26

8.6K 303 36
                                        

Iqbal mengejar Salsha secepatnya. Untung saja Salsha belum jauh,Salsha dan Danian baru akan membuka pintu.

"Saa jangan kalian yang pergi,biar aku aja. Aku gak bisa nyuruh kalian pergi meninggalkan rumah. Jadi aku aja yang pergi dari rumah. "Ucap Iqbal lirih. Ia menatap Salsha dalam,Salsha menatap Iqbal dengan wajah super datarnya. "Untuk apa sih kamu rela berkorban untuk wanita murahan dan bukan darah daging kamu? gak guna"Desis Salsha. Iqbaal menggelengkan kepalanya baginya Danian adalah anaknya darah dagingnya,meskipun ia ragu akan Danian tapi nanti Ia akan mencari kebenaran itu semua. Ia sayang keluarga kecilnya Ia memang marah,kesal dan emosi tapi bukan berarti Ia ingin rumah tangganya hancur.

"Bukan gitu Saa. "Ucap Iqbal berusaha mendekati Salsha. Tapi Salsha dengan cepat mengangkat tangannya dengan gerakan memajukan tangannya kedepan. "Jangan mendekat,kamu raguu kannn Balee kalau Iyan anak kamu?"Tanya Salsha dengan menaikkan alisnya. Dan Salsha berharap Iqbal akan menggelengkan kepalanya,dan ia tidak ragu akan Danian. Tapi Iqbal tak kunjung menjawab dan Salsha tahu jawaban itu. Ia kembali menarik kopernya menjauh tapi dengan cepat Iqbal memegang pergelangan tangan Salsha. "Aku yang pergi! Kamu tetap disini,dan buat Iyan aku bakal cari kebenarannya tapi satu hal yang kamu harus kamu tau aku sayang Iyan dan Kamu. Aku pergi bukan berarti setuju kalau aku cerai aku cuman mau kita mencari ketenangan masing masing. "Jawab Iqbal,Salsha terdiam mendengar penuturan dari Iqbal. Hatinya sedikit sakit mendengar perkataan Iqbal yang akan mencari kebenaran tentang anaknya berarti Iqbal tidak mempercayai mereka. Salsha menahan air matanya sekuat tenaga,sedangkan Danian masih terlelap dalam pangkuan Salsha. "Dan aku harap saat kebenarannya sudah terungkap,kamu gak usah datang untuk minta maaf karena hati aku sudah terlalu lelah untuk memaafkan. "Sarkas Salsha Ia menatap Iba Danian yang tertidur dengan wajah yang sangat pulas. Ia kasihan kepada anaknya yang kini tengah diragukan oleh ayah kandungnya. Iqbal cuman terdiam mendengar penuturan Salsha Ia sendiri masih bingung harus percaya sama siapa,Ia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. "Aku pergi,Jaga anak kita"Pamit Iqbal melangkah pergi.

"Ralat,aku bakal jaga anak aku bukan anak kita"Ucap Salsha menahan tangisnya,Ia segera beranjak keatas untuk kekamarnya. Iqbal hanya dapat menghela napas ia melangkahkan kakinya keluar rumah kini tujuannya hanya satu apartementnya.

Iqbal menidurkan Danian dikasur miliknya Ia tidur disamping Danian,ia membelai lembut wajah sang putra kecilnya lalu ia mengecup pelan wajah gembul Danian. "Bunda sayang Iyan,cepet gede yah sayang. Bunda beruntung punya kamu bunda gak pernah nyesel"Ucap Salsha sambil memeluk Danian. Pikiran Salsha kemana mana didalam hatinya yang paling dalam Ia mengkhawatirkan suaminya. Bagaimanapun Iqbal adalah suaminya ayah dari anaknya meskipun Iqbal ragu akan itu. "Dia anak kamu bale"Lirih Salsha,air mata Salsha sudah jatuh begitu saja. Ia mengingat semua kenangan akan dirinya dan Iqbal dimasa dulu. Dimana Iqbal akan selalu berusaha buatnya tersenyum.

Flasback on

Salsha dan Iqbal tengah berada dikoridor sekolah. Tangan mereka selalu bertautan. Mereka terlihat bahagia.
"Saa kamu tau gak?"
"Tau apa?"
"Gak apa apa"
"Iqball ihh apaa"
"Apanya yang apa"
"Apaa!!"
"Iyaa apa!!"
"Apaa sih!"
"Apanya apa aja intiny aku sayang kamuu"

Salsha terdiam wajahnya merah menahan malu. Iqbal selalu saja seperti itu tapi Salsha bahagia. Ia suka dengan kelakuan Iqbal.

"Seriuss ihhh!!"Ucap Salsha memukul pelan lengan Iqbal. Iqbal terkekeh Ia menatap Salsha lalu tersenyum lagi.
"Iyah aku serius sama kamu"Jawab Iqbal lagi. Salsha semakin malu dibuat Iqbal

Flashback off.

Salsha terkekeh mengingat semua kenangan itu,Ia merindukan Iqbalnya yang dulu. Air mata Salsha sudah jatuh begitu saja tapi dengan cepat ia menghapus air matanya."Saa lo kuat! Lo harus kuat Iyan butuh lo jangan sedih"Ucap Salsha menguatkan dirinya. Kini ia memejamkan matanya ia terlarut dalam mimpi. Terkadang Salsha berpikir terkadang ia ingin selalu tidur saja karena Mimpinya lebih indah dari pada dunianya.

Young ParentsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang