Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Motor sport warna hitam milik Laskara sudah memasuki halaman rumahnya. Laki-laki tampan itu baru pulang dari sekolah.
"Kar gue mau ngomong sama lo,"
Dista berujar sambil menutup pintu kamar miliknya.
Laskara yang hendak masuk ke kamarnya pun mengurungkan niatnya. Kamar Laskara dan Dista memang bersebelahan.
"Ngomong aja Dis," jawab Laskara dengan santai.
"Lo minta maaf sama Pelangi," ucap Dista sambil menatap mata hitam milik Laskara.
"Pelangi?" Laskara mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.
"Cewek yang tadi lo bantai," jelas Dista dengan nada yang menyindir.
"Bantai apaan dah? Lebay banget lo."
"Gue serius, Laskara. Lo minta maaf sama dia besok," ucap Dista tegas.
"Ogah. Gue nggak salah. Dia yang duluan nabrak gue. Dia pantes dapet balesannya," balas Laskara datar.
"Terus lo pikir yang tadi lo lakuin itu bener? Bayangin Kar kalo gue yang ditarik-tarik orang, dijambak, dibentak, terus disiram pake minuman dingin! Apa itu namanya nggak salah?" Dista agak emosi.
Laskara hanya diam membalas tatapan kesal Dista kepada dirinya.
"Kalo lo berantem sama cowok sih gue bodoamat ya, tapi ini cewek Kar! Gue nggak mau lo dianggap banci karena bisanya nyakitin cewek. Cowok gentle ga bakal nglakuin apa yang lo lakuin tadi pagi ke Pelangi."
Dista semakin tersulut emosi.
"Ck! Serah lo. Gue enggak suka diatur-atur, Dis. Siapapun itu, termasuk lo. Lo sendiri tau itu."
Laskara berlalu masuk ke kamarnya.
***
Hari ini hari Sabtu. Weekend yang terlihat begitu menyenangkan untuk para siswa. Pagi ini Pelangi bangun pagi dan bersiap untuk jogging di sekitar taman dekat rumahnya bersama Lauren.
Gadis cantik yang sekarang sedang menggunakan celana olahraga hitam, kaos pink panjang dengan rambut dikuncir kuda serta sepatu olahraga berwarna pink tersebut tampak sangat menarik.
"Mam Pelangi pamit dulu ya, mau jogging sama Lauren." Pamit Pelangi sambil menyalami tangan ibunya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
"Hati-hati La, nanti Lauren ajak ke sini aja sekalian sarapan bareng." Pesan Rani.
"Iya Mam."
Setelah itu Pelangi pergi ke taman yang ternyata Lauren sudah sampai disana.
"Udah lama Ren? Sori gue agak telat."
Pelangi meminta maaf.
"Agak telat apanya. Telat banget ini. Janjian jam 6, jam 7 kurang seperempat baru dateng." Lauren mengerucutkan bibirnya.
"Hehe maafin gue Lauren cantik, ntar gue traktir Starbucks deh." bujuk Pelangi sambil menggembungkan pipinya, membuat ia terlihat menggemaskan.
"Beneran nih La? " tanya Lauren dengan mata berbinar.
"Iya lah, apa sih yang nggak buat lo." Pelangi menunjukkan senyum khas miliknya.
"Makasih Pelangiku." Lauren tersenyum sambil mencubit pipi menggemaskan milik Pelangi.
"Lebay lo. Ayo mulai jogging-nya," ucap Pelangi sambil berlalu.
Begitulah Pelangi. Ia selalu berusaha menyebarkan dan menyebabkan senyum untuk siapapun. Ia selalu bisa mamberi dan membuat orang-orang disekitarnya tersenyum. Ia merasa dirinya adalah pembawa kebahagiaan. Kehadirannya di dunia ini sangat disambut dengan bahagia oleh seluruh keluarganya.
Dulu Rani sempat dinyatakan tidak bisa memiliki keturunan oleh dokter. Bahkan setelah lima tahun menikah Rani dan Reno belum diberikan keturunan. Sampai pada tahun ke enam pernikahan mereka Rani mengandung Pelangi.
Kelahiran Pelangi disambut dengan sangat bahagia. Ia pun dianggap sebagai pembawa kebahagiaan. Maka dari itu ia berjanji akan selalu menebarkan kebahagiaan dan membuat orang disekitarnya merasa bahagia.
Pelangi dan Lauren berjogging santai mengelilingi taman. Suasana cukup ramai. Banyak warga sekitar yang meluangkan waktu paginya untuk menikmati udara segar.
"La, lo tau nggak? Katanya jadwal study tour dimajuin loh La, gue sih seneng-seneng aja ya gu-," belum sempat Lauren menyelesaikan ocehannya Pelangi sudah pergi meninggalkan Lauren.
Lauren pun mengikuti kemana Pelangi pergi.
Ternyata Pelangi pergi menghampiri anak kecil yang sedang duduk dibawah pohon sambil menangis. Dilihat dari pakaiannya, anak itu tentu bukan anak orang mampu. Bajunya sangat kotor kan kusut. Bahkan kaos putih yang dipakainya pun sudah berubah warna.
"Adek kenapa nangis?" tanya Pelangi dengan lembut.
"Aku laper kak, aku dari kemarin belum makan. Uang aku hasil ngemis kemarin diambil bapak-bapak serem." Anak itu terisak.
Seketika Pelangi iba melihat anak jalanan itu. Orangtuanya kemana? Mengapa membiarkan anaknya menghadapi kerasnya ibu kota sendirian? Kalau sudah tidak ada, bagaimana dengan keluarganya yang lain? Tidakkah mereka peduli? Pelangi dibuat geram terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul dipikirannya sendiri itu. Bahkan Pelangi geram terhadap preman yang sudah mengambil uang anak itu. Lupakanlah keluarga ataupun preman itu. Sekarang yang terpenting Pelangi harus memberi makan anak ini.
"Kamu tunggu sini ya, kakak belikan makanan buat kamu." Pelangi kembali menunjukkan senyuman khasnya.
Anak jalanan itu hanya mengangguk.
"Tunggu sini Ren, temenin dia," perintah Pelangi.
Lauren hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi perkataan Pelangi. Ia kagum terhadap sahabatnya itu. Pelangi tulus dan peduli sekitar. Lauren bersyukur bisa bersahabat dengan Pelangi.
Thanks ya yg udh baca... Terus ikuti cerita seru PELANGI dan LASKARA ya, setelah ini bakal lebih seru deh. JANJI PELANGI selalu rajin up kok. Jgn lupa vomment jg ya, kasih dukungan dan sarannya jg sngat boleh.
KAMU SEDANG MEMBACA
JANJI PELANGI
Teen FictionPelangi Violetta, gadis manja yang harus berurusan dengan laki-laki kasar bernama Laskara Bintang Samudra. Pelangi berjanji akan selalu membawa kebahagiaan disetiap kehadirannya. Apakah janji itu mampu ditepatinya jika yang dihadapi adalah seorang L...
