6

173 10 3
                                    

Harusnya salah satu dari kita berani memulai

***

Saras menatap kalender di hadapannya. Kepulangan ayahnya tinggal tiga hari lagi, tapi ada perasaan tak nyaman yang menyelimuti hatinya.

"Kenapa, sih, liatin kalender terus?" Tanya Pram yang baru saja keluar dari kamar.

Saras menggeleng kecil.

"Kok tumben nggak senyum? Kenapa?" Tanya Pram.

Saras mengangkat bahunya. "Ngga tau, kak. Rasanya ada yang aneh sejak kemarin."

"Ada masalah sama pacar kamu?"

Saras diam. Sejak kemarin, ia tidak menemukan Rayhan walaupun hanya sepeda motornya. Ingin datang ke kelas untuk mencari rasanya malu, ingin mengirim pesan rasanya canggung.

Pramudya menyentuh bahu adiknya dengan lembut. "Santai aja kali. Namanya pacaran itu pasti ada masalah. Cuman, kakak nggak bisa bantu nyelesaiin kalau kamu nggak cerita, kan? Makanya cerita sama kakak, sekalian kenalin juga ngga papa."

"Saras berangkat, ya." Saras segera mencium tangan Pram, lalu melangkah meninggalkan rumah. Ia tak mau Pram menanyakan lebih banyak perihal masalahnya dengan Rayhan.

✈✈

Entah sudah berapa kali Saras menghapus pesan yang akan dikirimkannnya ke Rayhan. Ia merasa sulit sekali untuk menunjukan kekhawatirannya pada Rayhan.

"Apa gue udah jatuh cinta sama Rayhan?" Tanya Saras pada dirinya sendiri. "Tapi masa iya, sih?"

Saras mengalihkan fokusnya kembali ke buku yang ada di mejanya. Sayangnya semuanya percuma, ia masih terus memikirkan Rayhan.

"Pokoknya gue tepatin perasaan gue. Gue nggak mau punya hubungan yang nggantung sama Rayhan."

✈✈

@rayhan.arsyf

Ray, ini aku. Saras. Aku rasa kita perlu bicara lebih serius tentang hubungan kita. Kita tidak akan bisa terus berjalan kalau memang tak ada yang mau memulai.
Aku sudah pernah bilang tentang kakakku yang ingin kamu datang ke rumah. Sekali lagi, jika kamu serius tolong beri aku pembuktian.
Jujur, Rayhan. Aku masih ragu.

Saras akhirnya mengirimkan pesan lewat dm akun instagram Rayhan. Menurutnya, ini akan lebih formal daripada mengirim pesan lewat whatsapp.

"Saras?"

Saras mengangkat kepalanya. Matanya menangkap sosok Bayu yang duduk di atas motornya.

"Eh, Bayu."

"Bareng gue, yuk?"

"Ke tempat latihan?"

"Ya, iyalah. Mau kemana lagi?" Jawab Bayu. "Daripada naik angkot masih lama, ntar telat lho."

"Gue nggak bawa helm."

Bayu tertawa kecil. "Ngga usah khawatir, ntar gue lewatin jalan tikus biar nggak ketilang. Gimana?"

"Nggak usah, deh."

"Udah nggak papa. Ayo!" Paksa Bayu.

Saras pun akhirnya naik ke jok belakang motor Bayu.

"Siap? Jangan lupa pengangan," Bayu segera memacu motornya menuju tempat latihan.

✈✈

Suara rintik hujan bagaikan pelengkap sendunya melodi yang dimainkan di aula latihan sore ini. Seperti kemarin, Antariksa Bagaskara Orkestra Muda masih memainkan melodi yang sama untuk persiapan lomba.

"Saya akan memberi pengumuman. Bagi kalian yang ingin masuk tim inti ABO kalian bisa mengikuti seleksinya setelah lomba ABO-Muda. Jika kalian bisa menang dalam perlombaan itu, kalian bisa masuk ke tim inti ABO dengan lebih mudah." Jelas Krena selaku pelatih formasi tim ABO-Muda. "Latihan selesai hari ini.

"Terimakasih, Pak!"

"Ras, pulang sama gue, ya?" Ajak Bayu.

Saras tersentak ketika hendak mengembalikan cellonya. "Gue dijemput Kak Pram."

"Bareng gue aja. Gue udah lama nggak main ke rumah lo."

"Ngapain main ke rumah? Ayah pulang masih tiga hari lagi."

"Ya, kan gue bisa ngobrol sama Kak Pram. Gue kan juga pengen masuk psikologi kaya kakak lo."

Saras terdiam sejenak. "Ya udah, deh."

Bayu tersenyum simpul.

✈✈

"Sori, ya. Lo kehujanan gara-gara gue nekat pengen nganterin lo." Ucap Bayu saat mereka sudah sampai di halaman rumah Saras.

"Nggak papa, kok. Lo masuk dulu aja, ntar gue buatin minuman anget. Lo juga pinjem baju kak Pram dulu, aja. Kasihan tubuh lo."

"Nggak usah. Gue langsung balik aja. Lain kali gue mampir lagi. Nggak enak kalau ngerepotin."

Saras mengangguk. Bayu pun segera memacu kendaraannya meninggalkan rumahnya.

"Subhanallah, Saras. Kamu kenapa bisa basah kuyup begini?!" Teriak Pram ketika melihat Saras berdiri di teras dengan pakaian yang basah kuyup. "Mandi cepat!"

Saras segera berlari masuk untuk membersihkan diri.

✈✈

Malam ini, Saras masih diserang keraguan. Pesan yang dikirim Saras pada Rayhan tadi siang belum dijawab, bahkan dibaca saja belum.

Perasaannya mulai berkecambuk. Mungkinkah selama ini ia belum mencintai Rayhan? Mungkinkah getaran saat bersama Rayhan hanyalah getaran rasa canggung dan bukan cinta?

Jika boleh jujur, Saras akan mengatakan bahwa ia lebih nyaman bersama Bayu daripada Rayhan. Baginya, Rayhan terlalu misterius dan sulit ditebak. Ia tak tahan dengan sikap lelaki itu.

Dan sekarang Saras harus mengambil keputusan, sebelum ada yang tersakiti. "Gue harus jaga jarak sama Rayhan sampai dia berani datang ke rumah." Tekadnya.

"Maaf, Rayhan. Gue terlalu takut untuk buat lo terluka."

✈✈

Cara memberikan support terbaik adalah memberikan vote dan comment. So, don't forget it!

Love,
darklatte_ 🌼

RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang