23

113 8 0
                                    

Aku bingung harus mengulang dari mana

️✈️✈️✈️

"Han, kenapa sih lo? Kok murung mulu." tanya Radit yang tengah main playstation di sampingnya.

"Ha? Gue nggak papa. Lagi ribet aja," Rayhan mencoba melelapkan matanya di atas kasur empuk miliknya.

"Ya lo kalo mau cerita, cerita aja kali! Gue siap dengerin lo, asal lo ngasih izin gue main gini tiap hari. Habisnya kalo gue pergi ke warnet mahal." curhatnya pada Rayhan.

Rayhan hanya bisa tersenyum. Bagaimana bisa ia diketemukan dengan teman sekonyol Radit.

"Yaudah, serah lo mau main sepuasnya juga nggak masalah. Lagian gue juga bingung mau cerita dari mana." alibinya kepada Radit.

"Yaelah, cerita tinggal cerita aja kali. Gausah dipikir! Apa-apa dipikir bisa bikin sakit, loh." Radit malah terkekeh akibat ucapannya sendiri.

"Ya gue bingung aja sih, Dit. Hp gue kan kemarin dirusak sama orang, nah kan SIM gue juga ganti, kan. Gue lupa nomor hp nya pacar gue." Rayhan malah nyengir diakhir ucapannya.

"Yaelah, lo tinggal tanya ke temen lo yang lain." jawab Radit santai.

"Masalahnya, gue nggak tau temen gue siapa yang punya nomornya. Hah, ni anak! Curhat sama lo tu nggak akan ada solusi adanya cuma frustasi!" Rayhan semakin emosi. Dirinya menjatuhkan diri ke kasur.

"Ya sori." Radit malah terkekeh.

"Darimana saya harus mengulang, Ras?" gumannya frustasi.

"Jangan frustasi gitu, ah! Nanti gue kenalin sama saudara gue, cantik." Radit meletakkan stick playstation-nya. Lalu mengacungkan jempol ke Rayhan.

"Gue nggak tertarik!" tolak Rayhan mentah-mentah.

"Yaudah, sih! Tapi lo harus nemenin gue balikin rantang ke dia ya? Nggak enak kalo nggak dibalikin." Radit terkekeh lagi.

"SERAH LO, DIT, DIT!" Rayhan semakin frustasi akibat penuturan konyol Radit.

"Lo itu bercanda disaat yang tidak tepat!"

✈️

Rayhan menuruti kemauan Radit. Ia akan menemani Radit ke rumah saudaranya itu untuk mengembalikan rantang.

"Di sini rumahnya?" tanya Rayhan. Rayhan terkejut. Rumah saudara Radit sangat besar dan bagaimana bisa Radit hanya nge-kost.

Lalu, Radit mengangguk. Mulutnya masih terjejal makanan dari apartemen Rayhan. Maklum anak kost, kekurangan makanan.

"Assalamu'alaikum! Tante!" seru Radit dari luar rumah.

Tiba-tiba seorang gadis muncul dari balik pintu. Gadis yang tak asing bagi Rayhan. Sosok itu, Alika. Rayhan sesegera mungkin memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Hei, Dit! Nggak dibalikin juga nggak papa." ia mencuri pandang ke arah lelaki yang bersama Radit.

"Makasih ya, Al!" Radit memberikan rantang itu kepada Alika. Diselingi senyuman manisnya.

"Sama-sama. Dia siapa lo, Dit? Temen?" tanya Alika semakin penasaran dengan wajah lelaki itu.

"Dia teman gue, Rayhan." Adira termenung sejenak. Ia teringat nama itu. Terlintas di pikirannya. Sosok yang kemarin ditemuinya.

"Han, kenalan dulu dong!" pinta Radit. Mau tak mau Rayhan menampakkan wajahnya.

"Oh, Rayhan. Udah kenal kok, Dit!" seru Alika.

"ALIKA! Suruh masuk ih, si Radit! Mama kangen sama dia!" teriak Arini, Mama Alika.

"Kalian masuk dulu, ya!" pinta Alika.

"Gue pulang!" tolak Rayhan.

"Eh? Kok pulang?" suara wanita terdengar di telinga Rayhan.

"Nggak kok, tante. Biasa dia suka malu-malu gitu." Radit menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Lalu, menarik tangan Rayhan untuk masuk ke dalam. Rayhan hanya memberikan tatapan tajam ke arah Radit.

"Dinikmati aja ya? Tante tinggal dulu." pamit Arini.

"Han, makasih ya udah mau bertamu. Btw, soal hp lo gue minta maaf, gue nggak maksud kok, Han." ucap Alika dengan sedikit merunduk.

"Oh jadi yang banting hp lo itu Alika? Btw, kok kalian bisa kenal, sih?" Radit semakin penasaran dengan Alika dan Rayhan.

"Iya, puas lo! Gue mau balik!" seru Rayhan. Lalu melenggang begitu saja.

"Han, kalo lo benci sama gue, ya nggak harus gitu juga! Tolong hargain gue sebagai tuan rumah!" seru Alika tak kalah keras.

Langkah Rayhan terhenti. Ucapan itu adalah sebuah boomerang bagi Alika sendiri.

"Lo aja nggak pernah menghargai perasaan gue, kenapa gue harus menghargai lo?!" ketus Rayhan balik.

"Sorry, kalo gue maksa perasaan lo. Tapi gue cuma pengen lo nggak kecewa. Gue nggak pengen hati lo remuk cuma gara-gara bertahan buat Saras, Han!"

"Sekali lagi, jangan ngomongon Saras lagi! Dan nggak seharusnya lo ngomongin ini di depan orang lain, Al! Ini hanya masalah pribadi, terlebih ini masalah lo!" bentak Rayhan sebelum keluar dari rumah Alika.

Radit semakin dibuat bingung dengan keadaan ini. Ia tak tahu sama sekali, pokok permasalahan antara Rayhan dan Alika.

Setitik air mata keluar dari pelupuk mata Alika. Alika menangis tersedu. Secara terang-terangan, Rayhan menolaknya.

Radit melihatnya, lalu ia mendekap tubuh Alika. Menenangkan gadis itu.

"Lo yang sabar ya, Al. Mungkin dia belum bisa ngelupain ceweknya. Gue cuma bisa doain semoga hatinya terbuka." Radit masih mengelus punggung Alika. Persetan jika Rayhan meninggalkan dirinya. Asalkan saudaranya itu sedikit tenang.

Alika hanya bisa mengangguk di dekapan Radit.

"Makasih ya, Dit. Makasih." lirihnya. Ia semakin tersedu di dekapan Radit.

Sementara, Rayhan telah pulang lebih dahulu. Tak peduli dengan Radit. Lagipula Radit bisa naik ojek atau angkot.

✈️✈️✈️

Apakah Rayhan bisa mempertahankan perasaannya?

RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang