"Mama kenapa?", tanya Tristan.
"Gapapa, Pa", jawab Dira.
"Gapapa tapi dari tadi gelisah?"
"Iya nih. Mama kepikiran sesuatu"
"Kenapa? Mama kepikiran Jona yang udah tiga minggu ini di rumah sakit?"
"Bukan, Pa"
"Mika sama Setep bikin ulah apa lagi? Mecahin pot tanaman mama?"
"Itu sih Mama udah maklum"
"Arin kambuh?"
"Engga, Pa. Kalau kambuh pasti Papa orang pertama yang Mama telepon"
"Terus kenapa?"
"Mama kepikiran Mark"
"Mark? Mark si... oh! Temen Arin yang waktu itu dateng ke kantor?"
Dira mengangguk, membenarkan pertanyaan Tristan.
"Memangnya Mark kenapa? Dia nakalin Arin? Seinget Papa, Jona pernah bilang kalau Mark anak baik-baik? Bahkan dia pernah nolongin Arin"
"Bukan itu, Pa! Nama Mark! Namanya dia persis seperti nama anaknya Thomas dan Tary! Nama dia Mark Herfst, Pa!"
"Bisa aja itu orang yang berbeda, Ma"
"Seminggu yang lalu dia dateng ke sini, sama Mike"
"Ngapain?"
"Nganter makanan. Kayaknya disuruh Listia. Terus Mama sempet nanya sedikit sama Mark dan dia mengakui kalau dia lahir di Belanda"
"Belanda itu kan luas, Ma. Jangan karena dia lahir di Belanda, Mama menyimpulkan kalau dia juga lahir di Utrecht"
"Pa. Mama tuh udah mempersempit kemungkinan. Mark Herfst. Lahir di Belanda. Masa Papa ga curiga sih?", kesal Dira karena suaminya tidak kunjung paham.
"Terus Papa harus gimana? Datengin Mark dan nanya tentang orang tuanya?"
"Duh, Paaaa! Bukan gitu! Apa Papa beneran ga pernah dengar kabar apapun tentang Thomas? Sedikitpun?"
"Ga pernah, Ma. Kalaupun Papa tahu pasti Papa bakal kabarin Mama"
Dira mendengus kesal karena ia tidak bisa memecahkan rasa penasarannya. Tristan hanya bisa memeluk istrinya, mencoba menenangkan pikiran istrinya.
***
Amsterdam, November 1996
"Bang Tristan!"
Tristan menatap ke suara memanggilnya. Tanpa ragu, Tristan menghampirinya sambil membuka lebar kedua tangannya. Langsung memeluk si pemilik suara begitu mereka sudah berhadapan.
"Gimana kabar kamu?", tanya Tristan setelah puas memeluk Thomas, adik kelasnya saat dia berkuliah di Bandung.
"Baik, Bang. Abang juga baik-baik saja kan?"
"Tentu. Jona, Mikha, Steven, ayo salim dulu ke temen Papa"
Thomas yang melihat ketiga anak laki-laki dihadapannya takjub. Terakhir ia bertemu ketiganya, mereka masih sangat kecil, terutama si kembar.
"Bang, ini Jona? Yang suka abang bawa ke kampus?", tanya Thomas. Tristan pun mengangguk.
"Halo, Jona. Kamu sudah besar ya. Masih inget om, tidak?". Jona yang diberi pertanyaan hanya menggeleng kecil. Lalu menatap ke arah Tristan.
"Dulu, Om Thomas ini suka bantuin Papa jagain kamu". Jona pun mengangguk lalu tersenyum kepada Thomas.
"Kalau yang ini, si kembar samudra itu ya? Astaga, terakhir saya melihatnya waktu mereka masih bayi. Sekarang sudah bisa jalan!", kagum Thomas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooms in Autumn
FanfictionKarena setiap bunga akan mekar pada musimnya masing-masing... Cast : Oh My Girl's Arin as Arin NCT's Mark as Mark Park Jihoon as Jeremy
