28

110 11 0
                                    

Secercah pertemuan.

**

Semalaman, Saras hanya berkutat dengan lembar sketsa diri Rayhan yang berusaha dirampungkannya.

Saat tengah mengarsir gambarannya, sebuah panggilan masuk membuat ponselnya berdering. Saras tersenyum, lalu mengangkatnya.

"Halo, kak! Udah kangen aja, nih!" Sapa Saras dengan riang.

"Gimana kamu di Surabaya? Baik?"

"Aku kan selalu baik di mana pun."

"Tadi, Rayhan ke sini, Ras."

Saras langsung melepaskan pensil di tangannya. Matanya langsung menatap ke lembar sketsa di hadapannya. Ia seakan tak bisa mempercayai ucapan kakaknya sendiri. "Serius?"

"Iya. Dia sepertinya ingin sekali bertemu denganmu,"

Saras mengumpat dalam hati. Andai dia tau bahwa Rayhan akan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat, ia akan menunda keberangkatannya ke Surabaya. Setidaknya untuk sekedar memeluk lelaki itu, atau memintanya bercerita panjang lebar tentang kehidupannya di Semarang.

"Tidak apa-apa, kak. Mungkin belum saatnya kita bertemu." Jawab Saras mencoba ikhlas, tapi semuanya berlangsung terlalu singkat, hingga ia tak bisa ikhlas begitu saja.

"Kakak beri tahu dia nomor ponselmu yang baru."

"Iya. Terimakasih, kak."

Saras memutuskan sambungan teleponnya. Rasanya, ada sebuah terkaman hebat yang mengenai dada Saras hingga sulot sekali untuknya bernapas normal.

✈✈

"Bulek, ada yang bisa Saras bantu?" Tanya Saras.

"Kamu mau bantu?" Tanya Nirbita. "Bisa minta tolong bikinkan teh buat pakde?"

Saras mengangguk. "Iya, bulek." Saras segera bersiap untuk membuat teh. Dapur akan selalu ramai di pagi hari, mengingat Bibinya punya warung makan, jadi kesibukan dapur bertambah.

"Arifin di mana, Bulek?"

"Masih tidur. Kamu nanti jalan-jalan saja, ya, sama Arif. Kalau mau bantu-bantu jualan besuk saja. Biar kamu liburan dulu, ya?"

Saras mengangguk. "Iya, Bulek."

Hari ini, Arifin mengajak Saras untuk keliling 'calon kampus' mereka. Katanya, sekalian Arifin mau mengambil jaket fakultas yang dipesannya pada kakak tingkatnya.

"Ini fakultas lo."

"Iya. Aku bisa baca." Jawab Saras ketus.

Motor Arifin berhenti di depan gedung fakultas teknik. "Katanya mau ambil jaket. Kok berhenti di sini?" Tanya Saras heran.

"Iya. Ini juga mau ambil."

"Katanya masuk kedokteran?" Tanya Saras. "Heh! Lo bohong, ya!" Seru Saras curiga.

Arifin hanya tersenyum kecil. "Aku kan dokternya mesin."

"Heh?!" Saras terkejut. "Keterlaluan lo bohongin gue!"

"Ya, salah sendiri lo percaya aku masuk kedokteran. Nggak bakalan bisa!" Arifin tertawa jahil melihat ekspresi Saras.

RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang