Aku dan kamu saling mengagumi. Mengagumi bukan berarti menyayangi kan?
Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Sinar mentari sudah tidak seterik tadi. Bahkan warna langit mulai menggelap. Sangat kontras dengan langit yang cerah pada beberapa jam yang lalu. Mendung gelap memaksa mentari untuk meredupkan sinarnya. Mendung hitam yang menggumpal itu seakan siap untuk menumpahkan isinya detik itu juga.
Laskara dan Pelangi tengah berada di parkiran SMA Wira Dharma. Seperti yang dikatakan Laskara di kantin tadi, ia akan mengantar Pelangi pulang.
Pelangi masih memikirkan kejadian di kantin tadi. Ia tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Laskara.
"Kar?" panggil Pelangi.
"Hmm?" balas Laskara sambil menaiki motornya.
"Emm... yang tadi itu, soal Kendra-" belum sampai Pelangi menyelesaikan ucapannya, Laskara sudah menyela.
"Jangan deket-deket dia," ujar Laskara tegas sambil memakai helm full faces-nya.
"Kenapa?"
"Bahaya." Laskara mengulurkan sebuah helm untuk Pelangi.
Pelangi hampir menautkan kedua alisnya, tidak mengerti maksud perkataan Laskara. Bahaya? Apa yang bahaya dari Kendra? Namun Pelangi menyingkirkan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan itu. Ia menerima helm dari Laskara dan memakainya.
Pelangi duduk di atas boncengan motor sport hitam milik Laskara. Pelangi hanya menggenggam kedua sisi ransel hitam pada punggung Laskara sebagai pegangan.
"Pegangan yang bener. Gue mau ngebut. Udah mau hujan."
Laskara menarik kedua tangan Pelangi dan melingkarkan kedua tangan tersebut di perutnya dengan sangat santai. Sedangkan Pelangi merasa tidak karuhan karena perlakuan Laskara. Seorang Laskara yang kejam itu sekarang sedang dipeluknya!
Pelangi dan Laskara membelah jalanan Ibukota yang cukup ramai. Udara sangat dingin. Rintik hujan mulai berjatuhan membasahi jalanan dan cukup mengganggu orang yang sedang berlalu-lalang.
Tak lama dari itu rintik hujan tersebut berubah menjadi hujan deras yang tidak memungkinkan bagi Pelangi dan Laskara untuk melanjutkan perjalanannya. Apalagi keduanya tidak membawa jas hujan.
Laskara pun memberhentikan motornya di depan sebuah halte. Pelangi dan Laskara berteduh di halte terdekat yang berada di depan taman. Di sana juga banyak orang yang sedang berteduh.
Pelangi duduk diam di samping Laskara. Wajahnya terlihat sangat gembira. Bahkan sejak tadi gadis itu tidak henti-hentinya mengukir sebuah senyuman dari bibir mungilnya. Bukan karena Laskara, bukan! Tapi karena hujan. Gadis itu adalah penyuka hujan. Pelangi Violetta adalah penikmat hujan.
"Kenapa lo? Gue tau gue emang ganteng. Nggak usah lebay gitu bisa duduk di samping gue," ucap Laskara heran melihat Pelangi senyum-senyum sendiri.
"Kar, lo mau seru-seruan nggak? Ikut gue yuk!"
Sebelum Laskara sempat menjawab, Pelangi sudah menarik tangan Laskara menuju ke taman yang berada tepat di seberang tempat mereka duduk.
"Lo gila ya?!" teriak Laskara ketika mereka sudah berada di tengah-tengah taman. Hujan deras mengguyur mereka berdua. Baju seragam mereka sudah basah kuyup.
"Sekali-sekali, Kar. Lo nggak pernah kayak gini kan?" ucap Pelangi sambil merentangkan kedua tangannya menikmati guyuran air hujan pada tubuhnya.
Laskara mengernyitkan keningnya. Tidak mengerti dengan tingkah ajaib Pelangi. "Jangan gila, lo. Daripada hujan-hujanan gini mending langsung pulang aja."
"Bentar aja kali, Kar." Pelangi masih merentangkan kedua tangannya menikmati hujan.
"Lo sakit jangan salahin gue," ucap Laskara datar.
"Nggak bakal sakit."
"Ck. Cewek aneh," ucap Laskara namun tidak mengganggu kesenangan Pelangi sama sekali.
"Nikmati hujan seperti kita menikmati proses hidup, Kar. Hidup itu seperti runtutan hujan dan pelangi. Ada hujan sebelum pelangi. Ada tangis sebelum tawa. Menangis itu sebuah luapan emosi yang wajar. Di saat kita lelah berjuang, hasil jerit payah yang dibuang, pengorbanan yang sia-sia, menangis bukanlah masalah yang besar. Ingat, akan ada pelangi setelah hujan," ujar Pelangi panjang lebar bersamaan dengan bunyi gemericiknya air hujan.
"Setelah hujan belum tentu ada pelangi kan?" tanya Laskara menanggapi apa yang dikatakan oleh Pelangi.
"Iya, tapi kapanpun itu pelangi pasti akan datang. Bahagia itu terkadang tidak secepat yang kita inginkan. Tuhan selalu tahu kapan kita harus bahagia," ucap Pelangi sambil memejamkan mata dan menengadahkan kepalanya di bawah guyuran air hujan. Senyuman khas miliknya masih terlukis sempurna.
Laskara diam-diam menikmati guyuran air hujan pada tubuhnya. Ia menengadahkan kepalanya sebentar mengikuti apa yang dilakukan oleh Pelangi. Kemudian Laskara maju satu langkah ke hadapan Pelangi. Ia sedikit menundukkan kepalanya agar dapat menatap Pelangi dengan nyaman. Sedangkan Pelangi sudah membuka kedua kelopak matanya dan menatap Laskara yang berjarak sangat dekat dengannya.
"Selalu kayak gini ya, La? Senyum. Jangan takut sama gue," ucap Laskara dengan mengunci tatapan matanya pada kedua manik mata indah milik Pelangi.
Entah mengapa, saat ini Laskara menemukan sesuatu yang berbeda pada diri Pelangi. Sisi lain dari gadis itu mungkin? Pelangi bukan lagi gadis manja yang ketakutan kepada dirinya. Pelangi adalah gadis yang menyenangkan.
Setelah ini apa yang akan terjadi diantara keduanya? Entahlah. Baik Laskara maupun Pelangi malas untuk menerka-nerka.
Hai semuanyaa.... Thanks buat kalian yg udah baca. Ikutin terus ceritanya ya? Vote and comment nya jgn lupa. Biar aku smangat dan cepet up😉
KAMU SEDANG MEMBACA
JANJI PELANGI
Novela JuvenilPelangi Violetta, gadis manja yang harus berurusan dengan laki-laki kasar bernama Laskara Bintang Samudra. Pelangi berjanji akan selalu membawa kebahagiaan disetiap kehadirannya. Apakah janji itu mampu ditepatinya jika yang dihadapi adalah seorang L...
