VI

84 18 1
                                        

Arin membuka handphonenya, mencari minimarket terdekat di sekitarnya. Panasnya kota ini membuat Arin haus. Setelah menemukannya, yang jaraknya hanya 250 meter dari kantor polisi, Arin melangkah menuju minimarket. Sesampainya di depan mini market, pesan dari Dayana membuat Arin memfokuskan diri pada handphonenya hingga ia masuk ke dalam mini market. Ia tidak menyadari bahwa dari sejak ia membuka pintu mini market, ada seseorang yang menatapnya

Arin pun berdiri di depan kulkas, mencari minuman favoritnya. Telepon dari Dayana pun kembali mengalihkannya.

"Iya?"

"Seriusan kamu sampe bikin surat kehilangan?"

"Iya, Day. Aku males minta sama dia"

"Ganteng ga, Rin?"

"Gimana?"

"Ihhhh, ganteng ga si Mark-Mark itu?"

Arin pun refleks tertawa. Ganteng dari mana? Nyebelin iya!

Sambil terus berbicara dengan Dayana, Arin pun menuju kasir, membayar minumannya. Setelah transaksi selesai, Arin pun keluar, masih mengobrol dengan Dayana.

"Ya udah kamu ke sini aja! Aku mau cari sepatu nih"

"Wah boleh tuh boleh"

"Arin...."

Sebuah suara yang memanggil namanya, menghentikan perbincangannya dengan Dayana. Arin refleks menoleh ke arah suara. Seketika dia terdiam. Meragukan sosok yang barusan memanggil namanya. Meragukan, apakah benar, sosok laki-laki yang berdiri di depannya ini, adalah... cinta pertamanya.

"Re... my...?", ragu Arin.

Sambungan telepon masih terhubung dengan Dayana. Mendengar sahabatnya menyebutkan sebuah nama, yang pernah membuat sahabatnya dilanda sakit, Dayana terdiam. Dayana meragukan, apakah nama yang disebutkan tadi adalah benar Remy, Jeremy Hadinata, teman sekelasnya saat SMP, sekaligus cinta pertama sahabatnya itu? Sambungan kemudian terputus, membuat Dayana menjadi khawatir. Tidak boleh, Arin tidak boleh bertemu dengan Jeremy! Tanpa pikir panjang, Dayana, yang masih berpakaian santai ala anak rumahan di hari minggu, langsung mengambil kunci mobilnya.

***

"Re... my...?"

Ah... nama itu. Nama panggilan yang sudah lama tidak pernah Jeremy dengar. Suara yang memanggilnya pun adalah suara yang sangat ia rindukan. Jeremy menatap kedua mata Arin. Ah.. sudah lama sekali ia tidak menatap matanya.

"Iya... aku... Remy", jawab Jeremy terbata. Rasanya, sulit sekali untuk menyebut nama kecilnya itu. Nama yang hanya digunakan sang Mama, Nenek, Kakek, dan Arin untuk memanggilnya. Selebihnya, semua orang memanggilnya Jeremy.

"Ah... aku duluan ya. Aku... aku mau pulang. Dadah", pamit Arin yang langsung bersiap melangkah. Tapi tangannya tertahan oleh Jeremy.

"Kamu... baik-baik saja, kan?"

Jeremy menatapnya. Tampak Arin sedang menunduk, berusaha untuk tidak melihat dirinya.

"Aku... harus pergi", pamit Arin, melepas paksa tangan Jeremy yang menahannya, lalu langsung berlari. Jeremy menatap kepergian Arin. Ada perasaan sedih yang menimpanya. Tapi, ia harus menerimanya. Ini adalah resiko atas perbuatannya lima tahun yang lalu. Di mana, ia harus melepaskan Arin, cinta pertamanya. Jeremy menghela napas, kembali ke tempatnya. Ia mengambil handphonenya, 3 panggilan tidak terjawab dari Andreas terpampang di layar. Jeremy pun menelponnya.

"Tuan? Saya sudah dalam perjalanan ke tempat anda! Tolong jangan pergi kemana-mana"

"Kamu tahu dari mana?"

Blooms in AutumnCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang