18

143 11 6
                                    

Sulit.

**

Saras menggenggam erat tas yang dibawanya. Ia tak sanggup untuk mengungkapkan keinginannya yang sudah disiapkan. Ucapan perpisahan Rayhan membuatnya tak bisa bercakap.

"Ras, saya antar pulang, ya?" Tawar Rayhan.

Saras menggeleng. "Kamu bisa pulang duluan. Aku tau kamu perlu menyiapkan barang-barangmu."

"Bagaimana denganmu?"

Saras mengangkat kepalanya, menyiapkan diri untuk menatap Rayhan. "Aku dapat pesan untuk berkumpul dengan anak orkestra."

"Tapi, ini sudah malam, Ras."

"Iya. Aku baru saja membuka ponsel, karena sejak tadi bersamamu. Kalau mau, kamu bisa mengantarku ke kafe tempat kami berkumpul." Jawab Saras.

"Kamu yakin? Sudah izin Kak Pram?"

Saras mengangguk.

"Baiklah. Saya antar."

Saras tersenyum kecil. Mereka pun melangkah keluar.

Tak jauh dari tempat Rayhan dan Saras menikmati makan malam, Rayhan menghentikan motornya. "Nggak papa sendirian?"

"Aku nggak sendirian, Ray."

"Ya sudah. Kalau ada apa-apa tolong kabari saya, ya?"

"Selalu,"

Setelah Saras melewati pintu kafe, barulah Rayhan meninggalkan kafe. Ia menuju rumah Saras, untuk memberi kabar Pram. Ya, Rayhan tau Saras hanya mencari alasan agar bisa sendiri, karena itu ia meminta Pram menjemput Saras jika sudah terlalu malam.

Sedangkan Saras, ia memesan minuman macha kesukaannya. Duduk di kursi atas yang dekat dengan jendela besar kafe tersebut. Sendirian. Menatap ramainya ibu kota di malam minggu.

Saras membuka tasnya. Melihat sebuah amplop berwarna hitam yang tadi hendak diberikan pada Rayhan. Amplop itu adalah tiket untuk perlombaan orkestranya minggu depan. Ia ingin Rayhan datang.

Saras tak bisa menahan air matanya. Semuanya terlalu cepat berlalu. Ia pikir setelah ia jatuh cinta, mereka bisa kekasih yang mesra. Tapi, ruang sudah tak menyediakan tempat untuk mereka bersama.

Kalau Rayhan ke Semarang, haruskah aku mencarinya suatu saat nanti?  Saras menanyakan kemungkinan apa yang bisa ia lakukan.

"Saras."

"Kak Pram?"

"Kamu kenapa di sini? Ini sudah malam. Ayo pulang!" Ajak Pram.

"Rayhan sudah bilang pada kakak tentang kepergiannya," suara Pram melembut. "Kakak tidak tau urusanmu dengan Rayhan, tapi kakak nggak mau kamu kaya gini! Hidupmu masih panjang. Dengan atau tanpa Rayhan, kamu harus bisa melanjutkan mimpimu."

Saras menatap kakaknya dengan sendu. "Kita pulang aja, kak. Aku nggak mau bahas Rayhan sekarang."

✈✈

Sampai tengah malam, Saras terus berkutat dengan celo-nya. Ia memainkan beberapa lagu yang sudah fasih ia mainkan. Sesekali ia membuka ponselnya untuk mencari lagu baru. Saat membuka ponsel, ia sengaja tak mempedulikan pesan-pesan dari Rayhan yang menanyakan kondisinya.

Bagi Saras, seharusnya Rayhan sudah mengerti kondisinya sekarang. Jadi, ia merasa tak wajib untuk menjawab pesan-pesan dari Rayhan.

"Ras, kamu belum tidur?" Tanya Pram sambil mengetuk pintu kamar Saras. "Sudah malam, Ras. Kamu harus istirahat."

Saras membuka pintu kamarnya, lalu tersenyum. Matanya sembab, wajahnya terlihat lelah, bahkan tangannya sudah kemerahan karena terlalu lama bermain celo. "Saras, belum ingin tidur, kak." Jawab Saras.

"Tidurlah, Ras. Kamu butuh istirahat. Kakak harus berangkat pagi-pagi sekali."

"Kalau begitu, kakak yang harus istirahat. Saras tidak apa-apa."

Pram memegang bahu Saras. "Istirahat!" Suruh Pram dengan lembut. "Kakak, akan menemanimu."

"Tidak usah. Aku akan istirahat sendiri," Saras langsung menutup pintu kamarnya.

Tengah malam, Saras meraih ponselnya. Ia membaca beberapa pesan dari Rayhan yang menggambarkan betapa khawatirnya Rayhan dengan kondisinya.

Setelah meneguhkan hati, Saras mengirim pesan untuk Rayhan.

To : Rayhan A
Ray, selamat menikmati cerita barumu di Semarang. Aku tidak bisa berharap apapun lagi padamu, termasuk kembalimu.

Kamu boleh memiliki wanita lain saat di Semarang, aku ikhlas. Karena aku dan kamu hanya tentang Jakarta. Kita akan terbatas oleh ruang yang luas.

Aku tidak peduli akan ada berapa kekasihmu di Semarang. Yang kutahu, saat kamu di Jakarta kamu adalah milikku dan aku pun milikmu.

Aku tidak suka hubungan yang penuh jarak. Karena itu, kita, terutama aku akan merasa sangat kesulitan. Jadi, kita tunggu saja pertemuan kita selanjutnya. Apakah kita bisa saling menemukan dengan perasaan yang masih sama atau tidak.

Kamu pasti akan sulit menghubungiku setelah ini.

✈✈

Minggu pagi, Saras duduk di bangku di bawah pohon di depan rumahnya. Ia akan selalu mendongak ketika mendengar pesawat melewati langit di atasnya. Ia berusaha melupakan ketakutannya. Ia ingin melambain ke arah Rayhan yang akan menempuh perjalanan menuju mimpinya.

Ketika suara adzan dzuhur berkumandang, Saras bergerak untuk melepaskan kalung yang ia dapatkan dari Rayhan. Dimasukkannya kalung itu ke dalam sebuah kotak beserta nomor ponsel yang digunakannya untuk menghubungi Rayhan semalam.

"Kalau kita bertemu dengan perasaan yang masih sama, aku akan membukanya lagi. Maaf, Rayhan. Terlalu menyakitkan saja jika kamu ingin membuatku bahagia di akhir keberadaanmu."

Saras menutup kotak itu, lalu melapisinya dengan sebuah plastik beberapa kali. Ia pun mengubur kotak itu dengan sangat hati-hati. Di dekat pohon rumahnya. Berharap, sang akar mau menguatkan cintanya pada Rayhan dan tumbuh subur sampai ruang mengizinkan mereka bertemu ulang.

✈✈

Sayangnya, Saras terlalu lemah untuk LDR :")

RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang