28

276 30 30
                                        

Author's note:

Chapter ini agak panjang, so... just enjoy to read this chapter! D

***

Ian terbangun saat Arya menggeliat di dalam pelukannya. Mereka berdua sama-sama telanjang di balik selimut yang tebal. Arya masih tertidur pulas, ia pasti sangat kecapaian. Ian lalu tersenyum mengingat saat tadi malam ia bercinta dengan Arya. Arya benar-benar mempercayainya.

Arya lalu berbalik dan menghadap Ian. Matanya terbuka perlahan. Ia tersenyum melihat Ian yang sudah bangun, "pagi, sayang."

"Pagi juga, sayang." mereka lalu saling berciuman. "Bagaimana kabarmu?"

"Menurutmu? Tentu saja aku bahagia." ucap Arya senang. Ian terkekeh melihat Arya.

"Hei, bagaimana kalau kita mandi bersama?" Ian terlihat menggoda Arya, dan berhasil membuat wajah Arya memerah.

"Baiklah. Tapi, aku tidak punya bath up, tuan."

"Shower juga tidak apa-apa." Arya lalu mendorong Ian pelan dan segera bangkit menuju kamar mandi. Ian lalu mengikutinya dari belakang.

Arya memutar keran shower dan mengatur suhu hangatnya. Ian tiba-tiba memeluk Arya dari belakang. Arya lalu berbalik dan mereka saling berciuman lagi. Ian lalu mendorong Arya pelan ke dinding. Tangan kirinya mulai meremas-remas payudara Arya. Ia lalu mengangkat kaki kedua kaki Arya, dan mereka bercinta di bawah hangatnya air shower.

Arya segera memakai pakaian kerjanya dan berdandan. Ian tampak sudah selesai berpakaian. Ia lalu memeluk Arya dari belakang. Arya lalu berbalik, dan mereka saling berciuman. "Aku akan terlambat kerja jika kita seperti ini terus." ucap Arya lirih.

"Baiklah." Ian lalu mengecup bibir Arya. Mereka lalu segera keluar dari kamar Arya.

Arya terkejut melihat Ray yang sedang menonton televisi. "Ray? Jam berapa kau pulang?"

Ray terlihat canggung. Ia lalu melihat Ian di belakang Arya. "Well, jam sebelas malam." ucapnya kaku.

"Sepertinya aku harus pergi. Frederick pasti akan bertanya-tanya kemana diriku pergi, apalagi Mavey, dia pasti sudah cerewet aku tidak pulang-pulang." ungkap Ian ketika melihat kecanggungan antara Ray dan Arya.

"Oke, baiklah." Arya lalu mengantar Ian sampai di depan pintu.

"Aku akan menghubungi jika sudah sampai." ucap Ian lirih.

"Baiklah." balas Arya. Ian lalu mengecup bibir Arya lembut. Ia lalu bergegas pulang.

Arya lalu mengambil cangkir dan membuat kopi. Ia melihat Ray yang sama-sama canggungnya dengan dirinya. Tiba-tiba, Ray tertawa terbahak-bahak. Arya mengernyit melihat Ray.

"Ada apa? Kenapa kau tertawa?" tanya Arya heran.

"Wajahmu tadi sangat lucu saat terkejut melihatku, Arya. Kau takut terdengar saat kau bercinta bersama Ian?" Seketika wajah Arya memerah. Ia lalu teringat saat ia bercinta bersama Ian.

"Dasar beast! Kau menguping!" teriak Arya. Wajahnya semakin memerah.

Ray tertawa terbahak-bahak. "Santai saja, Arya. Nikmati pengalaman bercinta pertamamu." Ray lalu merebahkan tubuhnya di sofa. "Aku ingin tidur dulu, karena aku tidak bisa tidur tadi malam mendengar suara desahan kalian yang begitu keras."

"Ray!" pekik Arya. Ia segera mengambil tasnya dan memakai sepatu heels-nya. "Aku pergi dulu!" Arya tergesa-gesa pergi sembari menyembunyikan wajahnya yang memerah dan malu.

YoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang