29

105 7 4
                                    

Bahagia yang baru??

✈️✈️✈️

Sudah dua hari lebih Rayhan meninggalkan rumah. Bahkan, bekas lukanya masih sedikit terlihat. Lebam di sebagian besar wajahnya.

Memang hari sudah malam, entah dimana dirinya harus menginap. Lebih tepatnya, ia belum dapat menemukan sebuah kontrakan yang pas dengan persediaan uang yang ia bawa.

Keadaannya sangat buruk sekarang. Bahkan ia lupa membawa charger. Beginilah nasibnya sekarang, bahkan ia tak tahu dimana ia sekarang.

Mobilnya tiba-tiba saja berhenti di depan minimarket. Sekadar membeli makanan dan minuman untuk mengisi kekosongan lambungnya.

"Aa' teh, mau cari apa?" tanya seorang pelayan.

"Nggak, saya cuma mau cari makanan dan minuman." ucap Rayhan.

Rayhan membolak-balik makanan dan minuman. Mencari yang cocok untuk dirinya. Setelah selesai, ia segera menuju ke kasir.

"Sudah, A'?" tanya kasir wanita itu. Rayhan mengangguk, lalu mengeluarkan selembar uang limapuluh ribuan.

"Itu teh, wajah Aa' kunaon?" tanya kasir itu.

"Nggak papa, mbak. Oh ya, ini kawasan mana ya?" tanya Rayhan ragu.

"Garut, A'. Ya sudah, ini belanjaan A'." ucap kasir wanita itu sopan.

Rayhan segera pergi keluar. Dilihatnya dua brandal yang tengah mengintai mobilnya. Gerak-gerik mereka terasa mencurigakan. Sampai Rayhan berteriak pada keduanya.

"Woy! Ngapain kalian liatin mobil gue! Mau maling ya!" seru Rayhan, lalu menghampiri mereka.

Tiba-tiba saja keduanya malah menyerang Rayhan begitu saja. Belum juga luka Rayhan kering, malah ditambah lagi.

Perkelahian itu berhenti ketika seorang gadis datang untuk mengancam kedua brandal itu. Banyak pukulan yang diterima oleh Rayhan. Kini, dirinya berdiri dengan bersandar pada tubuh mobil.

Gadis itu menghampirinya. Memberanikan diri untuk menyentuh bahu milik Rayhan.

"Aa' teh, teu nanaon?" [ Kakak tidak apa-apa?]
tanya seorang gadis yang dirasa cukup muda darinya.

"Ha? Saya nggak nger,-" belum sempat merampungkan ucapannya. Rayhan sudah pingsan terlebih dahulu, jatuh di bahu gadis itu.

Gadis itu tersentak, jantungnya malah berdetak terlalu kencang ketika dagu tegas milik Rayhan menempel diantara bahu dan punggungnya.

"Aa', bangun atuh!" seru gadis itu kepada Rayhan.

Rayhan sama sekali tak bergeming. Akhirnya gadis itu meraih kunci yang terlihat jelas di saku celana Rayhan.

"Aa', saya teh minta maaf. Saya nggak maksud." ucapnya saat mengambil kunci itu.

Lalu, dimasukkannya Rayhan ke dalam mobil. Ia menyetir dan tak lupa membawa belanjaan Rayhan. Ia akan membawanya ke rumahnya, pasalnya ia tak tahu dimana rumah Rayhan.

✈️

Gadis itu segera masuk ke dalam rumahnya. Mencoba memberitahu kepada kakaknya.

RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang