Aku tahu ada sesuatu yang belum kamu selesaikan di masalalu. Harusnya aku tidak terlibat. Entah siapa yang sengaja menarikku dalam kisah rumitmu. Apa malah aku sendiri yang terjerumus masuk ke dalam kehidupanmu?
"Bangsat lo!" Laskara langsung menghujam Kendra dengan bogemannya.
Sontak para pengunjung kafe pun langsung memusatkan perhatiannya kepada mereka bertiga. Laskara, Kendra, dan Gibran. Sebenarnya Kendra terkejut dengan kehadiran Laskara dan teman-temannya. Tidak menyangka malam ini akan terjadi hal serumit ini.
"Udah gue bilang jangan apa-apain Dista. Lo dendam sama gue, kan? Nggak usah libatin orang lain. Banci." Emosi Laskara sedang benar-benar tersulut sekarang.
Sejujurnya Gibran juga kesal bahkan juga ingin menonjok Kendra. Namun ia harus mengontrol diri. Kalau dirinya ikut rusuh siapa yang akan mengontrol emosi Laskara yang sangat mengerikan itu. Begitu-begitu dirinya masih memikirkan sahabatnya.
"Gue nggak apa-apain Dista. Lo pasti tau sendiri kan, dia yang datang. Bukan gue yang minta," ujar Kendra dengan seringai meremehkan.
"Dia nggak kayak gitu kalau lo nggak ngasih harapan, bangsat!!" Laskara kembali menghujam rahang Kendra dengan tonjokkanya .
"Udah, Kar. Kita di kafe ini." Gibran menahan Laskara yang ingin terus menghajar Kendra.
"Gimana rasanya balikan sama mantan? Gimana rasanya mungut sampah?" Kendra menunjukkan wajah santainya. Seakan yang ia katakan tidak memancing emosi Laskara.
"Asha bukan sampah!" Laskara kembali memukul Kendra dengan kepalan tangannya. Darah segar pun mengalir dari sudut bibir Kendra.
Emosi Laskara semakin menjadi. Ia tidak suka gadisnya dijelek-jelekkan seperti itu.
Seringai kembali tercetak di bibir Kendra. Mengabaikan darah yang mengalir dari sudut bibirnya. "Bukan sampah ya? Oh barang rampasan kan ya, baru inget gue."
Laskara hampir memukul Kendra lagi. Namun Gibran menahannya. Sahabatnya itu terlihat mengerikan sekarang. Laskara Si orang jahat menghajar laki-laki yang sedang duduk manis di kafe. Setidaknya begitulah pemikiran para pengunjung kafe tersebut.
"Segitu cintanya lo sama Asha? Kalau begitu nggak masalah dong kalau gue sama Pelangi?" tanya Kendra sengaja menyinggung soal Pelangi.
Sontak Laskara mencengkeram kerah baju yang dipakai Kendra. "Deketin dia, lo abis sama gue!"
Kendra semakin tersenyum meremehkan. "Kenapa? Dia udah bukan siapa-siapa lo kalau lo lupa. Seenggaknya gue nggak rebut dia dari siapapun."
Laskara tahu Kendra tengah menyindirnya. Kendra masih mengungkit tentang apa yang terjadi antara dirinya, Kendra, dan Asha.
Sepertinya masing-masing dari mereka belum bisa berdamai dengan masalalu. Tidak ikhlas, dendam, rasa bersalah, mungkin itu semua masih memerangkapkan mereka pada cerita rumit itu.
"Udah, Kar. Ayo kita pulang," ajak Gibran. Pasalnya tempat ini tidak tepat andai kata Laskara dan Kendra ingin baku hantam.
"Urusan kita belum selesai. Dista sama Pelangi cewek yang terlarang buat lo. Inget itu baik-baik." Laskara pergi meninggalkan Kendra dengan Gibran di belakangnya.
Sedangkan Kendra hanya menunjukkan wajah tenang dengan senyum meremehkan yang tidak lepas dari bibirnya.
"Angga bawa Dista kemana?" tanya Laskara kala mereka sampai di parkiran kafe.
"Pulang kali," jawab Gibran sambil memakai helm-nya.
"Gue pengen ajak Kendra baku hantam deh, Bran. Ayo cari tempat yang pas." Laskara melipat kedua tangannya di depan dada. Ia terlihat masih emosi.
KAMU SEDANG MEMBACA
JANJI PELANGI
Fiksi RemajaPelangi Violetta, gadis manja yang harus berurusan dengan laki-laki kasar bernama Laskara Bintang Samudra. Pelangi berjanji akan selalu membawa kebahagiaan disetiap kehadirannya. Apakah janji itu mampu ditepatinya jika yang dihadapi adalah seorang L...
