Aku lupa, bahwa diriku sendiri juga berhak bahagia.-Pelangi Violetta.
Hari demi hari terlalui dengan baik. Pelangi bersyukur ia hidup di antara orang-orang yang baik. Keberadaan Maminya, Papinya, dan Lauren sudah lebih dari cukup bagi Pelangi. Ditambah lagi satu orang yang akhir-akhir ini mengisi hari-harinya. Orang yang selalu berusaha membuat Pelangi merasa baik-baik saja.
Orang itu adalah Kendra. Laki-laki itu berusaha masuk lebih jauh ke dalam kehidupan Pelangi. Kedekatan keduanya pun tak terelakkan. Pertemuan demi pertemuan membuat jarak antara mereka terkikis secara perlahan. Seperti hari ini, Pelangi dan Kendra sudah memiliki janji untuk bertemu.
"Kak Ken dimana sih?" ujar Pelangi melalui panggilan telepon yang terhubung dengan Kendra.
"Di belakang kamu," balas Kendra yang sudah berdiri beberapa langkah di belakang Pelangi.
Pelangi pun memutar badannya menghadap Kendra tanpa mematikan sambungan ponselnya.
"Kak Ken terlambat sepuluh menit!" protes Pelangi sambil menggembungkan pipinya.
Kendra tertawa melihat tingkah gadis yang dianggapnya lucu itu. Kendra pun maju beberapa langkah menghampiri Pelangi menyisakan jarak yang kurang dari 10 cm diantara keduanya.
"Maaf ya, jangan marah. Kalau gue makin gemes sama lo kan gue juga yang repot." Kendra menatap lekat mata Pelangi sambil menyunggingkan senyum manis yang bisa membuat meleleh semua kaum hawa yang melihatnya. Termasuk Pelangi. Untuk beberapa saat ia tenggelam dalam keterpanaannya terhadap karya indah Tuhan yang pantas dikagumi itu.
Detik berikutnya Pelangi tersadar dari keterpanaannya. Ia mengulurkan tangannya mencubit pinggang Kendra. "Kak Ken apaan sih?"
"Aduh La, aduhh sakit tau! Cogan kok dicubit sih?! Dicium gitu baru bener. Ngerusak momen banget sih lo," gerutu Kendra dengan kesalnya.
"Biarin wleee!" Pelangi menjulurkan lidahnya bermaksud membuat Kendra semakin kesal.
"Ngambek nih gue, La." Kendra melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ngambek kok bilang-bilang sih? Ngambek aja sana," balas Pelangi diikuti dengan tawanya.
"Nggak peka banget sih. Harusnya lo bilang 'Kak Ken jangan ngambek dong' gitu, La."
"Bilang kayak gitu biar apa coba?" tanya Pelangi dengan ekspresi lucunya.
"Biar lo nurutin apa yang gue mau. Obat biar nggak ngambek lagi gitu," ujar Kendra sambil terkekeh pelan.
"Terus? Kak Ken maunya apa?" tanya Pelangi.
"Hati lo."
Pelangi tercengang untuk beberapa detik.
"Tegang banget sih, La. Bercanda gue," ujar Kendra pada detik berikutnya sambil terkekeh pelan.
Diam-diam Pelangi menghela napasnya lega.
"Ya udah sekarang kita mau kemana?" tanya Pelangi.
"Beli es krim aja yuk, tuh di sana," ujar Kendra sambil menunjuk kedai es krim yang berada di taman yang dekat dengan keberadaan mereka.
Saat ini mereka sedang berada di taman komplek rumah Pelangi. Akhir-akhir ini tempat itu memang menjadi tempat yang sering mereka kunjungi.
"Yaudah ayo!" ujar Pelangi bersemangat.
Kendra tersenyum simpul melihat tingkah Pelangi yang lagi-lagi terlihat lucu di matanya.
Mereka pun berjalan beriringan menuju kedai es krim tersebut. Mereka nampak bahagia. Seperti tidak ada beban di antara keduanya. Hal-hal kecil seperti ini lah yang membuat Pelangi bersyukur. Kehilangan satu orang tidak akan membuat kehidupannya berhenti. Sekali lagi, ia bersyukur hidup di antara orang-orang yang baik. Kendra salah satunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JANJI PELANGI
Novela JuvenilPelangi Violetta, gadis manja yang harus berurusan dengan laki-laki kasar bernama Laskara Bintang Samudra. Pelangi berjanji akan selalu membawa kebahagiaan disetiap kehadirannya. Apakah janji itu mampu ditepatinya jika yang dihadapi adalah seorang L...
