XXI

67 15 12
                                        

Sepertinya aku butuh alarm untuk hari Selasa dan Jumat. Aku udah mulai pikun karena keseringan rebahan. Hehehe Enjoy!

***

30 April 2009

Jona bingung ketika Papa menyuruhnya pulang ke rumah, padahal Jona sudah bersiap-siap pulang ke kosannya setelah waktu jaga dan bimbingannya sudah selesai. Papanya hanya menyuruhnya untuk segera pulang. Jona tahu, pasti ada yang tidak beres hingga Papa menyuruhnya pulang di saat seperti ini. Jona pun mengeluarkan handphonenya dan mencoba menghubungi kedua adiknya, apakah mereka juga disuruh pulang oleh Papa.

Pertama Jona menghubungi Steven yang masih tinggal di kota ini, tidak merantau seperti kakak kembarnya. Ternyata Steven sedang berada di Surabaya untuk kegiatan seminar. Ketika ditanya, Steven tidak mendapat panggilan apapun dari Papa atau Mamanya. Begitu pula Mika, tidak ada telepon dari Papa atau Mamanya. Jona semakin yakin, pasti ada yang tidak beres sehingga Papanya hanya menghubungi Jona. Karena Jona sangat paham, jika kedua orang tuanya ini sangat mempercayakan Jona untuk semua masalah yang terjadi, entah itu keluarga atau terkait perusahaan Papanya.

Jona pun segera menuju parkiran mobil, mengemudikan mobilnya dengan perasaan kalut. Dalam perjalanan, ia teringat akan adik perempuannya, Arin. Jona pun berusaha menelpon Arin sambil mengendarai mobil. Aneh, nomornya tidak aktif. Jona melihat jam digital di dashboard mobil. Pukul 22.15. Arin pasti sudah tidur. Sekalipun sudah tidur, Arin tidak pernah menonaktifkan handphonenya.

Setelah 20 menit perjalanan, Jona sampai di rumahnya. Perasaannya semakin tidak enak. Apalagi melihat Om Septian dan Om Darma yang merupakan legal officer perusahaan papanya serta beberapa pria yang tidak dikenalnya. Ia juga bingung melihat Mamanya yang menangis di pelukan Tante Listia. Sebenarnya ada apa?

Tristan, Papanya, langsung menyuruh Jona duduk di sampingnya begitu melihat Jona datang.

"Pa, ada apa?", tanya Jona langsung. Ia sangat yakin pasti ada yang tidak beres.

"Jona... tadi Arin ada telepon kamu?", tanya Om Darma. Jona hanya menggeleng.

"Jona... adik kamu... Arin", lirih Tristan menahan tangis. Jona semakin takut. Ada apa dengan adik perempuannya?

"Adik kamu diculik, Jona....", tangis Papanya. Rasanya, semua tenaga yang dimiliki Jona langsung hilang semua. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa adik perempuannya yang selalu ia pantau bisa diculik?

***

"Makan nih!", ujar pria bertubuh pendek. Arin melihat di hadapannya terdapat sepiring nasi dengan telor rebus. Melihatnya saja Arin tidak nafsu.

"Buka mulutnya!", teriak pria berbadan tinggi sambil menggebrak meja. Arin pun terkejut hingga badannya bergetar. Agar Arin tidak melakukan usaha untuk kabur seperti sebelumnya, kedua pria ini pun tetap mengikat tubuh Arin, namun membuka kain yang menutup mulut Arin.

"Ga mau", jawab Arin dengan sisa keberaniannya.

"Ga sopan ya nih bocah!", ujar pria bertubuh pendek sambil menendang kaki kursi Arin hingga kursi bergerak mundur. Mata Arin kembali meloloskan air mata.

"Jangan nangis! Makanya makan! Buka mulutnya", kata si pria berbadan tinggi sambil menyodorkan sesendok nasi ke arah mulut Arin. Ah... baunya. Arin dapat menebak bahwa nasi tersebut sudah mau basi atau mungkin sudah basi. Arin pun memalingkan mukanya, menolak suapan tersebut. Kedua pria tersebut pun geram. Setelah sebelumnya Arin berusaha meloloskan diri begitu ikatan tangannya terlepas, sekarang Arin menolak untuk makan.

"Heh bocah! Denger ya! Gue sama Si Bunder ini ga mau main kasar ya. Makanya lo buruan makan sebelum Bos dateng. Lo bakal mampus kalo cari perkara sama si Bos", ancam si pria berbadan tinggi.

Blooms in AutumnCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang