Di part ini, mari kita happy-happy sedikit hehehehe
Happy reading :D
***
Jeremy terus melihat arlojinya. Pukul 09.30. Jeremy tanpa sadar menggerakkan kakinya, berharap waktu cepat berputar hingga tepat pukul 10.00.
Jeremy sudah duduk di kafe ini, Floductea namanya, sejak satu jam yang lalu. Membuat para karyawan kafe kebingungan karena ada seorang pemuda sudah berdiri di depan pintu kafe padahal kafe belum dibuka. Akhirnya para karyawan kafe pun membuka kafe mereka lebih awal untuk Jeremy.
Ting...
Bunyi pintu kafe terbuka. Terlihat Arin yang memasuki kafe. Senyum Jeremy merekah. Entah apapun yang akan dikatakan Arin nanti, ajakan Arin untuk bertemu sudah cukup membuat Jeremy kehilangan fokusnya selama tiga hari ini.
Arin melihat sekeliling. Terlihat Jeremy yang sudah berdiri menghadapnya. Jeremy ingin memanggil, namun Jeremy terlalu takut jika dengan memanggil Arin, Arin akan pergi.
Disinilah mereka berdua. Duduk berhadapan dan saling menundukkan kepalanya. Kebingungan memulai percakapan.
"Ng.. hai", sapa Arin, namun matanya masih ragu untuk menatap Jeremy.
"Halo, Rin", sapa Jeremy. Kini mata Jeremy fokus menatap Arin. Orang yang dari dulu punya tempat spesial di hatinya.
Kemudian diam kembali menyapa mereka. Arin memainkan jarinya dan terus menatap ke bawah, sedangkan Jeremy hanya terus menatap Arin sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Hmm... aku ke sini, ngajak kamu ketemuan, mau... mau minta maaf. Kayanya banyak banget... hal buruk yang aku lakukan ke kamu. Jadi ya... aku.. minta maaf ya, Remy...", ujar Arin terbata, namun sanggup membuat Jeremy kembali menyunggingkan senyumnya.
Remy. Nama panggilan yang sudah lama tidak ia dengar. Kejadian lima tahun yang lalu, membuatnya enggan dipanggil Remy. Selain karena perintah kakeknya untuk melupakan masa lalunya, Jeremy sendiri tidak ingin nama kecilnya itu dipanggil oleh orang lain yang tidak punya tempat spesial di hatinya. Nama kecil itu hanya boleh dilantunkan oleh Mama, Nenek, dan Arin.
"Waktu itu, entah kamu tahu atau engga, aku pernah ga sengaja denger obrolan kamu sama temen kamu di kafe deket kantor kakak aku. Waktu aku denger semuanya, aku rasa, aku berhutang minta maaf ke kamu. Rasanya aku bersalah banget karena ga mau tahu cerita dari kepergian kamu. Ternyata, selain aku, banyak hal lain yang harus kamu tinggalkan. Remy... maaf ya karena aku egois", tambah Arin.
"Kamu ga salah apapun kok, Rin. Semuanya salah aku. Jadi... aku minta maaf ya, Rin", mohon Jeremy tulus. Kini, Arin memberanikan menatap Jeremy. Jeremy tersenyum dan di matanya tersirat binar kelegaan. Arin tahu itu.
"Ini penuh kesalahan aku, Rin. Lima tahun yang lalu, harusnya aku pamit ke kamu. Mungkin kalau aku pamit, semuanya ga akan seberantakan ini"
Arin hanya diam. Mendengarkan Jeremy. Padahal ia sendiri sudah berniat bahwa dirinya yang akan banyak meminta maaf.
"Kalau waktu itu aku pamit, mungkin... kamu ga bakal ngalamin kejadian buruk itu, Rin. Maaf ya... Maafin aku", mohon Jeremy. Arin bingung harus merespon apa. Walaupun sejujurnya ia masih ketakutan jika mengingat kejadian itu, tapi Arin tahu... itu bukan sepenuhnya salah Jeremy. Benar kata Mark, dirinya dulu terlalu bodoh.
"Maafin aku ya. Aku yang harusnya minta maaf ke kamu. Kamu ga perlu minta maaf ke aku. Semua yang kamu lakukan ga salah kok. Maafin aku ya, Rin. Maafin aku", tambah Jeremy.
Arin benar-benar tersentuh mendengar ucapan Jeremy. Mungkin dulu Jeremy sudah memohon maaf padanya saat pertemuan mereka di Fresh and True, namun saat itu Arin belum paham sesungguhnya kondisi Jeremy. Arin masih dipenuhi perasaan sakit akan kejadian lima tahun yang lalu. Kini Arin sudah paham.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooms in Autumn
Fiksi PenggemarKarena setiap bunga akan mekar pada musimnya masing-masing... Cast : Oh My Girl's Arin as Arin NCT's Mark as Mark Park Jihoon as Jeremy
