22

129 10 1
                                    

Bayanganmu terlalu tebal.

**

"...pada dasarnya bila seseorang sudah terikat oleh cinta, jarak sejauh apapun tak akan bisa menggentarkannya,"

Kesimpulan itu diakhiri dengan tepuk tangan riuh seluruh kelas, kecuali Saras yang sedang mendalami arti dalam kalimat itu.

Apa Rayhan sudah mengikatku? Saras menanyakan kondisi dirinya sendiri. Sejauh apapun ia berusaha mencari kesibukan untuk melupakan Rayhan, semuanya akan tetap sia-sia. Setiap kali mendengar atau melihat pesawat terbang melintas, hanya Rayhan yang muncul.  Terus dan selalu.

"Ras, kamu mau ke perpus nggak? Bu Anne minta cari karya ilmiah." Ajak Selia, teman semeja Saras.

"Ah, iya." Saras segera mengemasi bukunya untuk mengikuti Selia ke perpustakaan.

Sudah sangat lama sejak terakhir kali Saras datang ke perpus. Ia melangkah menuju rak buku, sosok Rayhan kembali muncul dalam benaknya. Saat lelaki tinggi itu datang padanya untuk pertama kali. Saat kalimat hangat nan mengejutkan itu keluar. Semuanya terulang, begitu jelas.

"Ras, Udah dapet? Kamu nangis?"

Saras mengelap pipinya dengan kasar.

"Kamu kenapa?" Tanya Selia.

"Nggak papa. Cuman tiba-tiba kangen Ayah," bohong Saras. Selia mengusap punggung Saras. Saras tersenyum.

"Aku tunggu di meja, ya?"

Saras mengangguk, lalu membiarkan Selia meninggalkannya.

Sekarang Saras sadar. Mengikhlaskan Rayhan adalah ketidakmungkinan yang berusaha dimungkinkan.

✈✈

Turun dari angkot, Saras langsung berlari menuju rumahnya. Ia berlari sebisa yang ia mampu meski berulang kali tersandung hingga nyaris tersungkur. Ia harus sampai di rumah sebelum hujan, begitu pikirnya.

Sampai di halaman, Saras melemparkan tasnya ke teras. Ia langsung menggali tanah di dekat pohon tempatnya mengubur kotak kala putus asa pada kepergian Rayhan.

Cukup lama sampai Saras berhasil menemukan kotak itu. Ia langsung membuka plastik yang melapisinya sambil menahan air mata. Diambilnya kartu sim yang sempat dikuburnya.

Saras melangkah menuju tasnya. Ia segera memasukkan kartu simnya ke ponsel berharap masih bisa digunakan. Senyumannya terpancar ketika sebuah pesan masuk dari kontak atas nama Rayhan.

"Harusnya aku percaya sama kamu, Ray! Harusnya aku nggak keras kepala seperti kemarin," Saras menegaskan kekecewaan atas dirinya sendiri. Rasanya ini terlalu memuakkan.

Saras melihat tombol telepon pada ponselnya. Haruskah ia menghubungi Rayhan? Haruskah sekarang? Tapi, jika tidak dicoba tak ada gunanya bukan? Saras pun menekan tombol itu, lalu menunggu nada sambung.

Nomor Rayhan tidak bisa dihubungi.

Saras menangis. Ia marah dan kecewa pada dirinya sendiri. Ia merasa sangat menyedihkan sekarang.

✈✈

"Saras, dicari temanmu!" Teriak Pramudya dari ruang tamu.

Tanpa semangat, Saras melangkah keluar dari kamarnya. Dilihatnya Bayu duduk dengan penuh senyuman sedang menunggunya.

"Kakak tinggal dulu, ya."

Saras berusaha tersenyum. "Ada apa, Bay?"

"Lo nggak lupa soal ABO, kan?" Tanya Bayu.

Saras menggeleng.

"Terus kenapa lo nggak ngumpulin formulirnya? Lo nggak bisa main-main soal formulir itu, Ras." Tegas Bayu.

"Iya, gue ngerti." Jawab Saras pasrah.

"Lo kenapa, sih? Ada masalah? Lo nggak biasanya nggak punya semangat kalau berhubungan sama orkestra, Ras. Can you tell me about your problem?"

Saras menggeleng. "I'm okay. Gue cuman ngerasa kalau lebih baik gue fokus sama sekolah gue. Toh, celo juga nggak ngasih gue harapan banyak."

"Ras?" Bayu mencuri tatapan Saras. "Why?"

Saras menggeleng lagi. "Gue nggak papa, Bay." Saras berbohong lagi. Bukan hanya tentang kondisinya, tapi juga keinginannya untuk melanjutkan ABO.

"Lo ada masalah sama pacar lo?"

Saras menggeleng, tapi air matanya tak bisa berbohong.

"Lo bisa cerita sama gue. Gue janji akan dengerin lo dengan baik," Bayu meraih tangan Saras sambil mendekatkan dirinya. Ia meraih kepala Saras kemudian mendekapnya di dadanya.

"Rayhan.. Rayhan pergi, Bay. Dia pindah sekolah." Isak Saras. Akhirnya, ada yang mau mendengarkan kisah peliknya.

"Gue udah terlanjur jatuh ke dia dan rasanya berat banget waktu tau kalau dia pergi ke Semarang. Gue nggak bisa nerima itu, Bay. Berat."

Saras masih terisak dalam pelukan Bayu, dan Bayu pun membiarkannya. Ia tau Saras sudah terlalu lama menyimpan kesedihan itu.

Setelah cukup lama, tangis Saras mereda. Gadis itu menjauhkan dirinya dari Bayu. Bayu meraih tangan Saras. "Lo masih bisa bertahan, Ras. Jangan sakitin diri lo sendiri! Dan jangan pernah bohong sama kondisi lo! Gue kenal lo sejak kecil, lo bisa cerita apapun ke gue, nggak usah sungkan."

"Gue setuju setuju aja kalau lo mau pacaran sama Rayhan, tapi kalau dengan lo pacaran sama Rayhan lo jadi kehilangan mimpi lo, gue nggak mau, Ras! Gue cuman mau yang terbaik buat lo! Lo pantes wujudin mimpi lo! Lo pantes buat punya dunia lo ada atau nggak ada Rayhan!" Tegas Bayu.

"Kalau lo sama Rayhan memang ditakdirkan bersama, gue yakin kalian akan dipertemukan dengan lagi dalam kondisi baik. But, ruang selalu butuh waktu! Untuk lo ketemu Rayhan lagi itu pasti butuh waktu, entah lama atau singkat. Yang harus lo lakuin selama waktu itu adalah bertahan. Bertahan dengan keyakinan lo pada Rayhan,"

"Tanpa lupa kebahagiaan diri lo sendiri." Tambah Bayu.

Saras hanya bisa menunduk. Bayu benar, ruang selalu butuh waktu, dan waktu pun selalu butuh ruang.

"Lo harus tetap bahagia, Ras. Dan gue ada di sini. Gue ada di sini buat ciptain kebahagiaan lo saat tanpa Rayhan,"

✈✈

Bayu × Saras atau tetap Rayhan × Saras?
Happy comment guys 🌼

RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang