Selama baku tembak, Alicia terkena satu peluru yang menyentuh paru-parunya sehingga ia membutuhkan beberapa jahitan halus di paru-parunya. Dan karena itu ia dalam kondisi koma.
Sedangkan Mimi, dilihat dari luar memang sederhana tapi akibat dari banyaknya luka pendarahan di sekujur tubuhnya yang cukup dalam membuatnya kehilangan darah lumayan banyak.
Kondisi Mimi ini di perparah karena beberapa hari kekurangan asupan gizi dari makanan dan minuman yang menyebabkan tubuhnya dehidrasi. Hal ini berujung pada jantungnya yang kekurangan glukosa dan darah.
Dampak dari jantung yang tidak mendapat cukup darah menyebabkan sirkulasi darah tak sepenuhnya mengalir ke seluruh tubuhnya.
'Selama penanganan, kami sudah memeriksa secara keseluruhan dan kurang lebih seperti dugaan, kaki Ms.Huston mengalami kelumpuhan.'
Satu kalimat terakhir dari dokter itu masih terngiang di telinga Lucas. Dan ia baru saja meninggalkan Mimi dengan kondisi tersebut. Dalam hati ia berulang-ulang berharap tak terjadi apa-apa pada Mimi karena ini.
Memikirkan hal sederhana itu, membuat Lucas menggeram. Lagian kenapa ruangan rawat inap dengan ruangan Alicia terlalu jauh, Batin Lucas. Varrel yang melihatnya keheranan sendiri.
Di sisi lain, Mimi mendengar semua penjelasan mengenai keadaannya dari dokter selama penanganan lukanya yang terbuka kembali.
Tak ada ekspresi yang tergambar dari wajahnya. Ia hanya diam atau sesekali mengangguk selama dokter itu menjelaskan dan lukanya di tutup kembali.
Setelah ditangani, ia minta untuk kembali ke ruangannya. Dan karena dokter mengerti, ia pun diizinkan untuk kembali.
Setelah semua perawat meninggalkan ruangannya, Mimi menutup matanya. Mengingat penjelasan dokter tersebut, entah kenapa sulit sekali ia menerimanya.
Ia menggigit bibir bawahnya kuat menahan untuk mulutnya tidak terbuka dan membuatnya meneriakkan semuanya.
Mimi mencoba mengambil nafas panjang dan kembali membuka matanya, ia melihat kakinya yang dilapisi selimut tipis rumah sakit.
Di tengah semua kecamuk emosi dalam hatinya, ia mencoba menggerakkan kakinya meskipun tahu jelas keadaannya.
Namun seperti dugaannya, nihil, tak ada tanda-tanda pergerakan sedikit pun dari kakinya. Melihat itu nafas dada Mimi naik- turun mengatur nafasnya.
Ia kembali menggigit bibir bawahnya dengan menggenggam kuat kedua kakinya. Bibirnya bergetar, nafasnya makin terdengar jelas. Tanpa sadar ia merasa matanya mulai panas dan berair.
Tak dapat dijelaskan apa yang dirasakannya. Ia merasa frustasi berat. Setelah diasuh oleh pamannya, bisa dikatakan tak satu kalipun ia pernah merasa seperti ini.
Bukan hanya karena ia tidak bisa melanjutkan kehidupan seperti biasa, kehidupan yang dipenuhi rasa tegang yang memacu adrenalinnya. Namun satu nama itu makin membuatnya tak bisa menerima keadaannya, Lucas.
Di tengah emosi itu, ia mendengar suara pintu dibuka. Mimi tidak bergerak,ia tetap menunduk menggenggam kakinya, ia tak ingin Lucas melihatnya sekarang ataupun selanjutnya.
"Sepertinya dokter itu sudah memberi tahumu keadaanmu sebenarnya."
Bukan Lucas.. Batin Mimi.
Mimi mengangkat wajahnya dan melihat orang yang membuka pintu kamarnya, Grey.
"Pertama kalinya aku melihatmu dengan ekspresi itu. Selama ini kau bahkan tak pernah melirik mayat orang yang kau bunuh bahkan kau tidak pernah melepaskan aura selain intimidasi. Tapi dengan Lucas kau seperti tidak pernah terlibat dunia gelap.. Kau seperti orang biasa." Jelas Grey dengan ekspresi tenangnya.
Mimi tersenyum sayu mendengar itu. Mendengar itu mengingatkannya dengan masa lalu nya bersama The Villianz. Entah kenapa ia merindukan suasana itu, dimana ia tak mempunyai beban pikiran selain misinya. Meskipun keadaannya sekarang disebabkan oleh The Villianz.
"Yaah, tak ada salahnya menjadi orang biasa sepertinya." Jawab Mimi sambil menyandar pada tempat tidurnya.
"Kau tidak perlu memasang wajah seperti itu. Lucas sudah menyiapkan keberangkatanmu ke London." Ujar grey.
"London? Untuk apa?" Tanya Mimi tak mengerti.
"Apa kau tidak mendengar penjelasan dokter? Kau hanya lumpuh sementara. Jadi dia merekomendasikanmu ke London untuk rehabilitas." Jelas Grey dengan menghela nafas.
"Sementara? Benarkah? Lalu berapa lama rehabilitasnya?" Tiba-tiba Mimi merasa bersemangat mendengar rehabilitasi. Ia bisa kembali.
"Paling cepat 6 bulan. Dan itu tidak menjamin kau kembali sepenuhnya, setidaknya.... Kau mungkin tidak akan bisa .... seleluasa sebelumnya." Grey ragu untuk mengatakannya langsung.
"Hah? Maksudmu.." Mimi terhenti, mengerti penjelasan Grey. Ia kembali menarik nafas panjang.
"Ya tapi itu tergantung usahamu juga untuk rehabilitasnya." Tegas Grey melihat Mimi kembali merenung.
"Aaah, seharusnya aku tidak boleh terlalu menikmati kehidupanku. Kini aku kesulitan melepasnya."Keluh Mimi sambil tertawa pelan.
Grey melihat Mimi mengeluh, menghela nafas lega melihat ekspresinya
'Alasan,' Batin Mimi.
Dalam benaknya, sekarang hanya berisi Lucas.
Bagaimana ia harus melihat Lucas sekarang?
Bagaimana perasaan Lucas kepadanya yang sekarang tak bisa melakukan apa-apa?
Apa Lucas masih akan mencintainya seperti dulu?
Apa dia hanya akan menjadi titik kelemahan Lucas?
Apa dia masih akan bisa membantu Lucas?
Apa sekarang dirinya hanya akan menjadi beban bagi Lucas?
Sekian banyak pertanyaan di benak Mimi, dan Lucas sebagai titik fokusnya. Tanpa sadar ia terlelap sendirinya. Grey pun meninggalkan ruangan Mimi dengan tenang.
Mimi membuka matanya karena merasakan sentuhan lembut di pipinya. Ia dapat melihat Lucas duduk di sampingnya sambil mengelus pipinya.
"Maaf, aku membangunkanmu. Wajahmu terlalu imut saat tertidur." Ujar Lucas.
Mimi tersenyum, dan meraih tangan Lucas. Ia makin mengeratkannya di pipinya. Ia memejamkan matanya untuk menyimpan jelas ingatan ini.
Dari semua pertanyaan di benaknya, ia takut untuk menyimpulkan keputusan yang harus diambilnya suatu saat nanti.
To be Continued..
KAMU SEDANG MEMBACA
Play With Me, Boys.
Storie d'AmoreMimi tak percaya ia akan berada dalam situasi seperti ini. Sulit dipercaya memang, ia sebagai agent rahasia tak bisa melakukan apa-apa ketika berhadapan dengan dua pria ini. Dua pria berbahaya sedang berada di depannya saling menatap tajam seakan s...
