13 - Perdamaian Kecil

1.2K 104 0
                                        

"Kau... kenapa bisa melakukan itu?"

Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Rucarion ketika melihat pemandangan di depannya yang terbilang cukup aneh dan menyeramkan.

"Jangan bilang... pada siapapun..." ujar Lucianna sedikit ketakutan. Dia tidak percaya kekuatannya akan keluar di saat seperti ini.

"Aku tidak akan bilang, tapi... bagaimana caranya kau... melakukan itu? Setiap Recht memerlukan tongkat sihir untuk mengendalikan elemen." Ujar Rucarion hati-hati.

"Aku tahu... sejak dulu aku sudah diajarkan seperti itu. Tapi... entah kenapa, aku... bisa melakukannya... padahal aku ini Recht." Ujar Lucianna dengan mata berkaca-kaca.

"Aku tidak akan menceritakannya pada siapapun." Ujar Rucarion menenangkan gadis itu. "Lagipula aku baru mau memberitahumu kalau kunci mengendalikan sihirmu itu terletak pada emosi dan perasaanmu."

"Semakin takut, atau marah dirimu, kau akan semakin kuat, dan sihirmu semakin tidak terkontrol. Kau salah satu murid yang paling kuat dan cerdas di sini. Jadi aku rasa kau akan mengerti bahwa sihirmu bisa saja membunuhmu." Lanjut Rucarion.

"Ya, aku mengerti." Ujar Lucianna. "Ditambah kekuatan tadi, persentase aku akan mati terbunuh dengan kekuatanku sendiri akan semakin tinggi."

"Hhh... kemudian alasanku memanggilmu ke sini adalah... ini." Ujar Rucarion memerintahkan Lucianna mengikutinya. Mereka masuk semakin dalam ke arah hutan. Menyisir setiap semak dan dedaunan di jalan setapak yang mereka lalui.

"Ini, di sini." Ujar Rucarion percaya diri. Lucianna terbelalak, pemandangan di hadapannya ini sangat indah. Danau besar dengan air yang jernih, dilengkapi pemandangan langit sore yang bergradasi kemerahan.

"Mari kita ulangi perkenalannya. Namaku Rucarion Greene, 16 tahun, seorang Fire Bender. Salam kenal." Ujar Rucarion.

Lucianna membuang muka menyembunyikan senyumannya. "A-aku Lucianna White, 16 tahun, seorang Water Bender. Salam kenal." Ujar Lucianna dengan nada sedikit canggung.

"Aku menyuruhmu ke sini bukan hanya untuk mengulang perkenalan bodoh itu." Ujar Rucarion ketus. Kelihatannya sisi merahnya sudah muncul kembali.

"Aku memang agak kaget melihatmu juga bisa mengendalikan elemen tanpa perlu tongkat sihir, tapi asal tahu saja. Aku tidak tertarik dengan hal itu." Ujarnya lagi.

"Aku hanya memintamu untuk tutup mulut, bukannya tertarik." Balas Lucianna tak kalah ketusnya.

Rucarion terdiam, kemudian menyeringai. "Aku dengar kita berdua sama-sama memilih tujuan menjadi Dichornia ya?" Ujar Rucarion dengan nada yang aneh. Lucianna hanya bisa mengangguk.

"Tidak banyak yang memilih tujuan itu di sini. Dan masih belum ada lulusan Gynx Academy yang menjadi Dichornia." Jelas Rucarion. Lucianna tidak mau merespon lebih lagi.

"Tidak usah basa-basi, apa tujuanmu mengajakku ke sini?" Tanya Lucianna tidak sabar. Rucarion menghela napas berat.

"Aku mengajakmu untuk bekerja sama membunuh monster itu, Mr. Dat." Ujar Rucarion menahan emosinya.

"Mr. Dat? Kenapa kau ingin membunuhnya? Apa salah Mr. Dat padamu sebenarnya?" Ujar Lucianna tidak terima.

"Kau tidak perlu tahu alasanku, tapi ada sesuatu yang sudah dia renggut dariku. Menurutku dia juga memiliki aura yang aneh. Dan aku sudah sering mengamatinya, dia sering berbicara sendiri." Ujar Rucarion menjelaskan.

Semilir angin meniup mereka berdua, surai merah-putih milik Rucarion berterbangan dibelai oleh angin sore itu. Cahaya Areos, matahari planet Zenara menyinari wajah pemuda itu. Dapat dilihat oleh Lucianna bahwa dia tidak berbohong.

"Aura aneh seperti apa?" Tanya Lucianna. Belum sepenuhnya yakin kepada pemuda itu. Dia harus mencari kepastian yang sepasti-pastinya.

