"Sono lo,Sahabat lo itu"Ucap Ari mendorong bahu Bastian dan Kiki. Mereka kini tengah menatap Iqbal dan Aldi yang duduk saling membelakangi dengan tatapan kosong. Kalau Iqbal mereka sering melihat Dia merasa sedih. Karena Mereka tahu otak Iqbal masih berfungsi. Nah yang jadi masalahnya adalah Aldi.
Aldi orang yang selama ini tidak pernah sedih. Dia selalu berusaha tersenyum dan tertawa. "Bego sahabat lo juga njir! Barengan aja!"Ucap Kiki mendorong Ari.
Mereka sedari tadi saling mendorong untuk mendekat kearah Iqbal dan Aldi. Mereka tidak berani karena mereka berpikir bahwa kedua orang itu tengah kerasukan jin.
"Sama sama elah!"Ucap Bastian mendorong kedua temannya itu. Iqbal dan Aldi sontak menoleh kearah keributan. Mereka hanya cengengesan saa ditatap. Mereka berjalan mendekati Iqbal dan Aldi.
"Ngapain lo pada?! Rindu ama gue?!"Ketus Aldi. Bukannya seram mereka malah menjitak kepala Aldi.
"Jijikk akutuh! Kalian kenapa sih pada melamun kerasukan ya lo berdua?!!"Gumam Bastian memandang mereka curiga. Aldi dan Iqbal berpandang sejenak. Lalu mereka mengangguk.
"ANJIR!!"teriak Bastian,Kiki,dan Ari kompak. Mereka mulai mengambil langkah mundur menjauhi Iqbal dan Aldi. "Ada apa ini?"Tanya Juan menatap mereka satu satu.
"Keserupan noh Bang Ju"Ucap Ari menunjuk Iqbal dan Aldi yang sudah kembali melamun. Juan terkekeh melihat perlakuan mereka. "Iyah,Udah tahu. Kerasukan Jin Cinta"Ucap Juan dengan nada bercanda akan tetapi dianggap serius ketiga pria disampingnya itu.
"Emang ada Bang?"Tanya Kiki menatap Juan antusias. Juan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Disaat seperti ini ada pertanyaan muncul dibenak Juan. POLOS sama BEGO itu sama apa gimana?
"Udah udah! Tidur sana besok kita mau lanjutin pencarian Salsha dan Bella"Ucap Juan. Ia hanya tak ingin terjebak dalam pertanyaan konyol ketiga remaja ini. Mereka menganggukkan kepala mereka lalu masuk kedalam tenda masing masing.
***
"Sial! Gue harus mikir sendiri nih gimana caranya keluar! Sall bangun dong"Lirih Bella menatap Salsha yang terkulai lemas. Didalam pikiran Bella cuman satu bagaimana cara bebas dan bawa Salsha kerumah sakit? Sungguh Bella menyanyangi Salsha. Menurut Bella,Salsha,Steffi,dan Cassie itu adalah penyemangat hidupnya selain keluarga dan bisa jadi Aldi😁.
"Bell"Panggil Salsha lemas menatap Bella. Bella langsung menghapus air matanya lalu menatap Bella dan tersenyum. Ia tak ingin menambah beban pikiran Salsha.
"Kenapa? Lo lapar apa gimana?"Tanya Bella sambil menatap Salsha. Salsha menggeleng lemas. Salsha sebenarnya malu mengakui ini tapi mau gimana lagi.
"Badan gue lengket. Boleh minta tolong ambilin air anget sama lap gak?"Tanya Salsha dan Bella tersenyum lembut lalu mengangguk. Bella mendekati pintu. "Woiii!!! Minta air anget sama lapp!!"Teriak Bella menendang pintu. Astaga Brayn yang sedang menyesap kopi tersedak mendengar teriakan yang begitu merdu itu. Brayn menganggukkan kepala menatap pengawal agar mengambil kebutuhan gadis itu.
"Nih"Ucap Brayn menatap Bella lekat. Bella mengambilnya dengan nada datar. Jika dulu dia menganggumi Brayn maka sekarang Ia membenci Brayn.
"Makasih Bell. Sini"Ucap Salsha berusaha menggapai kain dan Air itu. Bella menjauhinya. "Gue aja!Gak ada bantahan"Ucap Bella sambil tersenyum.
Salsha bersyukur mendapat sahabat sebaik Bella. Brayn juga tersenyum Ia semakin tertarik dengan Bella gadis yang sangat peduli. Bella menatap tajam kearah Brayn.
"Keluar lo! Lo mau intipin temen gue ha!"Ketus Bella. Brayn menggelengkan kepalanya dan segera pergi meninggalkan Bella dan Salsha.
Bella mulai mengelap wajah Salsha dan tubuhnya. Bella berusaha menahan tangisannya ketika melihat tubuh Salsha yang mengurus dan tambah pucat. Bella tidak habis pikir penculik mereka sangatlah jahat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Young Parents
Fiksi Remaja"Kenapa kamu pakai hamil sih? aku masih mau hidup seperti remaja lain! Jika nanti aku membuatmu terluka aku hanya bisa minta maaf" Iqbal Ramadan Alaska. "Ishhh!! salah siapa coba? siapa yang bikin aku hamil? ya kamu! aku juga ingin seperti yang lain...
