Maaf, aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku tidak ingin melihat kamu tersakiti lebih dari ini. Izinkan aku untuk menyembuhkan lukamu terlebih dahulu. Kemudian izinkan aku untuk menghapus bekasnya.
Pelangi dan Laskara masih berada dalam satu mobil yang sama. Mereka membelah keramaian jalan raya Jakarta. Suasana masih hening. Mereka sama-sama enggan untuk bicara.
"Rumah lo dimana?" tanya Laskara memecah keheningan.
"Komplek Cemara nomor 17," jawab Pelangi tanpa menatap Laskara.
Laskara hanya diam tidak membalas apapun. Ia hanya fokus melajukan mobil milik Pelangi yang sedang ia kendarai itu.
"Bener ini kan?" tanya Laskara memberhentikan mobil Pelangi di pinggir jalan depan sebuah rumah.
"Ya," jawab Pelangi singkat.
"Ok bye," ucap Laskara langsung keluar dari mobil dan beranjak pergi ke pinggir jalan yang ada di seberang.
Laskara nampak sedang menunggu seseorang sambil mengutak-atik ponselnya. Pelangi sudah keluar dari mobilnya. Namun ia hanya berdiri diam melihat tingkah ajaib Laskara.
Tak lama kemudian seorang laki-laki dengan motor sport hijaunya datang menghampiri Laskara. Pelangi dapat mengenali wajah laki-laki di balik helm full face yang dipakainya itu. Laki-laki itu adalah Gibran. Dapat di simpulkan bahwa Laskara meminta Gibran untuk menjemputnya.
Sebelum melajukan motornya, Gibran berteriak kepada Pelangi, "Bye cantik."
Pelangi hanya diam memelototkan matanya. Setelah itu Gibran melajukan motornya dengan membonceng Laskara. Pelangi pun segera memasukkan mobilnya ke halaman rumahnya. Ia ingin segera pergi ke kamarnya. Ia ingin istirahat sebentar. Hari ini sangat melelahkan.
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Pelangi sedang berkutat dengan tugasnya. Ia mungkin tidak akan tidur semalaman. Tugasnya ini sangat banyak.
Bahkan ia belum makan malam. Ia tidak sempat ikut makan bersama di meja makan. Rani sudah mengantarkan makanan untuk putrinya itu agar bisa makan di kamar. Namun sampai sekarang makanan itu belum Pelangi sentuh sedikit pun.
Pelangi sedang sibuk menulis pada kertas yang ada di hadapannya. Namun tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya.
"Ada apa, Mam? Iya nanti Pelangi makan kok," ucap Pelangi tanpa menatap orang yang membuka pintu tadi.
"Ini gue," jawab seorang laki-laki yang sedang bersandar di pintu kamar Pelangi.
Pelangi sangat kaget. Bagaimana bisa laki-laki itu ada di sini?
"L-lo? Ngapain disini?" tanya Pelangi dengan sangat kaget.
"Mau belajar lah. Liat nih gue udah bawa tas," ucap Laskara sambil menunjukkan tas yang sedang ia gendong di punggungnya.
"Gue sibuk. Keluar sana, jangan masuk kamar gue," ucap Pelangi mengusir.
Namun Laskara tidak mengindahkan ucapan Pelangi. Ia malah menghampiri Pelangi dan duduk di samping gadis itu.
"Gila lo ya, Ma-" belum sampai Pelangi menyelesaikan teriakannya, Laskara sudah membekap mulut gadis itu dengan tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JANJI PELANGI
Novela JuvenilPelangi Violetta, gadis manja yang harus berurusan dengan laki-laki kasar bernama Laskara Bintang Samudra. Pelangi berjanji akan selalu membawa kebahagiaan disetiap kehadirannya. Apakah janji itu mampu ditepatinya jika yang dihadapi adalah seorang L...
