Jeremy menatap kesal layar handphonenya, mengeluarkan beberapa celetukan yang membuat Joseph merasa penasaran.
"Kamu kenapa sih, Rem?", tanya Joseph.
Hari ini, Jeremy kembali mengunjungi Joseph. Tentu, dibantu oleh Andreas agar tidak ketahuan oleh Alex dan Hendrawan.
"Gapapa, Pa"
"Kalau gapapa, kenapa daritadi bergumam terus? Ada masalah?", tanya Joseph. Jeremy mengabaikannya, matanya masih fokus menatap layar handphonenya.
"Papa sedih loh, kalau kamu ga mau cerita ke Papa", ujar Joseph, sendu, membuat Jeremy jadi tidak tega.
"Dulu... waktu Papa ngajak Mama pacaran... gimana?", tanya Jeremy, malu-malu.
"Hmm... langsung dateng dan bilang mau mengenal Mama lebih dari sekedar teman. Ternyata Mama juga menyimpan rasa yang sama. Akhirnya... Tunggu! Kenapa kamu nanya begini? Ada perempuan yang kamu suka?"
Jeremy menunduk malu. Bingung harus menceritakan perasaannya.
"Ga usah malu, cerita aja. Barangkali... Papa bisa bantu"
"Tapi, Papa jangan bilang ke siapa-siapa ya!"
"Papa mau bilang ke siapa? Orang yang Papa temui aja cuma kamu, Andreas, dan Dokter Dion"
"Itu maksudku, jangan ceritain ke Andreas dan Dokter Dion". Joseph mengangguk mantap, tidak sabar mendengarkan cerita Jeremy.
Jeremy pun menarik napasnya, lalu membuangnya perlahan. Memulai ceritanya tentang Arin. Bagaimana Arin adalah cinta pertamanya. Orang yang memberikan kehangatan dalam hatinya selain Mama dan Neneknya. Namun, Arin jugalah orang yang ia sakiti sampai ia mengalami kejadian buruk yang membuatnya trauma.
Jeremy kembali melanjutkan ceritanya. Tentang bagaimana semesta kembali mempertemukannya dengan Arin. Bagaimana Arin melihatnya kembali setelah sekian lama. Bagaimana Jeremy diliputi rasa bersalah yang dalam begitu mengetahui masa lalu Arin setelah ia tinggalkan. Tentang usaha yang dilakukan Jeremy agar Arin memaafkannya, hingga usaha tersebut berhasil. Membuat Arin, sekarang, kembali ke sisinya.
"Kamu... masih sayang sama Arin? Sayang yang lebih dari sekedar teman?", tanya Joseph , hati-hati, takut melukai perasaan Jeremy.
Jeremy menunduk malu, lalu perlahan menganggukkan kepalanya.
"Jangan buru-buru untuk menyampaikan perasaanmu, Nak. Bagaimanapun juga, luka yang kamu tinggalkan padanya sangatlah dalam. Hargai dulu perasaan dia yang akhirnya mau memaafkan kamu. Tunggu luka dalam hatinya sampai benar-benar pulih. Selalu temani dia, buat dia yakin bahwa kamu tidak akan melukainya kembali", nasehat Joseph.
"Tapi, Pa..."
"Kenapa?"
"Di saat dia terluka, ada orang lain yang membuatnya nyaman"
"Maksud kamu, ada laki-laki lain?". Jeremy menganggukkan kepalanya.
"Aku masih ga tahu, udah seberapa dekat hubungan mereka. Keduanya hanya mengaku bahwa mereka berteman. Tapi, aku tahu, Arin merasa nyaman. Bahkan Arin menceritakan berbgai hal ke laki-laki itu yang ga dia ceritakan ke aku. Aku merasa....."
"Jangan putus asa dulu, Nak. Seperti yang Papa bilang, kamu cukup selalu hadir di sampingnya. Temani dia. Buat dia juga merasa nyaman saat di samping kamu"
"Caranya?"
"Kamu lebih mengenal dia daripada Papa. Kamu sendiri yang harus cari tahu. Mungkin bisa dimulai dari hal-hal yang dia sukai. Luangkan juga waktu kamu bersama dia, tapi ingat, jangan memaksa. Buat dia merasa bahwa kamu juga selalu ada di sampingnya"
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooms in Autumn
FanfictionKarena setiap bunga akan mekar pada musimnya masing-masing... Cast : Oh My Girl's Arin as Arin NCT's Mark as Mark Park Jihoon as Jeremy
