"Sekarang aku boleh meminta apapun kan?" Kata Mimi memecahkan keheningan.
Mereka masih diam. Tak mau mengakui kekalahan telak pada seorang perempuan. Memalukan.
"Permintaanku sederhana, penuhi semua permintaan ku kapanpun dan dimanapun." Kata Mimi sambil melihat kukunya, seakan-akan yang barusan ia bilang bukan hal besar.
Mereka terkejut dengan permintaan Mimi.
***
"WHAT??" Kata mereka cepat, tak percaya seorang gadis meminta mereka jadi pelayannya.
"Maksudmu kami akan menjadi pelayanmu? Apa kau gila? Apa kata orang jika mereka tahu? Itu bisa berdampak pada nama keluarga kami." Tegas Dave, yang dianggukkan oleh yang lainnya.
"Well, apapun kan? Dan lagi aku tidak akan melakukannya secara terang-terangan. Itu juga bisa menarik perhatian padaku. Mungkin hanya sekedar mencarikanku tempat bolos, membuat tugasku dan sebagainya. Ngga susah kan?" Jawab Mimi tenang.
Mereka berpikir, itu memang bukan hal yang sulit. Mereka menghela nafas tak percaya akan ada masanya mereka dipermalukan seperti ini.
"Kalau sudah deal, antar aku pulang, hmm.... Varrel." Kata Mimi lagi sambil berpikir sebelum memilih yang akan mengirimnya.
"Kenapa aku?" Tanya Varrel.
"Ya, kenapa dia?" Tanya Evan.
"Kenapa tidak denganku saja?" Tanya Ricky.
"Karena aku yang bilang, yang kalah harus menuruti yang menang kan." Mereka terdiam. Mimi berkata senang, dia bisa mendominasi orang-orang ini.
Varrel menghela nafas, dan mengambil kunci mobilnya.
Mimi mengikuti Varrel, ia bahkan membukakan pintu untuk Mimi, How sweet.
Sesampainya di rumah Mimi.
"Ini rumahmu?" Tanya Varrel.
"Yup." Jawab Mimi singkat.
"Ternyata kau juga bukan cewek biasa. Jadi, besok apa perlu aku menjemputmu juga?" Tanya Varrel lagi, ia kini sangat menjadi penurut.
"Hm, tidak perlu. Besok mungkin aku akan bawa mobilku." Kata Mimi.
"Oh, kalaj begitu jangan lupa memarkirnya di tempat kami tadi."
"Kenapa? Apa kata orang aku parkir disana?"
"Jangan pedulikan orang, babe. Kau lupa? Kau punya empat ksatria sekarang." Kata Varrel sambil memukul dadanya bangga.
Mimi tertawa melihat sikap kekanak-kanakannya. Varrel terkejut melihat Mimi tertawa, ia tidak menyangka Mimi bisa tertawa selepas itu. Seakan-akan ini adalah tawa pertama setelah sekian lama.
"Senang bisa melihat tawamu, My Lady." Ucal Varrel sambil mencium tangan Mimi. Pipi Mimi merona diperlakukan seperti itu.
"Baiklah aku pulang dulu." Ucap Varrel lagi.
Mimi hanya mengangguk kecil karena perlakuan Varrel tadi. Varrel melihat itu, ia pun mencium pipi Mimi singkat dan berlari kearah mobilnya.
"Jangan terlalu merona, mukamu merah sekali, udah kayak tomat." Teriak Varrel dan segera masuk kedalam Mobil.
Mimi masih terkejut. Ini pertama kalinya ia merasakan semuanya. Ia melihat mobil Varrel sudah pergi.
'Sekarang aku mengerti kenapa paman ingin aku merasakannya.' Batin Mimi.
Ketika Mimi memasuki rumahnya, tiba-tiba ia merasakan kalau ada orang lain di rumah ini.
Mimi was-was, apa ia hanya bisa hidup satu hari disini? Padahal ia mulai menikmatinya. Pikirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Play With Me, Boys.
RomanceMimi tak percaya ia akan berada dalam situasi seperti ini. Sulit dipercaya memang, ia sebagai agent rahasia tak bisa melakukan apa-apa ketika berhadapan dengan dua pria ini. Dua pria berbahaya sedang berada di depannya saling menatap tajam seakan s...
