Arin membuka pintu kasar. Biasanya ia akan menyapa orang yang ia temui begitu sampai di rumah. Namun kekesalannya telah menggelapkan matanya, ia seakan tidak melihat ketiga kakaknya yang sedang bersantai di ruang tv sambil nyemil. Ketiga kakaknya hanya terheran memandangi adik perempuannya itu. Ingin bertanya, namun pertanyaan itu langsung tertahan ketika Arin membanting kasar pintu kamarnya.
"Kenapa si Arin?", celetuk Steven. Jona dan Mika pun menatap Steven, seakan memberi jawaban bahwa mereka juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Arin. Masalahnya, saat berangkat bersama Mike, tidak ada tanda-tanda bahwa pulangnya Arin akan kesal seperti ini.
"Coba abang tanya dulu kali ya", ujar Jona lalu pergi menuju ke lantai 2, letak kamar Arin berada. Mika langsung menuju telepon rumah, mencari buku yang berisi nomor telepon penghuni kompleks. Sedangkan Steven, kembali melanjutkan sesi bersantainya sambil memikirkan kejadian apa yang mungkin terjadi saat Arin berada di luar rumah, hingga membuat Arin pulang seperti ini
***
"Dek... dek....", panggil Jona sambil mengetuk pintunya. Terdengar suara berisik di dalam. Pasti Arin sedang melampiaskan emosi pada boneka beruang yang ukurannya 1,5 meter itu.
"Dek... Arin....", panggil Jona kembali. Suara berisik pun kemudian terhenti, hening sesaat, hingga Arin membukakan pintu.
"Kenapa bang?", tanya Arin. Jona mengamatinya. Tidak ada bekas air mata di pipi. Berarti adiknya tidak menangis. Itu bagus. Tapi, ekspresi mukanya menunjukkan bahwa dia sedang marah.
"Kamu loh yang kenapa. Dateng-dateng, asal main masuk kamar, pintunya dibanting pula. Ada apa sih dek?", khawatir Jona. Arin pun kemudian membuka pintu kamarnya lebar, mengajak Jona masuk ke dalam.
"Itu kasihan si Chubby sampe nyaris hancur begitu", canda Jona melihat Chubby, boneka berruang Arin, yang berukuran 1,5 meter itu, tergeletak tidak tertata di lantai. Arin pun menghela napas, sedang memikirkan apakah ia harus menceritakannya pada Jona.
"Tadi berantem sama Mikeu?", tanya Jona sambil menepuk pinggir tempat tidur Arin, menyuruh Arin untuk duduk bersama.
"Engga kok", jawab Arin lalu duduk di samping Jona.
"Terus kenapa?"
"Temennya yang nyebelin"
"Loh, tadi perginya ga sama Mikeu doang?"
"Perginya sama Mikeu, di cafe nya ketemu temennya Mikeu, terus Mikeunya pergi, terus ribut deh aku sama temennya"
"Ribut kenapa dek?"
"Panjang bang ceritanya. Intinya, anaknya ngeselin amat!"
"Kamu ada salah sama dia?"
"Ada sih, cuma dianya aja yang ribet. Aku udah minta maaf, tapi ya gitulah. Calon dokter kok nyebelin, yang ada pasiennya nanti kabur", gerutu Arin. Jona pun tertawa. Sepertinya bukan masalah yang sangat besar. Hanya kekesalan karna sikap temannya Mikeu.
"Bang", panggil Arin.
"Ya?"
"Anterin ke kantor polisi yuk"
"HAH? NGAPAIN?", kaget Jona. Yaiyalah, jelas kaget, hari Minggu begini, ga ada kejadian aneh apapun, adeknya malah ngajak ke kantor polisi.
"Temenin bikin surat kehilangan KTM, biar besok aku bisa ngurus pembuatan KTM"
"Loh, kata Mika KTM kamu ketuker sama temennya Mikeu? Kan itu tinggal minta tuker balik"
"Duh, males aku berurusan sama orang itu", ujar Arin malas. Jona pun hanya terdiam. Sepertinya kekesalan Arin melebihi dari yang ia duga. Kalau gini, mending Jona mengikuti kemauan Arin saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooms in Autumn
FanfictionKarena setiap bunga akan mekar pada musimnya masing-masing... Cast : Oh My Girl's Arin as Arin NCT's Mark as Mark Park Jihoon as Jeremy
