Author's note:
Hollaaa...!! Terima kasih bagi kalian yang sudah membaca, comment, dan vote cerita ini, ya! Aku harap, kalian menikmati chapter kali ini walaupun kelihatannya begitu flat.. hihi.. Btw, thanks ya! -Hx
***
"Ray, bangun!" Arya membangunkan Ray yang masih tertidur lelap di sofa. Arya telah bersiap-siap dan segera pergi kerja.
Ray lalu menggeram. Ia pun meregangkan tubuhnya dan mengusap-usap wajahnya. "Jam berapa sekarang?"
"Tujuh. Aku harus segera pergi ke kantor. Tak apa jika kau tinggal, kan?" kata Arya sembari mengambil sepatu heels-nya di rak sepatu.
Ray menguap. Ia lalu duduk dan menyandar di sofa. "Iya. Lagi pula, aku sedang tidak ada kerjaan hari ini, Arya."
Arya mendesah. "Berhentilah mencuri uang, Ray."
"Aku tidak mencuri, Arya. Setelah aku hack beberapa akun orang-orang yang berada, aku langsung memasukkannya ke panti asuhan atau rumah sakit yang sedang membutuhkan biaya. Aku bahkan tak mengambil sepeser pun."
Arya lalu berkacak pinggang melihat Ray. "Well, Robin Hood. Sepertinya kau harus mencari pekerjaan yang lain."
Ray pun mendengus. "Baiklah. Aku akan mencari pekerjaan kecil-kecilan."
"Oke. Aku berangkat dulu. Chloe sudah menungguku di bawah." Arya lalu melangkah keluar.
Ray tersenyum simpul. "Dasar kau, Arya." Ia lalu bangkit dan bergegas mandi. Ia harus mencari pekerjaan, seperti yang dikatakan Arya.
***
Arya dan Chloe tiba di kantor mereka. Mereka bergegas menuju meja mereka masing-masing. Tampak Joe yang sedang menunggu di dekat meja mereka.
"Seperti biasa. Kalian memang selalu terlambat," gerutu Joe. Spontan Chloe mencium pipi Joe dan ia lalu duduk di mejanya. Joe lalu tersenyum senang. Arya terkekeh melihat air muka Joe yang berubah.
"Ada apa, tuan Bloodwild?" tanya Arya serius. Ini waktunya bekerja.
"Jam sepuluh nanti akan ada demo tentang pelecehan seksual terhadap wanita dan anak-anak di depan Kantor Polisi. Jangan lupa! Aku harus segera pergi karena ada pertemuan bersama dewan-dewan redaksi." Joe melangkah pergi menuju ruangannya. Tak lama, ia lalu keluar sembari membawa tasnya dan melangkah pergi menuju lift.
Arya mulai mengotak-atik komputernya. Ia lalu menghela napasnya panjang. "Jadi, bagaimana pergi ke rumah orangtuanya Joe? Ada sesuatu yang mengejutkan?" Arya memulai obrolan dengan Chloe.
Chloe lalu mendesah kuat. Tersirat dari raut wajahnya bahwa ia sangat sedih sekali. "Ya, begitulah," jawabnya lesu.
Arya sontak berbalik, melihat apa yang terjadi ada apa dengan Chloe. Ia menatap Chloe yang sedang mengetik-ngetik dokumen yang belum ia selesaikan. "Ada apa, Chloe? Joe belum juga melamarmu?"
"Belum," tutur Chloe datar. Ia lalu menghentikan kegiatannya dan mendongak ke arah Arya. "Ingin sekali aku mendesaknya, namun aku tak bisa. Mungkin saja ini belum waktunya. Aku hanya bisa ... berdoa dan bersabar."
Arya tersenyum simpul. Ia lalu memegang lengan temannya itu. "Aku harap secepatnya, Chloe. Kita tak bisa mendesak sesuatu yang kita inginkan. Berdoa dan bersabarlah. Aku yakin suatu saat nanti Joe akan melamarmu, Chloe. Mungkin secepatnya."
Chloe tersenyum lebar. Ia pun merasa lega mendengar nasihat dari Arya. "Terima kasih, Arya. Akan aku simpan nasihatmu."
"Well, kalau begitu, kita kembali bekerja. Oh ya, aku sudah mendapatkan banyak bukti tentang pembunuh tersebut. Aku sedang menyusun dan mengetiknya sekarang. Tapi, ini belum cukup kuat buktinya dan aku belum juga bisa menemukan pembunuh psikopat tersebut."
KAMU SEDANG MEMBACA
Yours
Mystery / Thriller[COMPLETED] Arya Ports, seorang wartawan muda yang memiliki segudang prestasi disertai oleh sifat alamiahnya yang nekat dengan berusaha membongkar identitas seorang pembunuh psikopat di mana masyarakat Inggris dibuat resah oleh aksi pembunuhannya ya...
