian Bloodwood! Anak angkat dari Joshua Frederick!" spontan, Molly membelalak tidak percaya. Ia juga masih tidak percaya bahwa Ian sendiri yang akan membunuhnya. "Kau! Tidak mungkin kau melakukan ini, Ian!"

Ian sontak tertawa keras. Ia lalu menggelengkan kepalanya. Dengan cepat, ia memegang wajah Molly kuat dan kasar. Molly merasakan sakit dan perih di wajahnya.

"Kau pikir kau bisa bebas di luar sana setelah kau menjatuhkan harga diri dan nama perusahaan Frederick?! Tidak! Kau takkan pernah menang, Molly Hope!" lalu Ian melepaskan wajahnya dengan kasar hingga kepala Molly hampir membentur kepala kursi.

Molly lalu menangis terisak-isak. Ia tak percaya pria yang pernah tidur bersamanya melakukan hal ini padanya. Padahal, ia pernah mempunyai perasaan cinta pada Ian. Namun, inilah Ian yang sebenarnya. Ia bahkan tak sanggup menerima kenyataan yang ada di hadapannya.

Ian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya. Setangkai bunga mawar hitam. Lalu, ia melempar bunga itu pada Molly dengan kasar. Betapa terkejutnya Molly. Matanya membelalak jelas karena ia sadar akan satu hal. "Kau ... kau pembunuh psikopat yang telah membunuh bangsawan?"

YoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang