Aku cuma mau kamu tahu, aku peduli sama kamu, Pelangi.
Tangis Lauren pecah dalam pelukan Pelangi. Sebenarnya Pelangi sudah menduga penyebabnya. Namun ia bungkam terlebih dahulu. Tidak ingin menanyakan apapun pada sahabatnya itu.
"Nangis aja, Ren. Keluarin semuanya." ujar Pelangi sambil mengusap lembut punggung Lauren yang berada pada peluknya.
Lauren makin sesenggukan.
Setelah beberapa menit terdiam dan hanya ada suara isak tangis Lauren, akhirnya gadis itu lelah menangis juga dan melepaskan Pelangi dari pelukannya.
"Udah nangisnya? Gibran ya?" tebak Pelangi yang tepat sasaran.
"Kok lo tau?" Lauren menatap Pelangi dengan mata sembaabnya.
"Gue tau," jawab Pelangi tenang.
Ia marah. Tentu saja sangat marah melihat sahabatnya disakiti seperti itu. Tapi Pelangi tidak boleh menunjukkannya kepada Lauren.
"Sejak kapan lo tau?" Lauren menatap serius ke arah Pelangi.
"Enggak lama. Satu hari sebelum lo tau semuanya," jawab Pelangi.
"Dan lo nggak bilang apa-apa ke gue? Lo nutupin semuanya? Temen lo gue apa Gibran sih La?" Emosi Lauren yang belum stabil kembali meledak.
Pelangi memijat pelipisnya yang mendadak merasa pusing, "Gue udah duga bakal kayak gini. Oke, jadi kalo lo tanya apa gue nutupin semuanya, iya gue emang sengaja nutupin semuanya dari lo."
Lauren siap meledakkan amarahnya saat itu juga, namun Pelangi kembali memberi penjelasan kepada sahabatnya itu.
"Gue mau ngasih tau, Lauren. Tapi gue nggak tega. Gue kecewa sama Gibran, gue marah! Sama kayak marahnya lo ke dia. Tapi gue kasih kesempatan ke Gibran buat jujur sendiri ke lo. Gue cuma memposisikan diri gue sebagai pelindung lo, Lauren. Gue hanya akan bilang semuanya kalau Gibran sendiri nggak mau bilang ke lo dan terus-terusan nutupin semuanya."
"Nyatanya Gibran nggak akan bilang ke gue, La. Harusnya lo bilang dari awal," ujar Lauren dengan emosi yang masih menguasai.
Pelangi mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti. Jika bukan Gibran sendiri yang bilang, lantas dari mana Lauren bisa tahu semuanya?
"Gue tau sendiri. Gue pergokin mereka di lapangan basket indoor. Mereka main di belakang gue, La. Mereka mesra. Mereka bohongin gue. Mereka bahagia di atas hancurnya gue." Lauren semakin histeris mengingat apa yang dilihatnya tadi.
Pelangi merengkuh Lauren dalam pelukannya. Sebisa mungkin ia memberikan ketenangan untuk sahabatnya itu.
"Gue tau, Ren. Gue tau apa yang lo rasain. Maafin gue harusnya gue bilang dari awal."
Lauren mengeratkan Pelukannya pada Pelangi. Entahlah, saat ini ia merasa menjadi gadis paling menyedihkan di dunia.
"Sekarang lo cuci muka, jangan kemana-mana. Nginep sini aja. Biar gue yang izinin ke Mama lo."
Lauren mengangguk. Tidak mungkin juga kan kalau ia malam-malam begini pulang dalam keadaan mata sebengkak itu?
Ya sekarang Lauren sedang berada di rumah Pelangi. Untuk apa lagi kalau bukan untuk curhat tentunya.
***
Pagi-pagi sekali Lauren pulang dari rumah Pelangi. Ia harus pergi ke sekolah. Masalahnya ia tidak membawa seragam dan bukunya pun masih di rumah.
"Yakin lo nggak papa? Enggak usah gue anter?" tanya Pelangi yang mengantar Lauren sampai depan pintu.
"Nggak papa. Lagian gue bawa mobil. Thanks ya, sorry juga ngerepotin. Jadi nggak enak semalem gue nangis kenceng banget ya La?"
KAMU SEDANG MEMBACA
JANJI PELANGI
Teen FictionPelangi Violetta, gadis manja yang harus berurusan dengan laki-laki kasar bernama Laskara Bintang Samudra. Pelangi berjanji akan selalu membawa kebahagiaan disetiap kehadirannya. Apakah janji itu mampu ditepatinya jika yang dihadapi adalah seorang L...