"Entah kenapa, aku merasa dia memiliki kontak dengan 'orang luar' mengenai informasi di sini. Dan seperti yang kubilang tadi, aku sering melihat dia sendirian sambil berbicara sendiri. Dan lagi, kemarin dia menyegel kekuatanku selama 3 hari. Karena aku ingin memastikan apakah dugaanku benar." Ujar Rucarion panjang lebar.

"Apa yang kau pastikan?" Tanya Lucianna penasaran.

"Bola api yang kulemparkan ke arahnya itu, adalah bola api dari mantra khusus yang kupelajari berbulan-bulan. Bola api yang hanya bisa dideteksi dan dirasakan oleh makhluk dengan niat jahat." Ujar Rucarion dengan tatapan bersungguh-sungguh.

"Tapi, Mr. Dat adalah guru yang baik menurutku. Dia tidak mungkin..." ucapan Lucianna terpotong.

"Aku tidak peduli dengan apa yang kau pikirkan mengenai Mr. Dat, aku hanya ingin membunuhnya. Kau tahu legenda mengenai suku Orbica yang jahat bukan? Aku rasa dia merasuki Mr. Dat." Ujar Rucarion dengan tatapan pasti.

"Hmm... aku rasa aku tahu, tapi... kenapa kau memilihku, Tuan Greene? Kau bisa saja memilih Rose, Mark, atau Justin bukan?" Tanya Lucianna penasaran.

"Kau memiliki apa yang tidak mereka miliki." Ujar Rucarion dengan tatapan datar, seolah-olah iri dan mencoba meremehkannya.

"Apa itu?" Tanya Lucianna semakin kebingungan.

"Keberanian, kecerdasan, dan kepandaian berbicara." Ujar Rucarion. "Jadi? Kau mau membantuku?" Tanya Rucarion sambil mengulurkan tangannya.

"Aku..." Lucianna benar-benar ragu saat itu, tapi beberapa saat kemudian dia mendongak menatap kedua mata bertipe 'odd eye' dihadapannya.

"Baiklah, akan kucoba." Ujar Lucianna menyambut uluran tangan Rucarion dengan ragu. "Jadi? Apakah kita berteman mulai sekarang?"

"Mungkin saja, aku masih menunggu maafmu, gadis gila." Ujar Rucarion datar kembali.

Lucianna membalasnya dengan senyuman sinis, "Aku tidak akan kalah dari pangeran palsu sepertimu. Aku akan memaksamu untuk mengucapkan kata maaf itu lebih dulu." Ujar Lucianna, tapi senyuman sinisnya kali ini mengandung arti persaingan secara sehat.

Rucarion tersenyum sekilas. Senyuman yang tulus dan ikhlas. Yah, mungkin saja Lucianna-lah yang pertama kali melihat sisi Rucarion yang seperti ini. Setidaknya hari pertamanya di sekolah yang berantakan, diakhiri dengan cukup baik.

"Hei, gadis gila! Menurutmu kenapa aku mengajakmu ke danau ini?" Ujar Rucarion pada akhirnya. Lucianna terdiam, benar juga... kenapa harus di danau ini?

"Emm, apa karena pemandangannya yang indah? Jadi lebih enak untuk dijadikan tempat mengobrol? Atau karena tempatnya jauh di dalam hutan?" Tebak Lucianna.

Rucarion menggelengkan kepalanya dengan sebuah seringaian. "Apa yang kau lakukan padaku hari ini, adalah mengguyurku berkali-kali dengan air. Jadi..." Rucarion mengangkat tubuh mungil Lucianna dan melemparkannya ke dalam danau. Gadis itu terkejut bukan main.

"Itu pembalasanku, aku pergi dulu." Ujar Rucarion santai, meninggalkan Lucianna yang basah kuyup di tengah danau. Sebagai pengendali elemen air, ini bukanlah sesuatu yang berbahaya.

Lucianna mendecih kesal. Tentu saja dia tidak terima diperlakukan seperti ini. Dia bisa saja membalas perbuatan Rucarion itu. Tapi, yah sudahlah... itu memang salahnya mengguyur Rucarion. Tapi hanya untuk kali ini Lucianna mengalah.

Sementara Rucarion? Dia berjalan santai ke arah gedung asramanya. Merasa bahwa dia sudah menang dari gadis gila itu. Dia lupa, bahwa gadis yang dia jadikan lawan itu adalah Lucianna White. Yang tidak mengenal ampun dan belas kasihan terhadap orang yang dia anggap salah.

Magtera RorantaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang