Sore itu, ketika mega mulai memancar, Nuha, sang guru tengah memakai sepatu di depan pelataran masjid. Tanpa meminta ijin sang guru, tangan Fathan dengan cepat membidikkan kamera ke arahnya dari jauh, beruntungnya lima potret ia dapat.
Potret Nuha yang beberapa hari lalu mendiami ponselnya pun seakan menjadi boomerang untuknya. Pasalnya foto sang guru dijadikannya wallpaper kunci beranda, Sedangkan, ponselnya kini, perempuan itu yang membawa. Celakanya lagi, Fathan lupa belum mengganti wallpaper cantik itu.
Bagaimana bila perempuan itu melihat gambarnya di layar ponsel sang murid? pasti ia tidak hanya marah lagi padanya seperti tempo lalu, tapi serta merta tahu tentang rasa suka Fathan terhadapnya.
Padahal, tadi Fathan sudah siap untuk mengambil benda berwarna putih itu, namun ketakutan akan dibenci Nuha membungkamnya, ia lebih memilih menundanya nanti sepulang sekolah, bel selepas istiharat tadi pun turut menyelamatkannya.
Sedari tadi Hanan mengajaknya bicara, namun disahutinya dengan asal. Sampai Nuha masuk ke dalam kelas mengucap salam, menarik lamunan Fathan ke dunia nyata.
"Perhatian semuanya! untuk acara haul nanti, kelas kita terpilih untuk turut memeriahkan panggung. Jadi, saya minta kalian didampingi ketua kelas silahkan berembuk di grup What's up. Penampilan apapun asal bermanfaat, saya akan setuju saja."
Mereka serentak mengiyakan, namun tangan Andre menjulur, "Kalau semisal idenya dari, Us sendiri gimana?"
Diam sejenak, Nuha memang sudah memiliki ide sejak kemarin. Tapi dirinya sedikit ragu, meminta murid-muridnya memainkan drama.
"Kalau dari saya, main drama atau mengcover salawat mungkin akan menarik."
"Iya, Us. Mending ikut ide Us saja. Lebih cepet dan hemat waktu. Biasanya anak-anak ini mana mau diajak mikir, " Andre menyulut kemarahan seisi kelas. Jujur sekali dirinya.
"Betul, Us. Mending ide dari Us saja. Kita sih, nurut aja, Us," Arwa yang biasa talkactive ambil suara.
"Coba saya vote dulu ya. Siapa yang mau main drama angkat tangan!"
Dengan sedikit ragu dua puluh dari tiga puluh lima anak mengangkat tangan. Sisanya bungkam.
"Ok, yang mau cover salawat?"
Hanya sepuluh tangan terulur. Keputusan memilih drama sebagai penampilan mereka pun diambil.
"Baikkah. Kalian setuju tidak jika saya menyarankan untuk mementaskan cerita dari Kalimantan, Legenda Batu menangis?"
Sebagian besar dari mereka mengiyakan saja, karena ide sang guru tidak begitu merepotkan, yang mana cerita tersebut pasti membutuhkan tokoh tidak banyak.
"Menurut saya sendiri, pesan moralnya bagus, dan saya rasa cerita ini juga jarang sekali dipentaskan. Untuk masalah peran, tolong Ndre, kamu nanti tentukan sendiri. Share saja di room chat."
Nuha pun meninggalkan kelas, setelah menyampaikan apa yang harus ia sampaikan, tepat disaat bel pulang memekakkan telinga.
Fathan jadi bermonolong sendiri, bingung antara pergi atau tidak ke ruang BK, tempat ponselnya berada. Apalagi melihat expresi Nuha yang tidak melemparkan pandangan ke arahnya sama sekali. Ia jadi frustasi. Ataukah dirinya yang terlalu berharap?
***
Fathan dengan ragu menapaki depan ruangan yang hanya di huni oleh Nuha. Mondar-mandir beberapa menit di sana. Keringat dingin menyapa, membayangkan gurunya itu menumpahkan amarah padanya. Namun, dirinya masih berharap keberuntungan masih berpihak padanya.
Sebelum mengetuk pintu, ia menghirup nafas sebanyak mungkin, lalu merapikan seragam.
"Assalamualikum!" ucapnya sambil mengetuk pintu.
Di lihatnya Nuha dari balik jendela kaca sedang merapikan meja dari tumpukan kertas. Sepertinya hendak bergegas pulang, terlihat tas hitam menggantung di lengannya.
"Waalikum salam. Iya masuk."
Suara decitan pintu menyusul. Fathan masuk dengan was-was.
