XVI

88 14 16
                                        

Welcome! Happy reading :D

***

Dayana melihat jam di dinding kamarnya, pukul 07.50. Sejujurnya ia masih mengantuk, tapi hari ini ada kuliah pukul 09.00. Dayana mengingat pembicaraannya dengan Jeremy semalam. Padahal Dayana sudah menegaskan bahwa cerita harus selesai sebelum berganti hari. Tapi nyatanya pembicaraan mereka baru berakhir pada pukul 02.00 malam. Dayana tidak bisa menyalahkan Jeremy, karena semalam Dayana banyak memberikan pertanyaan pada Jeremy.

"Rem... kamu lagi ga bohong kan?"

"Perlu aku ajak kamu ke makam mama dan nenek aku biar kamu percaya?"

"Tapi kenapa mesti sampai... sampai serumit itu Remy?"

"Aku udah janji bakal ngikutin permintaan Kakek aku, Day. Dan salah satu permintaan itu adalah aku harus meninggalkan kehidupan lama aku"

"Tapi kan! Tapi kan itu semua bisa dibatalin! Toh Nenek sama Mama kamu juga meninggal! EH... sorry sorry, maksudku bukan gitu... tapi.."

"Gapapa, Day. Tapi aku udah terlanjur untuk turut sama permintaannya. Karena aku tahu kalau aku ga menuruti permintaannya, bakal ada masalah lain yang harus aku tanggung. Saat itu, aku ga bisa cerita ke siapa-siapa Day. Aku benar-benar bingung. Jadi karena itu, aku ikhlas dengan segala permintaannya"

"Terus... terus kenapa sekarang kamu mau ketemu Arin lagi?"

"Karena... saat aku ketemu Arin di minimarket, aku rasa aku perlu minta maaf ke Arin dan memperbaiki hubungan aku ke Arin. Please Day, tolong bantuin aku buat ketemu Arin"

Dayana menghela napas. Semua pertanyaan tentang hilangnya Jeremy 5 tahun yang lalu terjawab sudah. Ternyata ada banyak pengorbanan yang dilakukan Jeremy untuk keluarganya. Sejujurnya, semalam Dayana berusaha menahan tangisnya. Sebenci apapun dirinya pada Jeremy, ternyata dia masih mengganggap Jeremy teman baiknya. Ada perasaan sakit di hatinya begitu tahu pengorbanan Jeremy selama ini. Tapi, Dayana tetap menyalahkan Jeremy. Setidaknya, Arin tidak perlu tersakiti jika saja Jeremy mau menceritakan alasan kepergiannya pada Arin.

Dayana pun meraih handphonenya yang berada di nakas. Menghubungi Arin. Dia sudah berjanji pada Jeremy bahwa dia akan mempertemukan Arin dengannya.

"Halo, Day?"

"Rin, hari ini ada kesibukan ga?"

"Paling balikin buku ke perpus abis kuliah. Kenapa Day?"

"Ada yang mau aku ceritain ke kamu. Tapi berdua aja. Bisa?"

"Emang kenapa? Nanti kalau Yovit tahu kita ngobrol berdua, pasti dia marah"

"Nanti aku bakal ceritain ke Yovit, setelah aku cerita ke kamu. Bisa kan Rin?"

"Hmmm... ada apa sih, Day? Kok nadanya serius banget?"

"Nanti bakal aku ceritain kok. Udah dulu ya, Rin. Aku mau siap-siap dulu. Bye!!"

Dayana pun langsung memutus sambungannya dengan Arin. Sekarang dirinya menghubungi Jeremy. Semalam mereka bertukar nomor telepon untuk saling menghubungi.

"Halo, Day?"

"Arin hari ini bisa. Mau ketemu di mana?"

"Kalau di cafe kamu?"

"Jangan. Tempat lain aja. Kalau bisa yang jauh dari kampus"

"Aku lagi ga bisa jauh-jauh dari kawasan kampus, Day"

"Ya udah, yang jauh dari kawasan faperta deh. Aku ga tega kalau Arin keliatan nangis sama temen-temen kampus. Nanti takut ada yang nanya-nanya"

"Loh emangnya kenapa nangis?"

Blooms in AutumnCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang