36

107 7 0
                                    

Menata cata terbaik untuk melepaskan.

**

Hari ini, Saras menghabiskan waktunya untuk melepaskan rindu pada celo kesayangannya. Jika  lelah, ia pergi ke warung depan untuk membantu mencuci piring atau sekedar mengantarkan pesanan.

"Kamu bisa main musik ternyata." Ucap Arifin yang berdiri di ambang pintu kamar Saras.

"Mau ngapain?"

"Dih, galak."
"Lo kemarin nggak diapa-apain sama Mas Adit, kan?"

Saras melempar penghapusnya ke arah Arifin. "Kalau ngomong nggak bisa yang bener apa?!" Teriak Saras.

"Ya, kan, aku cuman memastikan."

"Bego."

"Biarin, yang penting ganteng."

"Nggak peduli." Saras tak acuh dengan Arifin yang suka menggodanya.

"Eh, dicariin tuh."

Saras melihat ke arah Arifin mencari kebohongan di matanya. "Nggak mungkin."

"Seriusan. Nggak bohong ini."

Saras mengeram kesal. "Gini, ya, Arifin. Saya ini orang baru di sini. Jadi, tolong nggak usah ngibul sesuatu yang nggak mungkin terjadi."

"Serius, Ras. Kali ini nggak bohong, deh."

"Arifin. Aku di sini cuman kenal sama keluarga ini aja. Nggak ada yang lain."

Arifin melangkah masuk ke kamar Saras. Ia meraih tangan Saras untuk keluar secara paksa.

"Tuh!"

"Mas Adit nyariin gue?" Tanya Saras tak percaya.

"Emang, nyet."
"Buruan ke sana!"

Saras dengan ragu melangkah mendekati Adit yang berdiri membelakangi pintu depan.

"Mas Adit?" Panggil Saras ragu.

Lelaki itu berbalik dan menyuguhkan wajah teduh milik Adit.

"Ada apa, Mas? Nyari Arifin?" Tanya Saras.

"Nggak. Nyari kamu."

"Aku?" Seru Saras terkejut. "Ada apa memangnya?" Tanya Saras gugup.

Adit bergerak untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyodorkan sebuah buku sketsa pada Saras. "Maaf soal gambaranmu saat di perpustakaan hari itu. Aku tidak suka digambar saja."

Dengan ragu, Saras menerima buku sketsa tersebut. Perlahan, ia membuka lembar pertama buku tersebut. Sebuah sketsa yang lebih sempurna dari yang pernah dibuatnya.

"Maaf, hanya bisa mengganti dengan itu." Ucap Adit.

Saras masih terpaku dengan gambar pada lembar buku sketsa tersebut.

"Sudah. Aku permisi." Pamit Adit. Ia berbalik untuk meninggalkan rumah itu.

"Mas Adit," tahan Saras.

RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang