Selama dua minggu di rumah sakit, dan akhirnya Ian diperbolehkan pulang oleh dokter Bill karena kondisinya yang sudah pulih. Bahkan, dokter menasihatinya untuk tidak minum wine atau minuman yang mengandung alkohol selama beberapa hari demi kesehatannya. "Aku melarangmu untuk tidak minum wine atau sejenisnya. Jika aku melihatmu masuk rumah sakit gara-gara itu, maka kau akan kubiarkan. Kasihan Arya dan Maverick yang bergantian menjagamu."
"Aku tidak akan melakukannya lagi. Karena aku takkan membuat Arya-ku menangis lagi." ungkap Ian. Arya yang mendengarnya merasa malu, bahkan wajahnya memerah.
"Oke, aku tidak dianggap. Kau pikir aku tidak menangis juga, Ian?" gerutu Maverick. Ian menatap tajam Maverick yang merajuk pada dirinya.
"Benarkah? Aku kira kau bahagia sekali melihat diriku tidak sadarkan diri." balas Ian sarkastik.
Arya terkekeh mendengarnya. Maverick lalu mendengus, "ya, aku bahagia karena aku bisa mendekati Arya. Iya 'kan, Arya?" Maverick membuat Ian panas. Ia lalu tersenyum bangga pada Ian yang meliriknya dengan tatapan kesal.
"Dokter, bisakah kau membius bayi besar yang satu ini?" Ian menunjuk tangannya pada Maverick. Maverick lalu membelalak terkejut. Dokter Bill tertawa mendengarnya.
"Kalian seperti anak-anak saja." dokter Bill menahan tawa besarnya. Ia merasa geli melihat Ian dan Maverick yang kelahi seperti anak kecil. Sedangkan Arya, hanya tertawa mendengarnya. Ia senang melihat keakuran Ian dan Maverick.
"Sudah siap?" Frederick berdiri di ambang pintu sembari memegang tongkatnya.
"Sudah, dad. Ayo, big baby!" Maverick lalu membantu Ian berdiri. Sedangkan Arya memegang barang-barang Maverick yang dibawanya untuk menginap.
Frederick lalu melangkah menuju dokter Bill, lalu mereka bersalaman. "Terima kasih, dokter Bill."
"Tidak, Tuan Frederick. Ini semua berkat doa kita semua agar Ian semakin sembuh. Aku hanya melakukan tugasku." ucap dokter Bill lembut.
"Kau dokter yang sangat baik." ucap Frederick. Ia lalu melihat ke arah Maverick, Ian, dan Arya yang bersiap-siap akan pergi. "Kalau begitu, kami permisi dulu."
"Baik, tuan." mereka lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Arya duduk di kursi penumpang belakang bersama Ian yang sedang merangkulnya. Sedangkan Maverick yang menyetir mobil, bagaikan supir Ian dan Arya. Frederick menaiki mobilnya sendiri bersama asisten dan penjaganya. Ia harus segera pergi ke perusahaannya karena ada urusan.
"Bisakah kalian berhenti bemesra-mesraan di mobilku?" lagi-lagi Maverick menggerutu. Ia cemburu karena tidak ada Ella di sampingnya.
"Well, kami tidak melakukan apapun. Aku hanya merangkulnya. Benarkan, sayang?" Ian melihat Arya yang tersenyum malu. Maverick lalu mendesah.
"Berhentilah memanggil sayang, Ian. Aku muak mendengarnya." Maverick semakin kesal karena Ian senang menjahilinya.
Ian tersenyum jail. "Apa kau keberatan jika aku memanggilmu sayang, Arya?" tanyanya pada Arya.
"Eh, aku..."
"Nah, Arya saja tidak keberatan, Mavey. Kau hanya cemburu pada kami." suara Ian terdengar jail.
Maverick memajukan bibirnya, ia mulai merajuk lagi. "Terserah.
Ian dan Arya terkekeh melihat Maverick merajuk. Ian lalu mengecup kepala Arya. Ia merasa senang Arya berada di sisinya. Namun, entah sampai kapan ia merasa bahagia seperti ini. Ia takut dirinya akan kehilangan Arya lagi, dan jika Arya sudah tahu semua tentang dirinya, apalagi Ian lah yang membunuh kedua orangtua Arya. Ian tak pernah merasa siap untuk hal itu. Takkan pernah. Ia tahu kalau dirinya akan dibenci oleh Arya selamanya. Ian akan merasakan terpuruk lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Yours
Misterio / Suspenso[COMPLETED] Arya Ports, seorang wartawan muda yang memiliki segudang prestasi disertai oleh sifat alamiahnya yang nekat dengan berusaha membongkar identitas seorang pembunuh psikopat di mana masyarakat Inggris dibuat resah oleh aksi pembunuhannya ya...
