Sempat terpikir untuk memperbaiki.
️✈️✈️✈️
Sesampainya di rumah, bukan sambutan yang Rayhan dapat. Namun, sebuah tamparan keras dari Handoko, ayahnya. Tak sedikit juga pukulan yang dilayangkan kepada Rayhan.
"Ayah, sudah cukup!" teriak Raisa dengan kedua tangan yang masih menutup telinganya.
Rayhan tahu, dirinya sangatlah bersalah. Dia tak kembali ke rumah untuk beberapa hari bahkan sampai seminggu. Ketidakberadaannya membuat bundanya terbaring lemah di atas ranjang.
"Maaf, Yah." lirih Rayhan. Bagaimana pun juga, dirinya sedikit takut.
"Kamu laki-laki, Han! Ayah tidak mengajarimu meminta maaf dengan merunduk seperti itu!" tegas Handoko.
"Maaf, Yah. Rayhan salah, Rayhan terlalu kekanak-kanakan, Yah. Maafkan sikap Rayhan yang membuat kalian se,-"
Belum selesai Rayhan mengucapkan semuanya. Ayahnya sudah memeluk tubuh Rayhan.
"Jadi pergi ke Surabaya?" tanya Handoko kepada Rayhan. Rayhan setengah terkejut. Lalu, ia melepas pelukannya begitu saja.
"Nggak, Yah. Tidak jadi, Rayhan percaya dengan pilihan Ayah." jawabnya lantang.
"Ya sudah, segera temui ibumu!" titah Handoko.
Sementara, Raisa mengikuti di belakang Rayhan. Masuk ke kamar bunda.
"Bunda?" panggil Rayhan ketika sampai di ambang pintu. Sebenarnya, Laras tidak benar-benar dirawat di rumah sakit. Ia hanya periksa saja.
"Bunda sakit apa?" tanya Rayhan khawatir disela pelukan mereka.
"Bunda tidak kenapa-napa, nak. Jangan pergi lagi, ya? Jangan jauhi Bunda, sayang."
Rayhan hanya mengangguk. Ia sangat menyayangi bundanya.
"Kamu mandi dulu, Han! Badanmu sangat bau." goda Laras kepada putranya itu.
"Ah, Bunda! Bikin malu Rayhan saja." Rayhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Setelah itu, Rayhan segera mandi dan bersiap-siap untuk makan malam.
✈️
Keesokan harinya, Rayhan sudah bersiap dengan setelan casual-nya. Ia berniat untuk pergi ke rumah Saras. Sekadar ingin tahu keadaan Saras dan bercengkrama dengan keluarga Saras lagi.
"Han, mau kemana?" tanya Handoko mengintrogasi.
"Ke rumah Saras, Yah."
"Loh, bukannya Saras ada di Surabaya ya, Han? Pram bilang gitu loh sama gue." elak Raisa.
"Iya tau. Kan biar akrab sama keluarganya."
"Hmm."
Rayhan hanya tertawa mendengar jawaban dari kakaknya itu. Hanya deheman, apa iya dia harus mundur demi kakaknya? Tapi untuk apa? Toh, juga hubungan itu belum terbukti.
Rayhan dengan gagahnya menaiki motor hitam kesayangannya. Melajukannya ke rumah Saras.
Dari kejauhan, sudah terlihat rumah milik kekasihnya itu. Memang Saras tak ada di sana. Ia hanya ingin mengetahui keadaan Saras karena sebentar lagi, ia akan sangat sulit menghubungi Saras.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rasa
Teen FictionBagi Rayhan, Saras adalah hujan yang turun di gurun yang panas. Bagi Saras, Rayhan adalah kekhawatiran yang tak ada habisnya. Dua dunia yang berbeda terpaksa disatukan oleh sebuah RASA. Akankah semua mimpi dan harapan mereka bisa terwujud bersama? W...