Joseph memasukkan beberapa buku yang dimilikinya ke dalam tas. Tak lupa membuka beberapa laci nakas untuk memastikan bahwa tidak ada barangnya yang tertinggal.
"Akhirnya hari dimana Anda keluar dari ruangan ini dapat terjadi juga ya. Selamat ya, Pak Joseph!", ujar dr. Dion.
Joseph hanya tersenyum mendengarnya. Ia juga tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba. Bahkan ia sudah mengira bahwa ia akan menua dan menghembuskan napas terakhir di ruangan ini.
"Saya senang melihat Anda sudah bisa bergerak bebas seperti ini, tapi tolong agar Anda tetap jaga kondisi tubuh Anda. Jangan terlalu beraktivitas berat, jangan sering berpikir keras, jangan...."
"Dok, saya masih di ruangan ini loh, belum pergi. Bahkan keluar dari ruangan ini pun belum, Dok", potong Joseph.
"Tapi, saya senang melihat Anda bisa berdamai dengan masa lalu. Saya masih penasaran, apa yang dapat menyebabkan Anda bisa seperti ini"
Joseph hanya tersenyum sambil kembali memeriksa nakasnya. Sebenarnya, Joseph belum sepenuhnya memaafkan kesalahan Alex. Bahkan, Joseph masih kecewa dengan tindakan Papanya itu. Tapi... beberapa minggu ini, setelah Joseph terakhir bertemu dengan Alex, Maria selalu datang ke mimpinya.
Dalam mimpinya, Maria selalu menyuruhnya untuk memaafkan Alex. Menyuruhnya untuk memaafkan masa lalu dan segala hal buruk yang terjadi.
"Maafkan beliau, Jose. Bagaimanapun, beliau adalah ayahmu"
"Segeralah pulang, Jeremy masih butuh kamu"
"Jaga Jeremy, demi aku"
Suara Maria dalam mimpinya terngiang. Hal itulah yang membuatnya untuk segera pulih dan pulang, dan juga memaafkan Alex.
"Tuan, apakah sudah siap?", tanya Andreas begitu ia masuk ke dalam kamar. Andreas mengangguk. Mereka bertiga pun keluar dari kamar. Tak lupa, Joseph menyapa beberapa perawat yang selama ini telah merawatnya. Bahkan kepala perawat sampai meneteskan air mata karena terharu melihat Joseph yang sudah pulih.
"Pak Joseph, saya sudah mengirimkan beberapa resep obat penenang kepada Andreas, jika nanti ada keluhan, saya harap..."
"dr. Dion, ini masih di mobil, masih dalam perjalanan. Bahkan kita saja baru meninggalkan gerbang rumah sakit", protes Joseph. Ya, kepulangan Joseph membuat dr. Dion mengambil izin sehari. Ia ingin mengantarkan pasien terlamanya itu sampai ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Joseph berdiam sejenak. Ia memandang rumahnya itu. Sudah banyak yang berubah. Ada beberapa pohon yang biasanya Joseph gunakan untuk berteduh, sudah ditebang. Koleksi tanaman milik mamanya pun sudah tidak lengkap. Begitu masuk, perasaan rindu langsung menerpanya. Walaupun banyak kejadian buruk terjadi di rumah ini, Joseph tidak bisa menampik bahwa ia rindu. Bagaimana pun juga, rumah ini adalah tempat ia tumbuh, tempat ia mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, sebelum Papanya itu mulai menggilai perusahaannya.
"Jo.. Joseph...", panggil Alex yang langsung berlari dan memeluk anaknya itu. Joseph terdiam, ia bingung dengan respon yang harus diberikannya. Perlahan, Joseph membalas pelukannya itu, membuat Alex tidak kuasa menahan tangisnya.
Anaknya telah pulang. Anak yang telah ia lukai, telah kembali ke hadapannya.
"Andreas dan dr. Dion... bolehkah kalian tinggalkan kami sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan berdua dengan Papa". Tanpa banyak berbicara, Andreas dan dr. Dion langsung meninggalkan mereka, tapi tidak jauh dari sana. Takut jika terjadi hal yang tidak ia inginkan.
"Pa, saya sudah memaafkan Papa, tapi rasa kecewa itu masih belum hilang", ujar Joseph begitu Andreas dan dr. Dion sudah tidak ada.
"Papa paham. Papa sudah banyak salah kepada kamu dan Jeremy. Dengan kamu mau pulang ke rumah ini saja, itu sudah cukup"
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooms in Autumn
FanfictionKarena setiap bunga akan mekar pada musimnya masing-masing... Cast : Oh My Girl's Arin as Arin NCT's Mark as Mark Park Jihoon as Jeremy
