Mimi tidak percaya Lucas meninggalkannya. Ketika ia mengejar Lucas, Lucas sudah di tempat duduk pengemudi dan mobil Lucas hanya memiliki dua seat.
Mimi melirik Varrel tajam.
"Apa yang terjadi diantara kalian?" Tanya Mimi.
"Bukankah seharusnya kau mencemaskan caramu pulang terlebih dahulu??" Ucap Varrel mengalihkan pembicaraan.
"Aku bisa mengurusnya sendiri. Sekarang jawab pertanyaanku Varrel." Suara Mimi makin tajam.
***
"Tidak ada apa-apa, Mi. Aku hanya meminta izin tentang adiknya." Jawab Lucas santai yang setengah benar.
Mimi masih tak percaya, ia menatap curiga pada Varrel.
"Apa hubungan kalian sebenarnya? Lucas terlihat sangat membencimu." Ucap Mimi.
"Hanya masalah lelaki. Kalau kau penasaran coba tanyakan pada Lucas, jika ia mau cerita kau pasti tahu." Jawab Varrel sambil mengelus lembut kepala Mimi.
"Sekarang ayo, kuantar kau pulang." Lanjut Varrel membuka pintu mobil. Mimi melihat senyum Varrel membuatnya sedikit tenang. Ia pun masuk ke dalam mobil.
***
Di sisi lain..
"Kakak, hentikan mobilnya." Ucap Alicia.
"Kak, tenanglah. Kau bahkan meninggalkan kak Mimi disana." Lanjut Alicia.
Srrrt...
Lucas menginjak rem mendadak sadar akan ucapan Alicia.
"Shit" ucapnya sambil memukul stir. Ia langsung mengambil ponselnya dan menelfon Mimi.
Setelah beberapa dering terdengar suara disamping Alicia, Lucas melihat tas Mimi disana. Berarti Mimi tidak membawa apa-apa dengannya.
Lucas menggeram, tangannya mengepal kuat ponsel di tangannya.
Ia menarik nafas kuat.
"Kau terlalu berlebihan. Tenanglah, aku yakin Varrel akan mengantar Kak Mimi." Ucap Alicia yang hanya dipandangi oleh Lucas.
"Panggil dia." Ucap Lucas menyuruh adiknya
"Siapa?" Tanya Alicia.
"Bocah brengsek itu, siapa lagi." Jawab Lucas dengan emosi tertahan.
"Kakak!! Jangan pernah memanggilnya begitu. Dia pasanganku, apa kau mau pasangan itu kupanggil jalang?" Tukas Alicia geram.
Ia pun tetap menelfon Varrel, meskipun dengan berat hati.
"Ah, Varrel. Bagaimana dengan kak Mimi?" Tanya Alicia setelah terdengar nada jawab.
"..."
"Oh, baiklah. Kalau begitu, langsung ke rumahku saja."
"..."
"Ya, Love you too."
Pembicaraan singkat itu mampu membuat Lucas menarik alisnya menjadi satu.
"Apa kau segitu sukanya dengannya?" Tanya Lucas.
"Tentu saja, aku selalu sendirian di rumah. Kau sibuk entah kemana. Saat di sekolah tak ada yang mau menjadi temanku karna rumor buruk tentang keluarga kita, tapi dia menerimanya dengan baik. Aku bersyukur bertemu dengannya." Jelas Alicia.
Lucas menghela nafas, ia bukan tidak tahu pergaulan adiknya. Hanya saja ia terlalu sibuk untuk mengurusnya.
"Kau selalu membawa senjatamu kan?" Tanya Lucas lagi.
"Ya, seperti yang kau suruh." Jawab Alicia.
"Jika dia macam-macam kau kuizinkan menembaknya langsung." Tegas Lucas sebelum kembali menggas mobilnya.
"Apa artinya kau menerimanya?" Tanya Alicia semangat.
"Untuk saat ini, jika dia bertingkah di depanku jangan salahkan aku melubangi kepalanya." Ujar Lucas tajam.
"Hehe, oke oke. Dia tidak akan seperti itu." Balas Alicia cepat.
"Ah, aku hampir lupa. Ada seseorang mengirimku email beberapa waktu lalu. Dia bilang "Watch behind you, Sigrath." Dengan email tanpa nama." Lanjut Alicia.
"Biarkan saja. Itu sudah biasa, bukan hal baru lagi." Jawab Lucas, karena memang bagi mereka orang yang mengincar mereka sudah tak terhitung lagi.
TO BE CONTINUED..
Jangan Lupa Vote ya guys..
KAMU SEDANG MEMBACA
Play With Me, Boys.
RomanceMimi tak percaya ia akan berada dalam situasi seperti ini. Sulit dipercaya memang, ia sebagai agent rahasia tak bisa melakukan apa-apa ketika berhadapan dengan dua pria ini. Dua pria berbahaya sedang berada di depannya saling menatap tajam seakan s...
