18

216 27 2
                                        

"Terima kasih atas makan siangnya." ucap Arya datar pada Ian. Ia lalu pergi berlalu dan tidak masuk ke mobil Ian.

Ian bingung melihat apa yang dilakukannya pada Arya. Ia lalu mengejar Arya dan menarik lengannya. "Arya, kenapa kau tak naik mobilku? Apa kau kesal padaku?"

Arya mendengus kesal. Kenapa sih dia bisa tahu perasaanku? Gerutu batinnya. "Maaf, Ian. Aku hanya tak ingin menjadi kelinci percobaanmu."

Betapa terkejutnya Ian mendengar jawaban Arya. Dadanya lalu berdebar-debar. "Arya, kau hanya mengambil kesimpulan yang terlalu cepat. Kau salah paham."

"Ternyata, Chloe benar. Aku harus berhati-hati padamu."

"Apa maksdumu, Arya?"

"Kau mengerti maksudku, Ian. Dengar, Ian. Aku mengencani banyak pria lalu mereka semua hanya memanfaatkanku, apalagi tubuhku. Untung saja aku bisa mengetahui pikiran licik mereka. Sejak saat itu aku menutup hatiku kepada semua pria yang berusaha mengajakku kencan. Namun, saat bertemu denganmu, aku hanya ingin sekali membukakan hatiku. Namun ternyata aku tak bisa. Maafkan aku, Ian. Aku hanya tak ingin menjadi pemuas nafsu para pria belaka. Jadi, lepaskan tanganku. Aku bisa pergi dengan taksi sendiri. Jadi, kau tak perlu mengantarku atau mengikutiku."

Ian terdiam mendengar penjelasan Arya. Selama ini, ia merasa ia telah mengenal Arya. Namun, ia salah. Ia sama sekali tak mengetahui isi hati Arya.

Arya lalu menarik lengannya. Ia lalu pergi meninggalkan Ian, bahkan ia tak ingin menoleh ke arah Ian. Hatinya sakit dan hancur. Yang ia inginkan sekarang adalah tak ingin bertemu dengan Ian lagi.

Ian lalu kembali ke mobilnya. "Dasar bodoh! Bodoh sekali kau Ian!" Ian memaki-maki dirinya. Ia takut akan kehilangan Arya untuk selamanya. Ia takut Arya membencinya. Namun, untuk sementara ini, ia membiarkan Arya terlebih dahulu. Lalu, ia akan mencari cara untuk mendapatkan hati Arya kembali.

***

Arya kembali ke kantornya dengan wajah yang lesu. Chloe yang melihat Arya menjadi bingung. "Well, Arya. Bagaimana makan siangmu dengan Tuan-Yang-Sangat-Seksi itu?"

Arya lalu duduk. Ia lalu meletakkan tasnya. Ia hanya diam. Ia sedang tidak dalam mood yang baik. Ia bahkan tak ingin mendengar nama Ian lagi.

"Arya?" Chloe menanyai lagi.

"Chloe, aku mohon. Aku sedang tak ingin membicarakan hal itu sekarang. Aku mohon." pinta Arya.

"Apa ada sesuatu yang terjadi pada kalian?"

"Chloe, aku akan memberitahu setelah hatiku tenang."

Pasti ada yang tidak beres, batin Chloe menduga. "Baiklah." Ia lalu membiarkan Arya untuk bertenang dahulu.

Hari menjelang sore. Arya bergegas membereskan segala perlengkapannya. "Aku pulang duluan," ucapnya datar pada Chloe.

"Mau ku antar?" Chloe menawari Arya tumpangan.

Arya lalu tersenyum dingin, "tidak. Aku bisa pulang sendiri. Maaf, Chloe." Arya lalu bergegas pergi. Ia meninggalkan Chloe yang terus menatapnya kasihan.

"Aku pulang." ucap Arya lesu. Ray lalu beranjak dari sofa dan menyambut Arya.

"Arya, untung saja kau sudah pulang. Dengar, aku sudah mengumpulkan artikel-artikel yang sangat bagus. Apa kau mau melihatnya?" Ray tampak bersemangat.

Arya menatapnya dingin. Ia lalu mendesah. "Maaf, Ray. Aku sedang tidak enak badan." Ia lalu melewati Ray menuju kamarnya.

Air muka Ray berubah menjadi bingung. Mengapa Arya tidak seperti biasanya? Batinnya bertanya. "Tapi, Arya...."

YoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang