Jona mendengar suara mesin mobil yang asing di telinganya. Melalui jendela ruang santai di lantai atas, Jona melihat mobil itu. Mobil yang menjadi perbincangan hangat antara dirinya dengan si kembar sejak tiga minggu yang lalu.
Tentu, si kembar belum mengetahui bahwa pemilik mobil itu bukanlah Haikal. Walaupun Jona sendiri tidak mengetahui siapa pemilik mobil itu. Mereka bertiga pun juga tidak enak bertanya pada Arin. Ujian tengah semester yang disertai dengan laporan praktikum dan proposal PKL, membuat adik perempuan mereka itu sedang mode senggol bacok.
Syukur kalau hanya terkena lemparan bantal atau materi kuliah Arin, tapi bagaimana jika mereka dijadikan pengganti Chubby? Boneka pelampiasan amarah Arin? Silahkan bertanya pada Steven, pengganti Chubby, tepat empat hari yang lalu.
Sementara di luar pagar rumah, terlihat Arin yang sedang melambaikan tangannya ke pemilik mobil. Kaca mobil itu terbuka. Jona bisa melihat ada seorang laki-laki di sana. Sial. Akibat buku-buku kedokteran setebal dosa Steven dan laporan yang ia tulis setiap hari, matanya tidak mampu menangkap siapa laki-laki tersebut.
Tapi, Jona yakin 100% itu bukanlah Haikal.
Melihat Arin memasuki halaman rumah, Jona segera masuk kamarnya. Berpura-pura akan baru bangun tidur ketika nanti Arin memanggil namanya.
Terdengar langkah kaki Arin menuju kamarnya.
"Bang Jona"
Jona segera membuka pintu kamarnya, terdapat Arin yang menyodorkan sebuah kotak makanan.
"Kata Mama, Bang Jona belum makan dari pagi karna daritadi tidur terus. Sedangkan Mama hari ini ga masak apapun. Jadi, Mama nyuruh aku beliin abang makan", jelas Arin.
"Wah kebetulan. Abang laper. Tadinya mau nyuruh Mika atau Steven beliin"
"Ya udah ayo makan"
Arin pun membantu Jona menyiapkan makan malamnya. Sesudah itu mereka duduk di ruang tv. Arin menemani Jona sambil menonton tv.
"Mama Papa kemana sih, Rin?", tanya Jona.
"Mama ketemu temennya. Papa main badminton sama Om Septian. Sama Bang Mika juga"
"Setep?"
"Nonton demo masak", jawab Arin yang langsung membuat Jona tersedak. Lucu mendengarnya.
"Ihhh... beneran, Bang! Bang Setep lagi nonton demo masaknya Chef yang di Masterchef itulohhh. Duh lupa namanya siapa. Pokoknya demi itu, Bang Setep rela beli panci, kuali, sama alat panggangan biar dapet tiket demo masaknya"
"Serius?", tanya Jona tidak percaya. Tumben sekali Steven tidak bercerita apapun padanya. Biasanya dia membuat keributan di group chat mereka.
"Tapi jangan bilang-bilang siapa-siapa ya, Bang! Soalnya kalau sampai ketahuan Mama bakal dimarahin tuh. Kemarin waktu Bang Setep pulang bawa banyak peralatan dapur, Mama udah sempet marah-marah tuh. Tapi Bang Setep bilang kalau itu hadiah dari kantor". Jona hanya tertawa mendengarnya.
"Kalau Arin?", tanya Jona.
"Hah?"
"Kalau Arin, abis darimana?"
"Main. Suntuk soalnya. UTS sambil garap laporan praktikum sambil garap proposal juga"
"Sama siapa?"
"Haikal", lalu Arin pergi meninggalkan Jona, menuju dapur.
Jona hanya bisa menghela napasnya. Siapa sih, laki-laki itu? Sampai Arin harus berbohong padanya? Jona benar-benar penasaran. Tapi, Jona juga sungkan untuk bertanya langsung. Mungkin, jika waktunya tepat, adiknya itu akan memberitahukan langsung kepadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooms in Autumn
FanfictionKarena setiap bunga akan mekar pada musimnya masing-masing... Cast : Oh My Girl's Arin as Arin NCT's Mark as Mark Park Jihoon as Jeremy
