Sampai bertemu lagi, sampai sang waktu mengizinkan.️✈️✈️✈️
Sesampainya di depan rumah Saras, Rayhan sama sekali tak mendengar penuturan Saras saat perjalanan. Apalagi dia sedikit mengebut tadi. Biasanya, Saras selalu memarahinya.
"Kita sudah sampai." bisik Rayhan.
"Makasih. Aku masuk ya."
Rayhan menahan tangan Saras. Seakan tak mengizinkan Saras masuk.
"Besok kita makan malam, ya? Saya akan memintakan izin pada Ayahmu." ucap Rayhan.
"Ayah tugas." Saras menjawabnya malas.
"Kalo begitu, saya izinkan ke Kak Pram."
"Yaudah. Iya. Hati-hati pulangnya."
"Iya. Kamu tidur yang nyenyak. Dan jangan lupakan sesuatu." Rayhan terkekeh.
"Apa?" Saras bingung.
"Jangan lupa memimpikan saya." goda Rayhan. Lalu, ia tertawa.
Pipi Saras bersemu. Rayhan adalah orang yang paling bisa membuatnya tertawa. Orang yang selalu berhasil meredakan kesedihannya. Namun, entah apa yang akan terjadi jika Rayhan tak di sampingnya.
✈️
Paginya, Rayhan sudah packing untuk keperluannya di Semarang. Saat itu, ia menemukan sesuatu yang sangat menarik hatinya.
"Ini kan, kalung yang gue beli waktu kecil dulu. Kok ada di sini? Gue kira ilang. Baguslah, bisa gue kasih ke Saras." gumannya. Lalu meletakkan kalung itu ke sebuah kotak beludru berwarna cream.
"Han! Makanannya udah siap! Ayo makan dulu!" teriak Laras dari lantai bawah.
"IYA, BUN!" teriaknya dari dalam kamarnya.
Selesai makan, mereka menonton tv bersama di ruang keluarga. Rayhan tampak canggung ingin berbicara pasal sekolah barunya. Raisa tampak diam. Asik dengan dunianya. Entah apa yang ia lakukan dengan ponselnya.
"Sa! Kamu itu kenapa senyum-senyum sendiri?" tegur Handoko.
"Nggak kok, Yah. Raisa lagi chat sama temen." Raisa mengulum senyumnya.
"Oh, ya. Han, jadinya kamu mau berangkat kapan?" tanya Handoko.
"Besok pagi saja, Yah. Hari ini Rayhan ada janji dengan Saras." ucap Rayhan jujur.
"Baiklah. Ayah akan mengurus tiketnya."
"Han, kamu di sana harus jaga diri ya. Bunda tidak ingin kamu kenapa-kenapa." pesan Laras kepada putra bungsunya.
"Iya, Bun. Rayhan ini laki-laki. Lagipula, ini pilihan Rayhan sendiri. Mana mungkin Rayhan tak bertanggungjawab atas pilihan Rayhan." jelasnya guna meyakinkan bundanya.
"Lalu, apa Saras sudah mengetahuinya?" tanya Laras.
Rayhan mengangguk lemas.
"Iya, Saras tau. Makanya malam ini Rayhan ingin memberikan salam perpisahan yang tak akan terlupakan oleh Saras." jelasnya lagi.
"Bagus. Jaga dia baik-baik, Han. Dia gadis baik, Bunda suka dengannya." pesan Laras lagi.
"Iya bunda."
"Kalo begitu, Rayhan keluar dulu. Mau mengurus acara untuk malam ini." pamitnya sambil mencium punggung tangan bundanya.Laras mengiyakannya.
Rayhan sudah memesan tempat untuknya dan Saras makan malam hari ini. Bahkan ia juga menyewa seseorang untuk menghias mejanya secantik mungkin. Tak hanya itu, ia juga menyewa band penghibur guna mensukseskan acaranya malam ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rasa
Teen FictionBagi Rayhan, Saras adalah hujan yang turun di gurun yang panas. Bagi Saras, Rayhan adalah kekhawatiran yang tak ada habisnya. Dua dunia yang berbeda terpaksa disatukan oleh sebuah RASA. Akankah semua mimpi dan harapan mereka bisa terwujud bersama? W...