"Kau tidak memberitahu putrimu?" Tanya lelaki itu pada paman. Ia pernah mendengar suara itu, salah satu petinggi The Villianz.
"Sayang sekali, kau hanya sebagai umpan, agent Velvet. Berkat pamanmu kami tahu kau memiliki hubungan dengan Lucas Sigrath. Kami sangat mengapresiasikan kontribusimu." Lanjut pria itu.
Mimi tak percaya pamannya menjadikannya umpan, jadi selama ini ia tahu tentang hubungan Mimi dengan Lucas dan tidak mengatakan apa-apa.
***
"Sekarang biar kami yang mengambil alih. Kalian boleh menyingkir dari sana." Ucap pria sialan itu.
Mimi tidak suka diatur seperti ini. Ini misinya, tak ada yang boleh mengganggunya. Ditambah cara bicara pria itu terdengar menyebalkan di telinga Mimi.
Mimi melangkah ke depan Lucas.
"Dia targetku, dan ini misiku. Sebaiknya kalian lah yang menyingkir dari sini." Ujar Mimi sinis, ia tak peduli jika ini artinya ia membantah atasannya. Yang ia tahu, ia sedang menjalankan misinya.
Lucas menikmatinya, ia senang Mimi melindunginya, mungkin.
"Kau ditarik dari Misi ini agent Velvet. Karena menjalin hubungan dengan target adalah pelanggaran. Dan kami melihat ketika kau menciumnya sebelumnya." Kata pria itu dengan suara yang sangat menjijikkan.
Mimi menggertakkan giginya, entah kenapa ia merasa hawa permusuhan dari pria itu.
Lucas entah kenapa ikut menggeram mendengar pria itu. Ia entah kenapa merasakan menjadi Mimi.
Akhirnya Lucas menarik Mimi, dan mengarahkan pistolnya pada Mimi.
"Don't worry, Little Miss.. Let's play with along with me.." Bisik Lucas di telinga Mimi. Mimi pun hanya mengikuti permainan Lucas.
"Jangan lakukan apapun, atau kubunuh dia." Ujar Lucas.
Ah, aku tahu arah permainan ini, pikir Mimi yang tersenyum miring melihat pria itu terdiam.
"Jangan menyepelekanku, Mr. Sigrath. Nyawanya tidak sebanding dengan nyawamu. Pengorbanannya pantas jika kau ikut mati bersamanya." Ujar pria itu.
"Tembak mereka." Katanya yang membuat Mimi membelalak, apa dia serius mengorbankannya demi membunuh Lucas?.
Lucas masih terdiam. Tak melakukan apa-apa.
"Apa? Kau tidak bisa mengorbankan putriku hanya untuk membunuhnya, Sir." Pamannya akhirnya bersuara, membuat Mimi sedikit tenang karena tahu masih ada yang melindunginya.
"Dia berpotensi menjadi pengkhianat di kemudian hari, Huston. Aku tak bisa membiarkannya begitu saja ketika aku bisa mencegah malapetaka sebelum terjadi." Jawab pria itu dingin.
"Nyatanya itu belum terjadi. Velvet adalah pasukan terbaik yang kita punya, itu membuktikan kesetiaannya. Aku tak akan membiarkanmu menyentuh barang sehelai rambutnya." Kata pamannya, tanpa nada hormat pada pria tersebut.
"Kalau begitu ikutlah bergabung dengannya dengan tenang." Ujar pria itu santai dan mengarahkan pistol pada paman Mimi.
Mimi melepaskan diri dari Lucas melihat itu, ia tak akan membiarkan pamannya ikut menjadi korban karena kesalahannya.
"Hentikan, bunuh aku. Tapi jangan pamanku." Ucap Mimi kuat, membuat pria itu melirik kearah Mimi.
"As you wish." Pria itu mengarahkan pistolnya kepada Mimi.
Mimi melihat tajam kearah pria itu, ia tidak takut mati jika itu demi pamannya. Karena ia tahu, kalau bukan karena pamannya ia mungkin tidak akan seperti ini.
Mimi mendengar suara tembakan dan saat itu pula ia melihat pamannya sudah di depannya.
Mimi melihatnya jelas, darah yang menyuar dari dada pamannya. Mimi terlalu terkejut untuk bertindak. Ia mendengar pamannya terjatuh tak berdaya di depannya. Ini semua seperti menjadi slow motion dimata Mimi.
Mimi menghampiri tubuh pamannya yang bercucuran darah. Peluru menembus tepat di jantungnya. Dilihatnya tak ada tarikan nafas terdengar lagi.
Ia merasa emosinya meluap-luap, tujuannya satu membunuh pria yang melakukan itu pada pamannya.
"Wah, dia bergerak cepat. Aku tak menyangka itu benar-benar mengenainya." Ujar pria itu santai.
Di sisi lain, Mimi merasa sulit mengambil nafas. Ia berdiri di samping tubuh pamannya yang sudah tak bernyawa.
Ia bahkan tak sempat mengucapkan terima kasih pada pamannya karena sudah merawatnya , ia belum meminta maaf karena sudah merepotkannya. Ia bahkan belum pernah memanggilnya dengan kata 'ayah'.
Mimi merasa sesak didadanya, ia kesulitan bernafas. Ia butuh melepaskan semuanya. Mimi menarik nafas satu-satu.
TO BE CONTINUED...
Jangan lupa vote ya guys..
KAMU SEDANG MEMBACA
Play With Me, Boys.
RomanceMimi tak percaya ia akan berada dalam situasi seperti ini. Sulit dipercaya memang, ia sebagai agent rahasia tak bisa melakukan apa-apa ketika berhadapan dengan dua pria ini. Dua pria berbahaya sedang berada di depannya saling menatap tajam seakan s...