"Ma-maaf Us, saya mau ambil Hp."
Sejenak Nuha melemparinya tatapan yang tak tahu artinya apa. Tatapan yang menurutnya semakin menambah kecemasan.
"Iya. Sebentar saya ambilkan."
Cowok itu mengambil kursi, lalu duduk berhadapan denganya.
Nuha membuka laci yang tak jauh darinya, benda persegi panjang putih brand apple itu diambil, lalu diserahkan pada Fathan.
"Terimakasih Us. Kalau gitu saya permisi dulu." Kakinya sudah ingin cepat melangkah pergi saja dari sana. Tapi kata-kata Nuha menahanya.
"Kamu ngapain nyimpen foto saya di hp kamu?"
Fathan yang kaget reflek menoleh, Nuha sudah berkacak pinggang.
Dirinya sungguh tak sanggup memberi jawaban.
"Tolong kamu hapus foto saya di hp kamu!" nada suara gadis itu meninggi.
"Jadi Us sudah--" Fathan merasa bersalah tak mampu melanjutkan. Hatinya diliputi kegelisahan
"Yang jelas itu tidak sopan,Fathan. Memotret seseorang tanpa izin, terlebih saya ini guru kamu!"
Fathan tak bergeming. Memang benar adanya dirinya bersalah. Ia sudah cukup malu dengan kejadia tempo lalu di toilet, dan sekarang dirinya ketahuan membuat ulah lagi. Entah kali ini Nuha bisa memaafkanya atau tidak, dan baru saja ia ingin berujar.
"Maaf Us. Saya--"
"Jangan bilang kalau kamu tidak sengaja? itu bukan alasan!"
"Saya yang salah Us. Maafkan saya. Saya rela di hukum apa saja, terserah Us," Fathan menunduk tak berani perempuan di hadapannya.
"Saya minta kamu hapus Foto saya sekarang juga!" Perintah Nuha yang masih dalam mode nada tinggi.
"Baik Us." Dengan gemetar Fathan mengapus semua potret gurunya.
"Dan sekarang silahkan kamu
pergi!"
Fathan mendongak dan tak percaya bahwa Nuha bisa semurka itu. Ia memang pantas mendapatkanya.
"Baik Us. Saya permisi dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Nuha dalam hati.
Dia pulang dengan segunung kegelisahan dan rasa bersalah. Bukannya membuat perempuan itu terpesona, sebaliknya dirinya sendirilah yang melahirkan stigma buruk di mata Nuha, membuat perempuan itu bertambah ilfil saja.
****
Di sepanjang jalan, tak lepas-lepasnya Fathan memikirkan masalah yang baru menimpanya tadi. Ah, mengapa, sih perempuan itu begitu hebat mengeruk fokusnya, meski Fathan baru mengenalnya.
Terasa buntu menemukan solusi agar sang guru memberinya maaf. Tak mengapa meski rasa sukanya tak berbalas, asal Nuha mau melebarkan senyum lagi padanya, seperti sang guru melempar senyum pada murid-muridnya.
Pikirannya semakin berkecamuk tatkala manik matanya menyaksikan kondisi rumah yang seperti kapal pecah. Popcorn bertebaran di mana-mana, sampah-sampah makanan ringan memenuhi shofa dan meja. Belum lagi tumpahan orange juice, dan juga kaos kaki bercampur jadi satu semakin menyulut emosi Fathan. Sudah tahu tak ada asisten rumah tangga di rumah mereka, tapi sang Kakak tak mau tau, tetap mempertahankan sifat antinya pada kebersihan.
"Kakaaaaaak!" teriaknya dari ruang tamu.
Sayangnya, tak ada suara yang menyahut dari dalam, Fathan sudah memastikan Hilya tertidur pulas di kamarnya. Lagi-lagi dirinya yang harus berkorban, membersihkan semua kekacauan yang ada. Jaminan menjadi adik yang umumnya di sayang kakak memang tak berlaku untuk Fathan. Kakaknya baik jika ada orang tuanya saja. Tapi ketika mereka tak di rumah, jangan berharap Hilya mau memerankan figur seorang kakak yang baik, tidak mengotori rumah saja sudah alhamdulillah.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love You Ustadzah (Lengkap Dan Revisi)
RomanceLebihkan cintamu hanya untuknya, bukan pada ciptaanya yang belum tentu adalah taqdirmu ~Nuha~ Cinta itu sederhana, tapi untuk melupakanya tak sesederhana itu 1 in Membaca 5 in Pesantren (Sabtu, 22 Sept...
